POSBEKASI.COM | BEKASI KOTA – Serangkaian bencana banjir melanda berbagai wilayah di Jawa Barat dalam kurun waktu sebulan terakhir. Di Kota Bekasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat enam titik di tiga kecamatan terdampak banjir kiriman dari hulu Kali Bekasi pada Kamis (12/2/2026).
“Pada pukul 00.58 WIB, ketinggian air di salah satu titik pemukiman meningkat drastis hingga mencapai 160 cm,” ujar Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Bekasi, Idham Kholid.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah pendataan dampak dan pemenuhan kebutuhan dasar warga. Pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menangani situasi darurat di lapangan.
“BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan penanganan darurat, pendataan, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak,” ujar Abdul Muhari.
Kondisi paling menonjol di Bekasi terjadi di wilayah Kecamatan Bekasi Selatan, Bekasi Timur, dan Bekasi Utara. Salah satu lokasi terdampak parah adalah Kampung Lengkak, di mana air mulai masuk sejak tengah malam dan merangkak naik dengan cepat seiring tingginya kiriman air dari hulu.
“BPBD Kabupaten Bandung juga segera diturunkan untuk melakukan pendataan dan evakuasi. Saat ini akses jalan utama telah dapat dilalui, listrik kembali menyala, dan masyarakat mulai membersihkan sisa banjir,” tambah Muhari merujuk pada situasi di wilayah tetangga.
Selain Bekasi, banjir juga menerjang Kabupaten Bandung, tepatnya di Desa Bojong, Kecamatan Majalaya. Insiden yang terjadi pada Kamis dini hari tersebut berdampak pada 280 KK atau sekitar 600 jiwa, meski dilaporkan air cukup cepat surut sehingga warga dapat segera melakukan pembersihan.
“Upaya pencarian korban masih terus dilakukan dengan melibatkan tim SAR gabungan dari TNI, Polri, Damkar hingga relawan. Selain satu korban hilang, tercatat 10 hektar persawahan warga terdampak luapan sungai,” jelas Abdul Muhari mengenai situasi di Subang.
Situasi lebih kritis dilaporkan dari Kabupaten Subang, di mana luapan Sungai Ciasem merendam pemukiman dan lahan pertanian. Seorang warga Desa Parung dilaporkan hilang terseret arus sejak Rabu (11/2) sore saat pulang dari sawah, dan hingga kini masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
“Kondisi mutakhir luapan air sungai telah surut namun masih meninggalkan sisa lumpur. Dibantu aparat desa, masyarakat melakukan pembersihan material lumpur secara mandiri,” pungkasnya mengenai kondisi di Kuningan.
Terakhir, Kabupaten Kuningan juga melaporkan dampak luapan Sungai Cijurey yang merendam 50 rumah di Desa Cisaat. Meskipun air telah surut pada Kamis pagi, material lumpur yang tebal masih menyelimuti pemukiman warga, memaksa aparat dan masyarakat setempat bekerja ekstra untuk memulihkan kondisi lingkungan. [amh/yan]


