Posbekasi.com

Idul Adha 1447 H: Mengikis Kesenjangan, Membumikan Semangat Berkorban dalam Kebijakan

POSBEKASI.com | Oleh: H. Syahrir SE, M.I.POL.

SETIAP kali Idul Adha tiba, perhatian kita sering kali tertuju pada ritual penyembelihan hewan qurban. Namun, jika kita bedah lebih dalam dari kacamata sosial-ekonomi, momentum Idul Adha 1447 Hijriah ini sebenarnya adalah sebuah manifesto besar tentang bagaimana sebuah tatanan masyarakat seharusnya dibangun: di atas fondasi gotong royong dan pengikisan kesenjangan sosial.

Sebagai bagian dari pengambil kebijakan di Jawa Barat, refleksi perayaan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan sebuah instrumen sosial yang efektif untuk menguji sejauh mana kepekaan kita terhadap realitas di sekitar kita.

Islam secara progresif telah mendesain ibadah qurban sebagai bentuk redistribusi kekayaan yang nyata. Dalam durasi beberapa hari saja, jutaan ton protein hewani bergerak dari kelompok masyarakat yang mampu menuju mereka yang membutuhkan. Ini adalah konsep jaminan sosial yang sangat konkret.

Prinsip esensial dari distribusi ini mengajarkan kita bahwa substansi dari setiap ibadah—maupun setiap kebijakan publik—bukanlah pada formalitas atau seremoninya, melainkan pada dampak nyata dan ketulusan komitmen untuk membawa maslahat bagi masyarakat luas. Hewan qurban yang dipotong adalah simbol dari kerelaan kita untuk mengikis sifat-sifat egois, kikir, dan keserakahan yang sering kali menghambat keadilan sosial.

Menyambut Arah Baru Kesejahteraan Rakyat

Semangat kerelaan berkorban demi tegaknya keadilan sosial kini menemukan relevansinya dalam program-program strategis nasional yang sedang digulirkan oleh Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan publik yang berorientasi langsung pada pemenuhan hak dasar rakyat ini merupakan bentuk nyata dari manifestasi nilai-nilai pengorbanan kolektif di tingkat negara.

Kita melihat bagaimana program *Makan Bergizi Gratis* dijalankan secara masif. Ini bukan sekadar urusan membagikan makanan, melainkan investasi besar negara untuk memutus rantai stunting dan gizi buruk, sekaligus menjadi pemantik ekonomi lokal karena menyerap hasil panen petani dan peternak di daerah.

Selaras dengan itu, perluasan akses pendidikan melalui Sekolah Rakyat di berbagai wilayah memberi ruang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan hak intelektual mereka secara adil. Kehadiran negara diperkuat dari akar rumput melalui pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Koperasi ini diproyeksikan sebagai benteng ekonomi desa, memotong rantai tengkulak, menyediakan akses modal yang murah bagi masyarakat, dan memastikan arus perputaran uang kembali dinikmati oleh rakyat di desa.

Semua program ini menuntut pengorbanan komitmen, anggaran, dan kerja keras bersama agar pelaksanaannya benar-benar tepat sasaran.

Kepemimpinan, Komunikasi, dan Pengorbanan

Narasi besar Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Namun, mari kita lihat kisah tersebut dari sudut pandang ruang publik. Di sana ada pelajaran mahal tentang komunikasi publik dan proses pengambilan keputusan yang inklusif.

Meskipun perintah pengorbanan tersebut datang dari otoritas tertinggi, Nabi Ibrahim tidak mengeksekusinya secara otoriter. Beliau membuka ruang dialog, mendengar, dan meminta pendapat dari putra beliau selaku objek dari keputusan tersebut.

Bagi lembaga legislatif, ini adalah role model dalam merumuskan kebijakan. Ketika menyelaraskan program pusat seperti Makan Bergizi Gratis atau penguatan ekonomi lewat Koperasi Desa di Jawa Barat, setiap regulasi dan fungsi pengawasan yang kami jalankan harus senantiasa melewati proses “mendengar aspirasi rakyat” agar kebijakan tersebut berbuah pada keadilan yang dirasakan bersama.

Menjawab Tantangan Jawa Barat Hari Ini

Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Potensi ekonominya luar biasa, namun tantangan berupa ketimpangan, pengangguran, dan kantong-kantong kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Nilai luhur qurban senantiasa mengaitkan antara rasa syukur atas potensi dan nikmat yang melimpah dengan perintah untuk berkorban bagi sesama.

Bagi kita di Jawa Barat, “berkorban” di era sekarang berarti kerelaan untuk menekan ego sektoral, menurunkan gengsi politik, dan mengalokasikan sumber daya yang kita miliki demi mendukung program yang langsung menyentuh hajat hidup orang banyak—mulai dari gizi anak, sekolah yang layak, hingga kemandirian ekonomi desa.

Catatan Penutup

Idul Adha 1447 H harus kita jadikan momentum untuk menyalakan kembali mesin solidaritas sosial kita. Keberhasilan ibadah ini diukur dari seberapa besar kepedulian yang membekas dalam jiwa kita setelah hari raya berlalu.

Mari kita bawa semangat pengorbanan ini ke dalam kehidupan sehari-hari, ke dalam dunia kerja, dan ke dalam setiap ruang pengambilan keputusan. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H. Semoga semangat ini membawa Jawa Barat menuju gerbang kesejahteraan yang berkeadilan.

 

Penulis adalah Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat.

BEKASI TOP