Amalan-amalan Yang Terus Mengalir

Ustadz Sulaiman memberi kajian Ahad pagi 29 September 2019 di Mushola Al-Farouq Taman Juanda, Kota Bekasi. [POSBEKASI.COM/IST]

POSBEKASI.COM | BEKASI – Tak seorang pun di dunia ini yang kekal abadi. Termasuk Nabi ada batas usianya. Mau tidak mau kita akan dijemput paksa oleh Malaikat maut.

Alangkah bahagianya jika seorang yang meninggal, amalannya telah putus.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa harta tidak dibawa mati. Tapi bagi orang yang berilmu harta dapat menjadikan amalan akhirat yang tiada pernah putus. Diantaranya adalah :

1. Membangun Masjid:
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda : “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari no. 450 dan Muslim no. 533).

2. Menanam Buah:
Dari Sahabat Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tetumbuhan kemudian burung, manusia, dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang dia tanam kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan kalimat “dan buah-buahan yang dicuri dari pohon tersebut, maka hal itu adalah sedekah baginya” dan juga tambahan “maka hal tersebut adalah sedekah baginya sampai hari kiamat” (HR Muslim)

3. Menggali Sumur dan Mengalirkan Sungai:
Dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan, ” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu) : Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Kasyful Astâr, hlm. 149. hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam shahihul Jami’, no. 3602

4. Mewakafkan Kitab-kitab dan Ilmu Bermanfaat:
Sesuai penjelasan hadist diatas. Membelanjakan harta untuk membeli mushaf Al-Qur’an dan kitab untuk dipelajari dan dikaji juga sangat dianjurkan.

5. Meninggalkan Ilmu Bermanfaat:
Kita tidak harus menjadi ustadz yang memberi ceramah kemana mana. Mengajarkan adab kepada keluarga, seperti adab makan, adab berpakaian, adab mandi dan lain sebagainya. Memberitahukan sunnah-sunnah kepada kerabat juga merupakan Ilmu yang bermanfaat. Apalagi sekarang teknologi sangat mendukung, membagikan atau share ilmu yang bermanfaat dapat dilakukan di media sosial asal sumbernya jelas.

Apakah Sampai Bersedekah Tetapi Atas Nama Orang Tua Yang Sudah Meninggal?

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

Bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba (dan tidak memberikan wasiat), dan aku mengira jika ia bisa berbicara maka ia akan bersedekah, maka apakah ia memperoleh pahala jika aku bersedekah atas namanya (dan aku pun mendapatkan pahala)? Beliau menjawab, “Ya, (maka bersedekahlah untuknya).

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma :
Bahwasanya Sa’ad bin ‘Ubadah –saudara Bani Sa’idah– ditinggal mati oleh ibunya, sedangkan ia tidak berada bersamanya, maka ia bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya ibuku meninggal dunia, dan aku sedang tidak bersamanya. Apakah bermanfaat baginya apabila aku menyedekahkan sesuatu atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Sesungguhnya aku menjadikan engkau saksi bahwa kebun(ku) yang berbuah itu menjadi sedekah atas nama ibuku.”

Kiriman Aris Yulianto dari Kajian Ahad Pagi oleh Ustadz Sulaiman di Mushola Al-Farouq Taman Juanda, Kota Bekasi.

Ahad 29 September 2019 M/ 29 Muharam1441H

Pin It

Comments are closed.