Posbekasi.com

Tragedi Karawang Terendam Banjir, Ribuan Rumah Tenggelam hingga Nyawa Melayang

Banjir merendam 15 desa dan kelurahan di 7 kecamatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, akibat jebolnya tanggul sungai di Desa Muara, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, pada Ahad (1/2/2026). Posbekasi.com / BPBD Kabupaten Karawang.

POSBEKASI.COM | KARAWANG – Banjir besar akibat jebolnya tanggul sungai di Desa Muara, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, kini memasuki pekan kedua. Hingga Senin (2/2/2026), ribuan warga masih bertahan di pengungsian sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau penanganan darurat di lapangan.

“Hingga Ahad (1/2), banjir Karawang masih merendam 15 desa dan kelurahan di tujuh kecamatan dengan ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 150 sentimeter,” papar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Senin (2/2/2026).

Data terbaru menunjukkan dampak luapan air yang meluas telah merendam sedikitnya 3.322 unit rumah. Sebanyak 11.924 jiwa dari 3.964 Kepala Keluarga (KK) terdampak secara langsung oleh bencana hidrometeorologi basah ini, yang telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut.

“Jumlah pengungsi, baik mandiri maupun terpusat, tercatat sebanyak 3.368 jiwa. BPBD Karawang terus melakukan penanganan darurat serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak,” ujar Muhari.

Selain banjir di Karawang, BNPB juga menyoroti peristiwa tanah longsor yang terjadi di wilayah Jawa Barat lainnya. Insiden tersebut mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan bangunan yang cukup parah, menambah daftar panjang titik bencana yang harus ditangani secara bersamaan.

“Akibat peristiwa tersebut dua jiwa meninggal dunia setelah satu unit rumah kontrakan tertimpa material longsoran. Selain satu unit rumah mengalami rusak berat, tujuh unit rumah lainnya terancam karena berada di area rawan longsor,” lanjutnya.

Merespons kondisi cuaca ekstrem ini, BNPB meminta warga yang tinggal di daerah aliran sungai dan perbukitan untuk tetap waspada. Masyarakat diminta aktif memantau kanal informasi resmi guna mendapatkan peringatan dini jika terjadi kenaikan muka air atau potensi hujan lebat kembali mengguyur.

“Masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran air, serta menyiapkan kebutuhan darurat seperti dokumen penting, obat-obatan, dan perlengkapan evakuasi. Kewaspadaan perlu ditingkatkan apabila terjadi hujan lebat berkepanjangan,” tegas Muhari.

Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah daerah diharapkan melakukan audit terhadap infrastruktur pengendali banjir, seperti tanggul dan sistem drainase. Koordinasi lintas sektor serta kesiapsiagaan di tingkat publik menjadi benteng utama dalam meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa.

“Edukasi publik, simulasi kesiapsiagaan, dan respons cepat saat kondisi darurat menjadi kunci dalam melindungi warga dan mengurangi dampak bencana,” pungkasnya. [din]

BEKASI TOP