
SANAA, POSBEKASI.com – Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan telah meluncurkan serangkaian rudal ke berbagai target sensitif di Israel pada 8 Juni 2026. Bersamaan dengan serangan tersebut, Houthi juga mendeklarasikan larangan total bagi semua kapal Israel untuk melewati Laut Merah, sebuah langkah yang dikhawatirkan kembali memicu gangguan serius pada jalur pelayaran logistik global.
Pihak Houthi mengklaim bahwa rudal-rudal yang dilepaskan berhasil mengenai sasaran dengan tepat. Di sisi lain, militer Israel (IDF) mengonfirmasi telah mendeteksi adanya ancaman dari arah Yaman dan langsung mengaktifkan sistem pertahanan udara guna mencegat rudal yang menuju wilayah mereka.
Ketegangan maritim ini kembali mencuat setelah sempat mereda dalam beberapa waktu terakhir. Blokade baru yang diterapkan Houthi dipicu oleh serangan udara yang dilancarkan Tel Aviv terhadap sejumlah target militer di wilayah barat dan tengah Iran. Houthi menegaskan sejak deklarasi ini dikeluarkan, setiap kapal terkait Israel yang nekat melintas akan langsung dianggap sebagai sasaran militer yang sah.
Serangan rudal ini menjadi aksi pertama Houthi yang menargetkan Israel secara langsung sejak gencatan senjata dalam konflik regional yang melibatkan Iran mulai berlaku pada 8 April lalu. Langkah agresif Houthi ini memperpanjang catatan gangguan pelayaran di Laut Merah, setelah sebelumnya mereka juga memaksa perusahaan-perusahaan perkapalan internasional memutar arah ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya terjadi di Yaman. Pada 7 Juni 2026, kelompok Hizbullah di Lebanon juga mengerahkan drone untuk menyerang pos militer di Israel utara. Serangan ini merupakan respons setelah jet tempur Israel membom wilayah pinggiran selatan Beirut, yang menurut Kementerian Kesehatan Lebanon menewaskan dua orang dan melukai 20 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Meningkatnya baku tembak dalam beberapa pekan terakhir dinilai para pengamat menjadi tantangan diplomatik yang sangat besar bagi Presiden AS Donald Trump dalam upayanya meredam konflik regional. Houthi dan Hizbullah sendiri merupakan bagian dari “Poros Perlawanan”, aliansi milisi di Timur Tengah yang didukung penuh oleh Iran. [bpk]

