Bekasi Online

Kesaksian Sarjana Jebolan STIE Adhy Niaga, “Berkat Pak Adhy Firdaus Saya Bisa Bangun Pabrik Abon Ikan Tuna”

Subgyo bersama karyawannya di perusahaan Abon Ikan Tuna yang didirikannya.[IST]
BEKASI, POSBEKASI.COM – Seorang alumni STIE Adhy Niaga yang didirikan calon Wakil Walikota Bekasi Adhy Firdaus, merasa bangga menjadi salah seorang jebolan dari Kampus STIE Adhy Niaga yang belokasi di pusat Kota Bekasi.

Subagyo, kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 20 Desember 1987, merupakan alumni S1 Ekonomi STIE Adhy Niaga, yang dinyatakan lulus tahun 2010-2011, kini menjadi pengusaha sukses di bidang perikanan sejak 2017.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah STIE Adhy Niaga, Subagyo langsung diterima di Perusahaan Bakrie Microfinance sebagi SPV Internal Audit (2011-2013).

Kemudian, Subagyo mendapat kepercayaan sebagai Regional Manager Quality Assurance PT. Bina Artha Ventura di Jawa Tengah – DI Yogya sejak tahun 2013 – 2016.

Selepas itu, Subagyo kembali ke kampung halamannya dan menjadi pengusaha Abon Ikan Tuna sejak 2017 sampai sekarang.

KLIK : Adhy Firdaus Tantang KPU Tunjukan Ijazah Asli Paslon Walikota Bekasi

“Saya telah menciptakan karya membuat pabrik abon ikan tuna di Banjarnegara dengan memberdayakan masyarakat desa untuk menguatkan perekonomian,” kata Subagyo dalam keterangannya persnya yang diterima Posbekasi.com, Jumat 15 Juni 2018 dinihari.

Diakuinya, ilmu yang ditimbanya di STIE Adhy Niaga menjdikn dirinya lebih percaya diri dan membuktikannya bisa menjadi pengusaha.

“System marketing, ekonomi kerakyatan dengan menjadikan rakyat sebagai distributor langsung di setiap daerah dan memiliki karyawan. Distributor adalah rakyat biasa yang saya ajarkan cara menjadi orang sukses dengan pencapaian target bagi karyawan yang menjual produk abon. Sehingga rakyat mebjadi pengusaha. Para pekerja adalah masyarakat desa yang pendidikan minim. Ini semua berkat ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di STIE Adhy Niaga,” ungkpanya.

Subagyo saat mengdvokasi anak usia 1 tahun karena jantung bocor dari Kelurahan Jakamulya, Bekasi Selatan, pada tahun 2010.[IST]
Tentu saja, sebelum terjun menjadi pengusaha dan selepas kuliah diperlukan pengalaman dengan mengekselrsikan ilmu di perkulian.

“Karena ijazah Sarjana Ekonomi yang saya dapatkan dari STIE Adhy Niaga, saya telah bekerja dua tahun membangun Grameen Bank di Jawa Barat bersama Bakrie Mikrofinance untuk program pengentasan kemiskinan masyarakat,” cetusnya.

Sedangkan pada tahun 2013, Subgyo diminta oleh perusahaan Bina Artha untuk membangun Grameen Bank di Jawa Tengah dalam upaya menciptakan 1  juta pengusaha yang menjadi mitra Bina Artha yang kemudian melebar ke DI Yogyakarta (2013-2016).

KLIK : Dugaan Ijazah SMA Palsu Akan Berimbas Ke Ijazah Sarjana dan Doktor Rahmat Effendi

“Tahun 2016 akhir, saya berfikir bahwa dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia bukanlah dengan cara memberikan kebutuhan yang cukup dalam 1-3 bulan kedepan, seperti BLT dan program pemerintah lainnya. Namun, mengetahui pangkal kecerdasan sebagai sumber orang miskin dapat terlepas dari kemiskinannya dengan melihat Jepang yang menjadi negara Adidaya yang sangat maju, saya menemukan letak pangkal orang Jepang cerdas, yaitu dengan konsumsi ikan, akhirnya saya membangun pabrik abon ikan tuna di Banjarnegara pada tahun 2016-2017,” terangnya.

Tujuan menciptakan abon ikan lanjut Subgyo, untuk menuju generasi Indonesia yang cerdas. Generasi balita dan anak yang mengkonsumsi ikan akan mendapatkan Omega 3 yang terkandung pada ikan dan merangsang kecerdasan pada anak.

“Saya tidak dapat melupakan, bahwa saya dapat berfikir dan bertindak solusi ekonomi bagi problematika masyarakat kecil Indonesia karena saya mendapatkan beasiswa kuliah dengan pengajaran dengan mutu yang berkualitas dalam perkuliahan di STIE Adhy Niaga,” ujar Subgyo.

KLIK : Ketua PA 212 Kota Bekasi: Jangan Pilih Pemimpin Dari Penista Agama!

Saat kuliah di STIE Adhy Niaga, Subgyo pernah melakukan Advokasi anak usia 1 tahun karena jantung bocor dari Kelurahan Jakamulya, Bekasi Selatan, di tahun 2010 dengan biaya operasi sampai Rp160 juta yang akhirnya dibiayai oleh pemerintah.

“Sampai sekarang anaknya masih hidup dan sudah sekolah di SD. Semangat mengadvoksi anak ini tak lain karena dorongan kampus, dimana Pak Adhy Firdaus begitu peduli dengan kemanusiaan,” ungkpnya.

Berkat dorongan STIE Adhy Niaga kta Subgyo, dirinya mampu bersaing dengan para Sarjana lulusan dari universitas besar yang ada di Indonesia.

Menurutnya, tempat kecil ataupun besar (universitas) bukanlah menjadi soal, namun kualitas program kegiatan belajar mengajar dalam perkuliahan itu yang menentukan.

“Saya sanggat bangga menjadi Alumni STIE Adhy Niaga. Tapi sangat saya sayangkan Kampus tercinta dan sebaik Adhy Niaga ini ditutup dengan alasan yang fisik, tempat dan analisa yang sangat tidak mendasar. Karena banyak orang yang tidak mampu di negeri ini yang tidak memiliki nasib baik seperti saya dengan kuliah mendapat beasiswa gratis dari pemberian dan kebaikan Bapak Adhy Firdaus,” ucapnya sedih, namun bangga bisa mengenal sosok Adhy Firdaus yang begitu peduli pada dunia pendidikan dan kemanusiaan.[POB1]

BEKASI TOP