
Generasi milenial sebagai generasi penerus yang akan menjadi pilar bangsa seringkali pupus di tengah jalan karena menjadi korban kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Dari korban fatal yang memunjukkan angka kurang lebih 30 ribu jiwa meninggal dunia, 60 persen adalah dari generasi milenial.
Angka fatalitas kecelakaan ini dihitung dari korban yang meninggal dunia, belum lagi yang cacat angka korban tentu akan semakin besar. Yang menjadi pertanyaan, mengapa korban kecelakaan yang begitu besar dari genersi milenial?
Berbicara lalu lintas, sebenarnya berbicara tentang manusia dengan kemanusiaanya. Makna dari manusia dan kemanusiaan ini menunjukkan bahwa untuk bertahan hidup tumbuh dan berkembang diperlukan suatu produktifitas. Darimana produk-produk untuk bertahan hidup, tumbuh dan berkembang? Itu semua dihasilkan dari berbagai aktivitas yang mana aktivitas-aktivitas tersebut memerlukan pergerakan atau adanya gerak pindah yang melalui atau dilakukan dengan cara-cara berlalu lintas.
Lalu lintas yang merupakan gerak pindah dar isuatu tempat ke tempat yang lainnya akan ada jarak tempuh dan waktu tempuh yang membutuhkan kecepatan. Kecepatan pergerakkan di era modern didukung dari infrastruktur atau jalan dan kendaraan bermotor. Dari kendaraan yang memiliki kapasitas kecepatan tinggi juga kondisi jalan yang memadai sampai yang rusak ditambah kompetensi dan perilaku pengguna jalan yang seringkali mengabaikan standar-standar road safety sehingga timbul masalah lalu lintas.
KLIK : Budaya Tertib Berlalu Lintas
Tujuan dari program road safety adalah terwujud dan terpeliharanya lalu lintas yang aman, selamat, tertib, dan lancar. Meningkatnya kualitas keselamatan dan menurunnya tingkat fatalitas korban kecelakaan, terbangunnya budaya tertib berlalu lintas serta adanya pelayanan di bidang lalu lintas yang prima.
Permasalahan lalu lintas baik kemacetan hingga kecelakaan social costnya amat mahal bahkan sampai kehilangan nyawa manusia. Semua itu kontra produktif. Tatkala berbicara produktifitas generasi yang banyak melakukan pergerakkan inilah kaum milenial. Dari belajar bermain hingga bekerja mereka melakukannya.
Generasi milenial sebagai generasi yang dinamis pergerakkannya cepat, kreatif, inovatif, namun ada kalanya kurang peduli dengan lingkungan atau aturan atau standar-standar yang ditentukan.[]

