POSBEKASI.com | Oleh: H. Syahrir, SE, M.I.Pol. (Anggota DPRD Jawa Barat, Fraksi Gerindra / Mantan Pembina UMKM Perikanan Provinsi Jawa Barat)
Setiap tanggal 6 April, kita memperingati Hari Nelayan Nasional. Sebuah momentum yang lahir dari akar tradisi syukur masyarakat pesisir sejak era Presiden Sukarno tahun 1960-an. Namun, bagi saya yang pernah tumbuh dan berjuang bersama rekan-rekan nelayan di Jawa Barat, peringatan tahun 2026 ini terasa sangat istimewa. Ada harapan besar yang kini mulai berwujud nyata melalui visi besar Presiden Prabowo Subianto.
Menghapus Beban Masa Lalu: Kebijakan Pemutihan Piutang
Satu langkah fundamental yang menjadi “kado” nyata bagi dunia usaha rakyat adalah ditandatanganinya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2024. Kebijakan ini mengatur tentang Penghapusan Piutang Macet bagi UMKM, termasuk di sektor perikanan dan kelautan.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bentuk pembelaan negara terhadap para pelaku usaha kecil yang selama ini terhimpit beban utang lama yang menghambat akses mereka ke pembiayaan formal.
Latar Belakang: Kebijakan ini lahir dari masukan kelompok tani dan nelayan yang merasa kesulitan mempertahankan keberlanjutan usaha akibat jeratan piutang macet.
Cakupan: Tidak hanya sektor pertanian, penghapusan ini menyasar spesifik pada UMKM Perikanan dan Kelautan, serta sektor industri kreatif lainnya.
Tujuan: Memberikan “napas baru” bagi nelayan agar kembali memiliki akses perbankan dan mandiri secara ekonomi.
Modernisasi: Bukan Sekadar Janji, Tapi Solusi Teknis
Masalah utama nelayan kita bukanlah kemalasan, melainkan ketiadaan infrastruktur pendukung. Program Kampung Nelayan Merah Putih hadir dengan pendekatan end-to-end untuk menjawab tantangan tersebut:
Fasilitas Modern: Pembangunan pabrik es, cold storage, dermaga, hingga panel surya untuk kemandirian energi.
Peningkatan Pendapatan: Data proyek percontohan menunjukkan kenaikan pendapatan hingga 100%. Fasilitas pelelangan yang layak membuat harga jual tidak lagi dipermainkan tengkulak.
Target : Pemerintah menargetkan 1.000 desa nelayan pada akhir 2026 dan 5.000 desa pada 2029.
Koperasi: Jantung Ekonomi Pesisir
Penguatan ekonomi kerakyatan melalui 81.000 koperasi desa adalah kunci.
Dengan dukungan kendaraan operasional (truk pengangkut) dan akses ekspor yang dipermudah, nelayan tidak lagi hanya menjadi objek pasar, melainkan pemain utama dalam rantai pasok global.
Di Jawa Barat, kami di DPRD terus mengawal agar program pusat ini bersinergi dengan kebijakan daerah, menjadikan pesisir utara dan selatan sebagai pelopor nasional.
Makna Hari Nelayan 2026: Solidaritas dan Kedaulatan
Tema Hari Nelayan 2026 berfokus pada Kesejahteraan dan Solidaritas. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum memastikan tiga pilar utama:
1. Perlindungan Nelayan: Kepastian hukum dan keselamatan melaut.
2. Ketahanan Pangan: Menempatkan nelayan sebagai tulang punggung pasokan protein nasional.
3. Kedaulatan Maritim: Memperkuat ekonomi pesisir sebagai cara menjaga wilayah laut kita.
“Memberdayakan 1.000 desa berarti memberdayakan sekitar dua juta nelayan. Jika dihitung dengan keluarganya, ada delapan juta rakyat yang hidupnya akan berubah lebih baik. Kita hapus beban masa lalu mereka, kita bangun masa depan mereka” Presiden Prabowo Subianto.
Masa depan Indonesia ada di laut. Dengan pemutihan piutang macet melalui PP 47/2024 dan pembangunan infrastruktur Kampung Nelayan Merah Putih, pemerintah tidak hanya memberi kail, tapi juga memperbaiki perahunya dan menghapus beban mental nelayan kita.
Selamat Hari Nelayan Nasional 6 April 2026. Nelayan Berdaya, Indonesia Jaya!

