
Tampak demo topeng teatrikal Novita yang dilakonkan seorang mahasiswi mengikat dan menarik kedua tangan Rayendra yang diperagakan seorang mahasiswa dimaksudkan untuk memberi keberanian pada Panwaslu menyeret Rayendra terkait kasus dugaan ketidak netralan Rayendra sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Dimana setelah memeriksa Rayendra, Panwaslu malah menghentikan kasus yang sempat heboh karena Rayendra gantle akan bertanggungjawab atas dugaan ajakan ASN untuk memilih pasangan calon (paslon) walikota petahana.
Aksi tersebut digelar para mahasiswa KAMMI Kota Bekasi di Kantor Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Bekasi di Jalan Mayor Madmuin Hasibuan, Rabu 28 Maret 2018, menjadi perhatian warga yang tengah melintas di kawasan Mayor Hasibuan.
Massa kecewa dengan Panwaslu karena menghentikan kasus dugaan Rayndera tak netral pada Pilkada Kota Bekasi 208, apalagi Rayendra sebagai pembina ASN di lingkup Pemko Bekasi dinilai terlalu berani bermain politik untuk mengarahkan suara ASN ke paslon Rahmat Effendi-Tri Adhiyanto.
“Kasus Sekda Pemko Bekasi ini beberapa hari lalu telah dihentikan dengan alasan kurang syarat materiel. Padahal jika ingin serius, Panwaslu dapat melakukan investigasi dan menjemput bola,” kata Korlap Aksi, Banter Adis Munandar.
Ketika menjalani pemeriksaan, Rayendra mengaku suara dalam rekaman yang dilaporkan Tim Advokasi paslon nomor urut 2 Nur Supriyanto – Adhy Firdaus adalah benar suaranya.

“Kasus ASN ini sangat serius, petugas pemerintahan tersebut telah mencederai perhelatan Pilkada Kota Bekasi dengan melanggar netralitas ASN seperti diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2014. Dan fatalnya, Panawaslu menghentikan kasus ini yang akan membuat para ASN merasa bebas untuk melanggar,” terang Andis.
Sebagaimana Peraturan Pemerintah No 42 Tahun 2004, ASN dilarang melakukan perbuatan yang mengarah pada keberpihakan terhadap salah satu calon.
Berbagai atribut yang dibawa massa seperti spanduk berukuran besar bertuliskan “#Hukum Sekda”, “Usut Tuntas Kasus ASN”, dan poster berukuran kecil di antaranya “Panwaslu Harus Profesional, ASN Harus Netral”, serta atribut KAMMI dan bendera Merah Putih, ditandai dengan sebagian massa mengikat kepala dan lengan bertulikan “KAMMI”.
Yang menarik perhatian aksi teatrikal, dimana kedua tangan “Rayendra” yang mengenakan pakaian dinas ASN diikat dengan tali kemudian diseret oleh “Novita”. Sedangkan sejumlah demonstran melakukan aksi tidur di jalan.
Hingga massa membubarkan diri secara tertib, selama aksi berlangsung mendapat pengawalan aparat kepolsiian dan juga anggota Satpol PP.[ISH/YAN/POB]

