
BANDUNG, POSBEKASI.COM – Ketua DPP Dewan Pembina Literasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) Jawa Barat, H. Syahrir, SE, M.I, POL., menegaskan bahwa literasi merupakan kompetensi hidup paling krusial sekaligus jantung pendidikan berkelanjutan demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Di tengah banjir informasi, literasi bukan lagi sekadar kemahiran membaca-menulis, melainkan instrumen adaptasi terhadap perubahan zaman.
“Literasi adalah instrumen pemberdayaan yang membekali seseorang agar mampu terus belajar (re-learn), meninggalkan cara lama (unlearn), dan beradaptasi dengan perubahan,” tegas Syahrir, Kamis (19/2/2026).
Lebih lanjut Syahrir memaparkan enam pilar strategis sebagai fondasi utama: Literasi Baca-Tulis sebagai gerbang konseptual, Numerasi untuk logika data, Digital sebagai perisai di era AI, Sains untuk berpikir kritis, Finansial demi kemandirian ekonomi, serta Budaya dan Kewargaan sebagai perekat keberagaman bangsa.
“Hal utama yang harus disadari adalah literasi bukan sekadar soal melek huruf, melainkan pembentuk karakter, etika, dan tanggung jawab sosial sebagai warga dunia,” tambah anggota DPRD Jabar ini.
Syahrir menekankan bahwa pendidikan berkelanjutan hanya tercapai jika literasi menjadi denyut nadi di setiap ruang kelas hingga pelosok desa. Menurutnya, literasi adalah investasi jangka panjang yang akan menciptakan masyarakat tangguh, stabil, dan demokratis di tengah ancaman polarisasi.
“Pendidikan berkelanjutan terwujud jika individu memiliki kunci literasi kuat. Kita punya tanggung jawab moral memastikan literasi hadir di setiap sendi kehidupan,” ujarnya. [amh]

