
JAKARTA, POSBEKASI.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2026 mencapai 7,24 juta orang. Angka ini setara dengan 4,68 persen dari total angkatan kerja yang berjumlah 154,91 juta orang, menunjukkan penurunan absolut sebesar 0,035 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Sementara penduduk dengan status bekerja pada Februari 2026 tercatat sebesar 147,67 juta orang,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dikutip dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Penyerapan tenaga kerja nasional saat ini masih terkonsentrasi pada tiga sektor utama, yakni pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri, yang secara total menyerap 60,29 persen pekerja. Selain itu, komposisi pekerja formal mengalami peningkatan menjadi 59,93 juta orang, sementara pekerja informal juga naik menjadi 87,74 juta orang.
“BPS mencatat, Februari 2026, proporsi pekerja penuh sebesar 66,77 persen, pekerja paruh waktu 25,97 persen, dan setengah pengangguran 7,27 persen. Proporsi pekerja penuh pada Februari 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan Februari 2025,” ujar Amalia.
Bersamaan dengan data ketenagakerjaan, BPS merilis hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang menunjukkan jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 284,67 juta jiwa. Menariknya, struktur demografi saat ini didominasi oleh generasi muda, di mana sekitar 68,92 persen penduduk berasal dari kelompok Gen-Z, Milenial, dan Post-Gen Z.
“BPS melaporkan jumlah penduduk Indonesia berdasarkan SUPAS 2025 mencapai 284,67 juta jiwa. Dari jumlah itu 55,65 persen di antaranya berada di Pulau Jawa,” ungkap Amalia.
Meski jumlah penduduk meningkat, laju pertumbuhan penduduk tercatat melambat menjadi 1,08 persen per tahun. Namun, tantangan muncul pada rasio ketergantungan yang naik menjadi 45,05, yang berarti beban penduduk usia produktif untuk menanggung penduduk usia nonproduktif semakin meningkat dibandingkan data tahun 2020.
“Rasio ketergantungan penduduk berdasarkan hasil SUPAS 2025 mencapai 45,05, yang artinya setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung 45 penduduk usia nonproduktif. Angka ini naik dari 44,33 pada pendataan LF SP2020,” terangnya.
Di sisi kesehatan reproduksi, Angka Kelahiran Total (TFR) mengalami penurunan menjadi 2,13. Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya angka kelahiran pada kelompok perempuan usia muda, sementara kualitas kesehatan bayi menunjukkan perbaikan dengan tren penurunan Angka Kematian Bayi (IMR).
“Penurunan TFR ini utamanya didorong oleh penurunan angka kelahiran pada perempuan kelompok umur 15-19 tahun dan 20-24 tahun yang cukup signifikan. Sementara itu, angka kematian bayi menunjukkan tren menurun dari waktu ke waktu,” pungkas Amalia. [met]

