POSBEKASI.COM | JAKARTA – Oleh: Chryshnanda DL
Pariwisata adalah bisnis yang menuntut adanya kepercayaan, kenyamanan, kelancaran, kenikmatan yang berujung pada kebahagiaan dan kepuasan para pelanggannya. Mampukah para stake holder mewujudkannya? Itulah yang perlu dibangun suatu kesadaran tanggung jawab dan disiplin mewujudkannya.
Upaya-upaya dalam membangun pariwisata bukan sekedar membangun atau menata infrastrukturnya melainkan membangun manusianya. Membangun hati nuraninya membangun seni dan kebudayaanya, karena hal-hal itulah yang menghidupkan dan menumbuh kembangkannya.
Tatkala ketidakjelasan premanisme hingga pelayanan buruk menimbulkan dampak pada kekecewaan dan ketidakpercayaan membuat kecewa akan berkembang dari mulut ke mulut bahkan viral di media. Ini harga sosialnya sangat mahal yang harus dibayarnya. Sistem apapun harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara administrasi, hukum, fungsional, bahkan secara moral sekalipun. Moralitas di dalam pariwisata ini sangat mendasar dan menjadi suatu etika publik bagi para stake holdernya.
Pariwisata dikemas, dimaknai, dimarketingkan, dan dioperasionalkan secara profesional dengan hati dan ketulusan. Karena mengelola pariwisata dengan baik dan benar merupakan suatu peradaban tinggi. Ini menunjukkan, bahwa manusia sebagai fokus utamanya yang dilayani secara manusiawi harkat dan martabatnya dapat meningkat. Sistem pengemasan dan pemaknaan ini merupakan suatu rekayasa sosial yang berujung bagaimana pelayanan yang prima dapat diwujudkan.
Palak memalak, memeras, menyesatkan, menjual barang-barang palsu, penipuan, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, semua kontraproduktif yang tidak boleh terjadi. Tatkala terjadi, pemerintahlah yang harus cepat tanggap menangani, kalaupun pemerintah masih lambat-lambat, stake holder lainnya menjembatani dan berani mendesak atau mendorong perbaikan=perbaikan.
KLIK : Teknologi Informasi Pemolisian
Membangun masyarakat yang sadar wisata diperlukan suatu rekayasa sosial mencakup:
- Edukasi untk menyadarkan dan membuat masyarakat cinta dan bangga akan wilayah seni dan budayanya dan mampu bekerja secara profesional.
- Meminimalisir berbagai potensi penyimpangan yang dapat menimbulkan premanisme dan berbagai hal yang kontraproduktif.
- Meberapkan dan menegakkan hukum yang berlaku agar ada kepastian.
Masyarakat yang sadar wisata (masdarwis) merupakan proses panjang yang secara holistik atau sistemik menerapkan rekayasa sosial untuk mencerdaskan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Masdarwis mungkin saja meripakan suatu proses pembangunan bangsa yang multikultural dan berdampak paling soft tetapi mengena dan memggema di semua lini kehidupan.[POB]

