Hoegeng, Spirit Antikorupsi

Hoegeng Iman Santoso

POSBEKASI.COM  – Pada saat ada konflik Polri dengan KPK, munculah isu cicak vs buaya yang menganalogikan Polri sebagai buaya dan KPK adalah cicak. Ini suatu analog kekuasaan atau analog untuk pendekatan kewenangan. Dampaknya menjadi bahan bulan-bulanan, Polri karena solidaritas akan muncul membela yang lemah. “Mokal cecak nguntal boyo” mana mungkin cicak makan buaya.

Mengapa buaya? Padahal buaya dalam joke-joke jawa sebagai simbol badan besar tapi tolol. Dalam ceritera kancil buaya dibodohi dan tidak mampu menangkap kancil. Dasar boyo (dasar buaya) ini untuk ungkapan kejengkelan, makani boyo angop (memberi makan buaya yang menguap), ungkapan busuk pun dianalogikan buaya (dasar abab boyo), buaya darat, air mata buaya, hampir tidak ada analogi yang indah untuk buaya. Di dunia nyatanya buaya cara mencari makannya pun seperti onggokan kayu dan nglimpe (sifat licik dan menjebak) tidak fight adu muka dan menyerang korbannya. Dan buaya memang terkenal kulitnya yang mahal. Ini simbol borju ( lu borju ….muke lu jauh …. Hhhhh salah satu bagian syair satu lagu rap yang pernah terkenal di tingkat nasional).

Akankah ada analogi seperti itu bila Hoegeng sedang menghadapi masalah atau tekanan yang cukup berat dalam memberantas korupsi? Walaupun saya belum pernah mengenal secara pribadi saya kira tidak, beliau simbol polisi bersahaja, idola polisi yang berhati nurani. Ia bukan gila jabatan atau kekuasaan dan yang dipikirkan bukan hanya menang kalah, tetapi mempertahankan dan memperjuangkan integritas dan komitmennya sebagai polisi.

Dalam mengkampanyekan anti korupsi dan menangani masalah-masalah korupsi Polri dapat meneladani dari sikap Hoegeng Iman Santoso. “Bukan kemiskinan yang menyebabkan korupsi tetapi korupsi lah yang menyebabkan kemiskinan”.

Mengapa demikian? Apakah setiap orang yang miskin akan berbuat jahat? Apakah yang jahat hanya orang miskin? Saya kira tidak secara struktural korupsi menyebabkan kemiskinan yang luar biasa dan menyebabkan mereka yang miskin tetap saja miskin karena mereka akan sulit keluar dari kemiskinan. Karena terbatasnya sumberdaya, tidak tersedianya lapangan kerja yang cukup, mereka tidak mampu bersaing karena memang mereka tidak mempunyai kompetensi. Sadar atau tidak mereka memang seperti disudutkan dan terasing dan menjadi budak di negeri sendiri.

Sikap Hoegeng sebagai polisi (pimpinan polri waktu itu) kalau mau melakukan kerjasama dengan kelompok-kelompok ilegal maka ia akan dilimpahi harta kekayaan dan surga dunia. Namun Hoegeng tidak mau, ia memilih jalannya sebagai polisi, yang dihayati dan dibanggakannya sebagai penjaga kehidupan, yang berarti pantang baginya membuka kandang bagi serigala untuk memangsa domba-dombanya. Walau diiming-imingi berbagai kemudahan dan kenikmatan duniawi, ia teguh dalam kesentosaan imannya.

Penghayatan sebagai polisi diyakini pada karya dan manfaatnya bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Makan untuk hidup bukan hidup untuk makan.

Polisi yang mengedepankan kekuasaan dan kekayaan harta duniawinya, saat menjabat merasa sebagai penguasa setengah dewa, di sana senang di sini senang, saat tidak menjabat stress dan kegilaan tiba hingga tega menjual apa saja termasuk harga diri dan kebanggaannya demi bisa menjabat lagi.

Pada lirik jula juli bisa mengingatkan kita bahwa: “dadi polisi iku anane mung winates dadi kawulo tanpo winates”.
Awan-awan ojok mangan nongko
Nongko mono asale babal
Dadi polisi ojo gawe soro
Yen dilawan mengko mancal mancal

Riyoyo gak ngoreng kopi
Ngadep mejo gak nek jajane
Dadi polisi ojok sampek lali
Bareng ra duwe kuwoso umat ayane. [Brigjen Chryshnanda Dwilaksana]

Pin It

Comments are closed.