POSBEKASI.com | Oleh : Chryshnanda Dwilaksana
Dalang memainkan wayang sebagai tontonan yang berisi tatanan dan tuntunan. Wayang merupakan refleksi hidup dan kehidupan yang sarat trik intrik bahkan kepentingan yang menghalalkan segala cara.
Tatkala direfleksikan dalam hidup dan kehidupan yang mengkhianati keutamaan, dalang menjadi predator yang memakan wayang. Pembodohan, pembiaran, sikap masa bodoh dan mencari senang sendiri serta memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tak lagi punya rasa malu, analoginya lupa bercelana sekalipun sudah lengkap jas kopiahnya.
Politik semestinya cerdas yang waras yang anti pekok malah sebaliknya terjadi.
Masih ingat dialog alm Enthus Susmono dengan Sinden Megan dari Amerika? Enthus sebagai dalang mengatakan, “kalau bahasa khas daerah di mana ia sedang mendalang saat itu adalah ” pekok “.
Megan sebagai sinden dari Amerika bertanya : apa arti kata pekok itu pak dalang? Enthus dengan spontan menjawab; “cerdas”.
Semua penonton sontak tertawa terbahak bahak. Megan kembali bertanya; kenapa mereka pada tertawa pak dalang?. Enthus menjawab; “karena mereka cerdas cerdas”.
Megan menjawab; “Wah pak dalang pekok sekali”.
Kisah ini mengingatkan pada lukisan Fransisco de Goya tentang keluarga kerajaan yang berjudul “Charles V Family”. Lukisan cat minyak di atas kanvas ukuran 280 x 336 cm yang dilukis dari Mei 1880 sampai Desember 1881. Lukisan itu tersimpan di Musium Del Padro Spanyol.
Fransisko de Goya melukiskan wajah keluarga kerajaan dari raja sampai anak anak bayinya dalam wajah yang tersirat pekok. Lihat juga lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh, yang melukiskan orang orang Belanda yang tidak proporsional, kepalanya sedikit lebih besar. Melambangkan raksasa, sebagai kritik sosial. Sedangkan proporsi Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya sangat presisi.
Karya karya Pak Isa Perkasa yang dipamerkan di Balai Budaya merefleksikan kepekokan dalang yang tidak bisa menjadi tuntunan karena merusak tatanan dan menjadi tontonan yang memamerkan suatu kepekokan.
Tatkala para aparatur menyelenggarakan tugasnya secara profesional akan diwarnai kecerdasan maka kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban terjaga dan terefleksi dalam prosesnya. Sebaliknya, tatkala merefleksikan kecanduan kekuasaan, jabatan, harta, tahta, wanita juga bisa menjadi pekok.
Dalam sumpah biasanya berlandaskan kejujuran, kebenaran dan keadilan. Namun tatkala ditambah i maka yang terjadi disumpahi refleksinya ya pasti kepekokan.
Demokrasi malah dijadikan pembenaran dari berbagai prosesnya sarat tipu tipu dan yang disampaikan kepekokan kepekokan, yang dihembuskan tak lain sebatas kebencian.
Kalau kita ingat kembali kisah raja gila pakaian yang kejam karya HC Anderson. Tatkala ditipu penjahit yang mengaku sakti dan karyanya hanya bisa dilihat oleh orang yang cerdik pandai dan bijaksana maka semua mengamini keindahannya walau tidak melihat apa apa. Sampai sang raja pun dengan bangga pawai dengan telanjang.
Baru setelah ada anak kecil di gendongan ibunya berteriak; “ibu raja kita pekok ya, tidak malu pawai dengan telanjang”. Baru semua tersadar kalau ditipu.
Raja yang pekok biasanya tidak bisa menerima saran. Semua pokok e walau yang mengikuti jadi pekok semua.
Seperti punggawa raja gila pakaian tadi semua memuji muji karena takut tidak kebagian yang tentu saja takut mengingatkan. Ikut pekok pekokan yang penting aman selamat dan kebagian.
Seraut wajah pekok pekokan proses Pemilu tidak bisa lagi mengelabuhi rakyat yang jujur, cerdas dan paham akan kebenaran. Pembenaran prodak post truth dengan hoax nya akan ditentang dengan lantang.
Rakyat sudah cerdas dan berani menunjukan kepekokan yang menyesatkan dan membodoh bodohi agar semua orang ikut mengamini sesuatu yang pekok.
Kaum safety player pasti rela dipekoki dan bangga untuk jadi pekok. Seremonialan, superfisialan tatkala hanya topeng maka sebenarnya saling pekok pekokan yang datang pekok dengan bangga dan membanggakan kepekokan, yang ditunggangi secara pekok dengan menyajikan kepekokan.
Itulah pesan moral yang diteriakkan pak Isa Perkasa melalui karya karyanya yang perkasa dalam karya rupa. Semoga pameran ini menginspirasi untuk tidak pekok dan kembali pada keutamaannya. Semoga.**”


