Bekasi Online

KARENA TUJUAN HIDUP TIDAK JELAS

KH.Abdullah Gymnastiar.[net]
POSBEKASI.COM | BANDUNG – Saudaraku, kenapa seseorang Merasakan hidup yang dijalaninya terasa berat, sebab pertama adalah karena tujuan hidupnya tidak jelas. la tidak memiliki target yang jelas sehingga hidupnya seperti tidak terarah. Hari demi hari ia lalui sekadarnya saja, tidak terbayang olehnya apakah hari ini lebih baik dari hari kemarin ataukah lebih buruk. la tidak bisa mengukur dirinya sendiri.

Orang yang demikian hanya memenuhi hari-harinya dengan urusan dunia. ia hanya memikirkan makanannya, pakaiannya, rumahnya, kendaraannya. la sibuk menghitung uangnya padahal sebenarnya ia tidak bisa menikmatinya. Sungguh nelangsa hidup seperti ini. Semoga kita tidak tergolong orang yang demikian.

Kalau tujuan hidupnya bukan akhirat melainkan duniawi, maka pasti hidupnya terasa berat karena dunia ini sangatlah kecil dan sempit. Orang yang ingin dunia dia pasti akan saling berebutan dengan orang lain. Dunia ini seperti air laut, semakin diminum semakin membuat haus, semakin dikejar semakin membuat tersiksa. Sedangkan yang ingin akhirat, sesungguhnya akhirat itu luas.

Bagi para pencari akhirat, semua urusan dunia bisa menjadi pahala. Dicaci orang lain, bisa menjadi jalan penggugur dosa. Sedangkan bagi para pencari dunia, itu sangat berat dan menyiksa. Banyak hal yang dianggap pahit oleh pencari dunia, malah dianggap manis oleh pencari akhirat.

Pencari dunia menyikapi musibah sebagai malapetaka dan kemalangan yang sangat berat. la meratapi musibah seolah setiap babak dalam hidupnya adalah kemalangan. Jika dinasehati agar bersabar malah terus mencari-cari alasan supaya diri pantas dikasihani. Sedangkan pencari akhirat akan menghadapi kesulitan hidup dengan bersabar dan menyikapi kemudahan hidup dengan bersyukur. Baginya, keadaan apa pun adalah sama saja, yaitu sebagai ladang amal ibadah kepada Allah SWT.

Kegelisahan, kecemasan, ke galauan berkepanjangan adalah tanda-tanda seseorang sudah terjebak pada cinta dunia dan lupa pada akhirat sebagai tujuan hidupnya. Cemas besok tidak bisa makan, cemas tidak mampu menghidupi keluarga, gelisah uangnya tidak cukup untuk biaya ini dan itu, takut jabatannya turun, takut kedudukannya hilang dari pandangan manusia, dan berbagai rasa takut lainnya yang disebabkan urusan dunia.

Kegelisahan seperti ini hanya akan menyeret seseorang pada kegelapan yang semakin kelam karena sudah terseret-seret oleh dunia yang fana. Apalagi jauh dari Allah karena hati yang rapuh berpegang pada-Nya. Padahal, sudah pasti kepuasan yang dicari hawa nafsu tidak akan pernah ada habisnya. Seperti minum air laut saat kehausan tapi terasa haus malah semakin menjadi-jadi. Semakin banyak air laut yang diminum akan semakin haus hingga merusak tubuh ini.

Gelisah karena urusan dunia adalah bentuk jika kita tidak bersyukur atas segala nikmat yang selama ini kita terima, sejak kita dalam kandungan hingga lahir di dunia. Mengapa khawatir tidak dapat rezeki padahal selama ini rezeki yang kita terima tidak terhingga jumlahnya. Mengapa khawatir tidak bisa menghidupi keluarga, padahal setiap makhluk adalah ciptaan, dan milik Allah hingga Allah pula yang menjamin rezeki mereka.

Inilah yang terjadi manakala seseorang tidak jelas tujuan hidupnya. Akhirnya ia hanya sibuk mencari penghargaan makhluk dan kemegahan
dunia yang fana ini. Dunia sudah memenuhi hatinya, padahal semestinya dunia hanya ada di tangan. Hatinya sibuk dengan kerumitan-kerumitan, jauh dari rasa tenang dan bahagia.

Sedangkan bagi orang yang jelas tujuan hidupnya, yaitu kehidupan akhirat, maka dunia hanya berada di tangannya, la semangat untuk meraih sukses hidup di dunia agar semakin banyak jalan yang bisa ia tempuh demi kebahagiaan hidup di akhirat. Apa pun yang ia jalani di dunia ini semata-mata adalah untuk ibadah kepada Allah SWT.

Kelapangan maupun kesempitan yang sedang dihadapi bisa disikapi sebagai sama sama ladang ibadah kepada Allah SWT. Syukur saat lapang, sabar saat sempit. Apa pun keadaannya, hatinya senantiasa tenang, hidupnya terasa ringan karena Allah yang memenuhi hatinya.

Sumber : Buku 4 Sebab Hidup Tidak Bahagia karya Aa Gym

KH. Abdullah Gymnastiar

BEKASI TOP