Bekasi Online

Ketika Cellica Nurrachadiana Terenyuh

Bupati Karawang dr.Hj.Cellica Nurrachadiana.[FB]
POSBEKASI.COM – Sebagai Bupati yang menyandang gelar dokter, tentu tidak mudah untuk menulis. Sekalipun menuangkan pengalaman pribadi, hal ini tidaklah mudah dilakukan bagi orang yang jarang atau tidak terbiasa menulis.

Disela-sela kesibukannya memimpin Rakyat Kabupaten Karawang, dr.Cellica Nurrachadiana masih sempat menuangkan pengalamannya lewat tulisan tentang seorang Nenek penyandang tuna wisma yang pernah ditolongnya.

Meski pengalaman tersebut bukan di daerah yang di pimpinnya, setidaknya pengalaman berharga tersebut patut diapresiasi dan menjadi dorongan bagi orang muda, khususnya generasi millennial Karawang.

KLIK : Bupati Cantik Ini Rela Nginap di Rutilahu

Betapa tidak, seorang bupati sekaligus istri dan ibu dari dua anak ini tentu memiliki kesibukan yang luar biasa, namun masih sempat menorehkan kata demi kata hingga menjadi rangkaian bait.

Dari penelusuran posbekasi.com, penerima Rekor Muri “Wakil Bupati Perempuan Termuda se-Indonesia”, ini masih sempat menuangkan tulisan di akun facebooknya “Cellica Nurrachadiana”, kemaren, mendapat like lebih dari 1200 netizen. Sayangnya, Teh Cellica tidak menyertakan foto pengalamannya tersebut.

KLIK : Teh Cellica Doakan Semua Pelajar SMA Karawang Melanjutkan ke Perguruan Tinggi

Posbekasi.com menilai, tulisan Teh Cellica di bawah ini patut diapresiasi sebagai bentuk dorogan kreatif bagi generasi millennial, dan lebih dari itu sebagai cermin kepedulian menolong sesama tanpa memandang “kasta”.

Berikut tulisan Cellica Nurrachadiana tanpa pengubahan dari redaksi:

Saya sudah beberapa kali melakukan pertolongan bagi para penyandang tuna wisma di berbagai tempat di Karawang. Terutama mereka yang mengidap gangguan jiwa.

Saya pernah ikut terjun langsung melakukan tindakan dan razia. Saya ikut berada di jalanan menangani mereka. Tuna wisma yang berhasil kami dapatkan, segera dititipkan di yayasan guna mendapatkan perawatan.

Namun baru kemarin lah, saya benar2 merasa sangat terenyuh. Namun kali ini, bukan di Karawang, tapi di Cirebon. Berbekal pengalaman saat melakukan penanganan tuna wisma di jalanan Karawang, saya dipertemukan dengan nenek Nia di sebuah sudut jalan.

Yang membuat nenek Nia berbeda dengan tuna wisma lain yang pernah kami tangani ialah dari segi usia. Kondisinya lusuh, tak berbusana, dengan barang rongsok yang selalu ia bawa. Nenek Nia sudah merenta. Ia nampak lelah sekali. Nenek itu hanya duduk termangu di trotoar jalan.

Karena nenek ini tak berbusana, baju batik yang ada di mobil segera saya ambil untuk menutupi tubuh nenek Nia. Awalnya, ia seperti ketakutan saat hendak saya datangi. Namun saat diajak bicara, ia masih memahami. Ia mengerti maksud kedatangan saya bukan untuk menyakitinya.

Ia pun tak nampak risau lagi, saat saya mendekapnya untuk mengenakan pakaian. Saya perkenalkan diri, saya tanya-tanya seputar diri nenek Nia. Rupanya, ia masih nyambung diajak ngobrol.

Ia bercerita, bahwa dirinya banyak kehilangan hal berharga dalam hidupnya. Nenek Nia kini hanya hidup sebatang kara, tak punya satu keluarga pun. Saya hanya diam mendengarkan. Sembari sekali-kali mengajaknya bergurau.

Usai mendengarkan cerita nenek Nia, giliran saya menyampaikan bahwa nenek sebaiknya tidak berada di jalan. Karena selain tidak nyaman juga berbahaya. Saya lantas menawarkan agar nenek Nia tinggal di Yayasan untuk mendapatkan penanganan dan perawatan yang lebih baik.

Segera saya hubungi Pj Bupati Cirebon agar nenek Nia bisa dititipkan sementara ketimbang berada di jalanan. Alhamdulillah, nenek kini sudah berada di tempat yang nyaman dan aman. Sembari menunggu, penanganan lebih lanjut di yayasan Cibuaya yang khusus menangani tuna wisma pengidap gangguan jiwa.

Nenek Nia dan banyak tuna wisma lainnya di jalanan adalah cerminan. Bahwa sekecil apapun kepedulian kita, mungkin bisa menyelamatkan hidup mereka yang tidak seberuntung kita.

Wilujeng istirahat.

[Cellica Nurrachadiana]

BEKASI TOP