Posbekasi.com

Banjir Kota Bekasi Tantangan Tata Kota

Jalan Ahmad Yani memotong Jalan Mayor Madnuin Hasibuan dan KH. Noer Alie dilanda banjir luapan air Kalimalang menyapu kawasan inti Kota Bekasi, Selasa 4 Maret 2025. Posbekasi.com / Tangkapan layar

posBEKASI.com | BEKASI – Banjir yang sering terjadi di wilayah Kota Bekasi sudah menjadi langganan dan kerap terjadi saat musim penghujan. Namun, banjir yang terjadi pada Selasa 4 Maret 2025, bertepatan pad 4 Ramadhan 1446 H, banjir Jabodetabek menghentakkan semua orang, Kota Bekasi menjadi terparah karena ketinggian air ada yang mencapai 3 meter.

Penyebab utama banjir ini adalah tata kota yang kurang memadai dan tidak memprioritaskan kelayakan tempat tinggal. Tentunya, ada pemicu yakni curah hujan yang tinggi mulai dari Bogor yang menjadi banjir kiriman.

Menurut pengamatan, banyak perumahan yang dibangun di dekat irigasi atau sungai, padahal tanah pemesanan masih dalam tahap pembangunan. Hal ini meningkatkan risiko banjir dan kerusakan infrastruktur.

Bendungan yang ada di Pintu Air Jl Raya Mayor Hasibuan juga sudah tidak memadai untuk mengatasi banjir. Rumah warga, lingkungan kantor, asrama polres, kajari pengadilan, kodim, dan rumah sakit umum yang berada di bawah Kali Malang sangat rentan terhadap banjir.

Kecamatan Mustikajaya juga memiliki saluran air dari hulu sungai Ciketing Sumur Batu yang menampung air limbah TPA Jakarta dan Bekasi kota. Saluran air ini mengalir ke Sungai Siluman membelah Kelurahan Pedurenan dan Kelurahan Cimuning, melintasi Perumahan Dukuh Zamrud hingga ke Perumahan Mutiara Gading Timur. Jika tidak segera diatasi, banjir akan terus terjadi dan berdampak pada perumahan dan infrastruktur.

Pemerintah daerah harus segera mengambil tindakan untuk mengatasi banjir di Bekasi. Penataan kota, pembangunan infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan harus menjadi prioritas utama.

Masyarakat Bekasi berharap bahwa pemerintah daerah dapat segera mengatasi banjir dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Tantangan dan Solusi

Tantangan tata kota di Bekasi harus segera diatasi. Pemerintah daerah harus memprioritaskan penataan kota, pembangunan infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan.

Solusi yang efektif harus segera ditemukan untuk mengatasi banjir dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Bekasi.

Kalimalang yang merupakan peninggalan penjajah Belanda sepanjang 26 kilometer dari Karawang – Bekasi, untuk saluran air ke Jakarta.

Sepanjang aliran Kalimalang kini berdiri bangunan seperti mall yang dulunya rawa, kini kebanjiran bahkan fasilitas umum turut terendam disapu air yang hampir seluruh Kota Bekasi di selatan “lumpuh”.

Oleh: Parjiman – Tokoh Masyarakat Kota Bekasi

BEKASI TOP