
POSBEKASI.COM | BEKASI – Selepas Maghrib-Isya, di rumah saya ramai, mirip-mirip TPA, bedanya di rumah pesertanya hanya 3 orang: Shifr, Ghazi dan Aia. Gurunya ya ibunya anak-anak @ummualila
Putri pertama saya, sudah masuk pesantren, biasanya malah 4 orang anak langsung dibimbing sama ibunya. Sementara saya punya privilege, diatas di depan laptop
Kadang diselingi nada tinggi atau teriakan, mengarahkan anak-anak yang sering tak serius dalam melafadzkan dan menghafalkan Al-Qur’an. Juga ada candaan dan pastinya kehangatan
Saya dan @ummualila dibesarkan jauh dari Al-Qur’an, terutama saya. Karena itu kita ingin memperbaiki, anak-anak paling tidak dikenalkan, dibiasakan dengan Al-Qur’an sejak awal
Berbagi tentang Islam bagi saya biasa, forum kecil dan besar sudah pernah saya jalani, tapi entah kenapa, bagi saya mengajar anak-anak itu jauh lebih sulit, perlu sabar tingkat legend
Disitu saya merasa, wanita memang punya apa yang nggak akan pernah dimiliki lelaki, sepintar dan secerdas apapun lelaki. Dan saya makin paham, kenapa ibu itu madrasah pertama dan utama
Saya tersenyum lalu berpikir, pantas saja Allah tidak karuniakan rahim pada lelaki. Kalau iya, mungkin peradaban manusia sudah lama musnah, sebab lelaki nggak punya kesabaran seperti itu
Di titik itu saya selalu bersyukur, mengulang kembali masa lalu, berkali-kali mengucap hamdalah, “Untung dulu saya menikahi bukan hanya istri, tapi ibu bagi anak-anak”. Begitu
Karena wanita yang playfull, memang enak diajak main. Tapi wanita yang dinikahi? Perlu karakteristik lain, yaitu keibuan. Dan mungkin yang keibuan itu tak terlalu asyik dimata play-boy
Cuma mau ngasitau yang masih sendiri, baik lelaki atau wanita. Ketika satu hari nanti, investasi orangtua pada anak itu bakal jadi salah satu hal terpenting dalam hidup kita
Kenapa nggak nyiapin dari sekarang?
Felix Siauw

