
posBEKASI.com | BANDUNG – Program Kemitraan Masyarakat (PKM) merupakan salah satu upaya bagi Perguruan Tinggi guna memenuhi kewajiban pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Pasal 20, Perguruan Tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam praktiknya, PKM dapat berupa berbagai macam kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat mitra.
Kegiatan tersebut bisa meliputi pelatihan keterampilan, penyuluhan kesehatan, pengembangan usaha kecil, dan berbagai program pemberdayaan lainnya. Setiap kegiatan dirancang untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat serta membantu mereka dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi sehari-hari.
Harapannya, Program Kemitraan Masyarakat ini tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan langsung dari mitra, tetapi juga memiliki relevansi keilmuan dengan program studi (prodi) asal yang menginisiasi program tersebut. Ini berarti, kegiatan yang dilakukan dalam program kemitraan ini diharapkan sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasai oleh prodi, sehingga ada kesinambungan antara ilmu yang diajarkan di kampus dan aplikasinya di lapangan. Sebagai contoh pada kegiatan PKM oleh Prodi Ilmu Hubungan Internasional, pemaparan materi dan praktik dengan mitra akan berkutat pada bagaimana mentranslasikan isu-isu internasional kepada masyarakat.
Dengan adanya relevansi keilmuan ini, Program Kemitraan Masyarakat juga dapat berfungsi sebagai medium bagi program studi untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Para dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam program ini memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan teori yang mereka pelajari di kelas ke dalam situasi nyata. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga memberikan pengalaman praktis yang berharga bagi para akademisi. Transfer ilmu ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan pengetahuan masyarakat, sekaligus memperkuat posisi program studi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berkontribusi langsung kepada masyarakat.
Melalui program kemitraan yang berkesinambungan dan relevan ini, institusi pendidikan dapat memainkan peran penting dalam pembangunan masyarakat. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk memperoleh pendidikan formal, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif berkontribusi dalam memecahkan berbagai masalah sosial. Dengan demikian, Program Kemitraan Masyarakat menjadi jembatan yang menghubungkan dunia akademis dengan kehidupan nyata, menciptakan sinergi yang menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.
Isu-isu di kawasan ASEAN semakin mendesak untuk mendapatkan perhatian serius dari seluruh negara anggotanya. Dengan dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang terus berkembang, ASEAN menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Salah satu isu yang sangat krusial adalah perdagangan manusia atau human trafficking, yang tidak hanya melibatkan pelanggaran hak asasi manusia tetapi juga mengancam stabilitas dan keamanan kawasan. Dalam konteks ini, peran Indonesia dalam forum ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime (AMMTC) sangatlah penting. Indonesia, sebagai salah satu negara terbesar dan berpengaruh di ASEAN, memiliki tanggung jawab besar dalam mendorong kerja sama regional untuk mengatasi masalah perdagangan manusia. Maka, isu internasional semacam ini tidak bisa dilewatkan dari perhatian masyarakat domestik. Akademisi menjadi salah satu corong dalam menstranslasikan isu-isu yang awam di masyarakat ini untuk dapat dipaparkan dengan pembawaan dan medium yang menyenangkan.
Melalui Program Kemitraan Masyarakat ini, salah satu tim PKM Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan, pada 2024 ini berkesempatan untuk bermitra dengan SMAS Nasional Bandung. Mengusung konsep Model ASEAN Meeting, bertemakan isu Human Trafficking yang mana hal tersebut juga sebagai bentuk relevansi keilmuan dengan prodi HI, tim PKM mencoba mengenalkan isu yang cukup relevan dengan lingkup dinamika Geopolitik Indonesia kepada siswa SMAS Nasional Bandung.
Model ASEAN Meeting diambil sebagai bentuk pengenalan kepada siswa terkait bagaimana mekanisme perumusan dan pengambilan keputusan pada organisasi ASEAN. Model ASEAN Meeting sendiri secara garis besar memberikan gambaran umum terkait bagaiama proses sidang di organisasi ASEAN, pun dalam praktiknya memberikan pengalamana bernegosisasi dan melatih soft skill lainnya seperti public speaking. Dengan mengadirkan simulasi sidang MAM ini, harapannya siswa SMAS Nasional Bandung dapat selangkah lebih mengenal terkait ASEAN dan peranan serta positioning Indonesia dalam merespon isu-isu internasional utamanya dalam lingkup ASEAN.
Program kemitraan masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang isu-isu dalam lingkup ASEAN dan meningkatkan kesadaran di kalangan generasi muda mengenai pentingnya diplomasi ASEAN melalui program sosialisasi AMMTC. Kegiatan yang disertakan dirancang untuk memfasilitasi keterlibatan siswa dalam berbagai praktik diplomatik dan diskusi, yang bertujuan untuk memberikan wawasan komprehensif tentang peran ASEAN dalam mempromosikan kerja sama regional.
Peserta akan mendapatkan pengetahuan tentang esensi dan mekanisme pertemuan ASEAN AMMTC dalam kaitannya dengan pertahanan dan keamanan, serta implikasinya bagi masa depan Indonesia. Selain itu, mereka akan dapat mengeksplorasi jalan untuk secara aktif berkontribusi pada visi dan misi inisiatif. Dengan memperoleh pemahaman yang mendalam, siswa diharapkan muncul sebagai katalis untuk perubahan, memperkuat posisi Indonesia dalam ASEAN AMMTC.
Secara garis besar, program PKM ini menjadi faktor katalis bagi kampus untuk dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat di luar kampus. Proses transfer ilmu tidak hanya terkonsentrasi pada dosen dan mahasiswa, namun juga mengajak mahasiswa untuk dapat terjun langsung ke masyakarat untuk mengaplikasikan ilmu nya kepada masyarakat.*
Penulis: Tri Yoga Wibisono (Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Pasundan Bandung)

