Posbekasi.com

Bekasi hingga Cirebon Dilanda Kemarau Panjang dan Lebih Kering

Ilustrasi – Bencana kekeringan melanda lahan pertanian. [Posbekasi.com /Dokumentasi]

BANDUNG, POSBEKASI.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi cuaca tahun ini. Sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi akan menghadapi musim kemarau yang jauh lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir.

“Sebanyak 93 persen wilayah di Jawa Barat akan mengalami sifat hujan di bawah normal saat musim kemarau. Artinya, curah hujan bakal lebih rendah sehingga musim kemarau tahun ini lebih kering dibandingkan biasanya,” kata Prakirawan Cuaca Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Vivi Indhira, dikutip dalam keterangan resminya, Kamis (16/4/2026).

Fenomena kemarau ekstrem ini diprediksi melanda kota-kota besar seperti Bandung, Tasikmalaya, Bekasi, hingga Cirebon.

Selain intensitas hujan yang minim, durasi kemarau tahun ini juga diperkirakan akan berlangsung lebih lama di 81 persen wilayah Jawa Barat, terutama di Sukabumi, Karawang, dan Indramayu.

“Selain lebih kering, musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih panjang. Hanya sebagian kecil wilayah yang durasinya normal, sementara di Kota Bogor, hujan cenderung terjadi sepanjang tahun sehingga perbedaan musim tidak tampak jelas,” jelas Vivi.

Terkait waktu dimulainya, BMKG memprediksi 56 persen wilayah Jabar akan memasuki kemarau pada Mei 2026, disusul 30 persen wilayah lainnya pada Juni 2026.

Adapun puncak musim kemarau di Jawa Barat diperkirakan akan terjadi secara serentak pada Agustus 2026 di hampir 90 persen wilayah.

“Sebagian besar wilayah akan mulai memasuki musim kemarau pada Mei, seperti Sumedang dan Tasikmalaya. Puncaknya sendiri diprediksi akan terjadi pada Agustus mendatang,” tambahnya.

Menanggapi ancaman kekeringan ini, BMKG merekomendasikan langkah mitigasi cepat berupa optimalisasi waduk, bendungan, serta percepatan pembangunan embung.

Masyarakat dan pemerintah daerah diminta bersiap menghadapi potensi krisis air bersih serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Antisipasi krisis air bersih dengan penyaluran air dan sumur bor darurat. Kita juga perlu hemat air,” tegas Vivi mengingatkan pentingnya manajemen sumber daya air.

Di sektor pertanian dan kesehatan, petani diimbau untuk segera menyesuaikan kalender tanam dengan beralih ke varietas tahan kering atau palawija.

Sementara itu, masyarakat diminta mewaspadai gangguan kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat debu dan asap saat kemarau mencapai puncaknya.

“Antisipasi peningkatan infeksi saluran pernafasan akut akibat asap. Awasi juga kualitas sanitasi saat pasokan air berkurang agar kesehatan tetap terjaga,” pungkasnya. [amh]

BEKASI TOP