Oleh: H. Syahrir, SE, M.IPol •Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat •Ketua Ketua Dewan Pembina Gerakan Literasi Nasional (GLN) Gareulis Provinsi Jawa Barat
posBEKASI.com : “Ibu… terima kasih telah melahirkanku. Ibu… terima kasih telah menjadi sumber kekuatan dan inspirasi dalam hidupku“.
Dua ucapan di atas mewakili perjalanan kehidupan kita mulai terlahir ke dunia hingga detik ini karena kasih sayang sang ibu.
Hari Ibu adalah hari kebangkitan perempuan Indonesia dan merupakan persatuan dan kesatuan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan dan perjuangan bangsa. Kaum perempuan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna hasil pembangunan, namun juga ikut berperan melaksanakan dan berpartisipasi di segenap aspek pembangunan nasional.
Hari Ibu oleh bangsa Indonesia diperingati tidak hanya untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan istri maupun sebagai warga negara, warga masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai pejuang dalam merebut, menegakan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional.
Sejarah
22 Desember merupakan Hari Ibu, yang di bangun oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden (Kepres) No. 316 tahun 1959. Hari Ibu ini dimaksudkan untuk mengenang semangat dan perjuangan kaum perempuan Indonesia dalam upaya mencapai kemerdekaan dan memperbaiki kehidupan bangsa.
Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran yang kini merupakan Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta.
Kongres Perempuan Indonesia ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra.
Perlu diketahui, sebelum Kepres No. 316 tahun 1959, organisasi wanita di Indonesia telah ada sejak tahun 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan lain sebagainya.
Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.
Fondasi dan Literasi Baru
Semangat untuk maju menjadikan Hari Ibu ke-95 tahun 2024 ini dengan tema “Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045”, menjadi peringatan yang spesial bagi perempuan Indonesia sebagai pilar bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara untuk mendobrak tantangan dan kesulitan agar dapat bangkit dan terus maju menatap masa depan yang lebih baik.
Hari ini Pemerintah Indonesia terus memperkuat peran penting perempuan dalam mewujudkan masa depan bangsa di semua sektor seperti di dalam Asta Cita je-4 Presiden Prabowo Subianto, untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Asta Cita memberikan akses yang setara dalam pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan politik, membangun fondasi yang kokoh untuk Indonesia yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing global.
Ibu, merupakan guru pertama yang memberikan literasi, mengenalkan dan mengajarkan anak mengenal kehidupan, pendidikan, dan dunia, hingga Ibu “Bunda Literasi” meliterasi dini kemampuan anak sebagai generasi sebagai dasar literasi membaca dan menulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan.
Peran penting Ibu pada anak sejak usia dini membentuk kemampuan literasi awal yang merupakan pengetahuan, sikap dan keterampilan, membaca dan menulis sebelum menguasai kemampuan formal pada usia sekolah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua dalam meningkatkan literasi membaca yaitu orang tua melaksanakan peran ganda sebagai orang tua sekaligus menjadi guru di rumah, memberikan motivasi kepada anak, mengarahkan anak sesuai dengan bakat dan minatnya, serta menyediakan sarana dan prasarana kepada anak.
Karena itu pula, bahasa Ibu menjadi fondasi literasi anak. Fondasi literasi anak ini terus di asah dan di tingkatkan ke jenjang pendidikan atau sekolah agar kemampuan anak menjadi Generasi Emas yang pada abad ke-21 atau era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 muncul paradigma literasi baru.
Tantangan pada era ini sangat kompleks yang mengharuskan masyarakat mengimplementasikan literasi baru (literasi data, literasi teknologi, literasi manusia) yang menjadi pelengkap literasi lama (membaca, menulis, berhitung).
Menjawab tantangan literasi baru pada era ini dibutuhkan keterampilan yang sangat kompleks, mulai dari semua guru, dosen, dan akademisi, diharuskan dapat mewujudkan hal itu dalam rangka menggapai peradaban literasi baru menyambut masa depan cemerlang Generasi Emas.**

