Bekasi Online

“Kepanikan di Injury Time” Dibalik Larangan #2018GantiWalikotaBekasi Pada Debat Publik

Pendukung paslon nomor 2 Nur Supriyanto – Adhy Firdaus dan hastag #2018GantiWalikotaBekasi.[Facebook]
BEKASI, POSBEKASI.COM – Larangan membawa atribut hastag #2018GantiWalikotaBekasi oleh pihak produksi Metro TV yang menyiarkna langsung debat final calon Walikota Bekasi sangat disayangkan para pendukung paslon nomor 2.

Dimana, sebelum memasuki arena debat seluruh tim pendukung diperiksa. Perwakilan tim produksi Metro TV, Gaby, meminta tim kampanye pasangan nomor urut dua, Nur Supriyanto-Adhy Firdaus untuk menanggalkan atribut #2018GantiWalikota.

“Peraturan ini sudah diperbincangkan dan sudah menjadi kesepakatan antara KPU Kota Bekasi dan Metro TV,” jelasnya.

Debat publik bertemakan, “Mewujudkan Kota Modern, Ramah dan Aksesibel” sepertinya mengantisipasi kericuhan dari pendukung paslon nomor 1 yang pada debat sebelumnya yang disiarkan langsung salah satu radio lokal pada 3 Mei 2018, sempat ricuh saat sesi tanya jawab antar calon Walikota Bekasi, terkait kondisi Bus Trans Patriot. Nur Supriyanto menyebut-nyebut soal KPK dan bertanya soal pencemaran lingkungan.

Dimana Nur Supriyanto menilai Pepen melempar tanggung jawab kepada bawahannya terkait mangkraknya sembilan bus trans patriot.

Rahmat Effendi lnasung menanggapinya dengan emosional dan merasa Nur Supriyanto menyerang pribadinya. “Saya rasa ini sudah menyerang pribadi,” ujarnya emosi.

Hal itu membuat pendukung Rahmat Effendi-Tri Adhianto lebih emosional hingga akhirnya, pembawa acara Rahma Sarita meminta pihak keamanan mengeluarkan salah satu pendukung petahana.

KLIK : Polisi Jaga Ketat 75 TPS Rawan Pilkada Kota Bekasi

Akibatnya, debat pemungkas ini melarang pendukung Nur – Firdaus membawa atribut bertuliskan #2018GantiWalikotaBekasi, membuat seorang penggembira Pilkada Tata Khan menulis dalam akun Fcebooknya Tata Khan Suharta berjudul “Kepanikan di Injury Time”.

Berikut tulisan lengkap Tata Khan Suharta yang mendapat taaggapan beragam dan dibagikan para netizen beberapa jam lalu, pada Kamis 21 Juni 2018:

Ada secuil kisah dari debat pilkada walikota Bekasi semalam di Grand Studio MetroTV. Malam itu adalah debat pamungkas yang bakal menutup rangkaian kampanye jelang pencoblosan 27 Juni 2018 nanti. Tentu saya bersemangat menghadiri acara tersebut. Sebagai bentuk dukungan terhadap perubahan, saya memakai kaos bertuliskan #2018GantiWalikotaBekasi, soalnya kaos dan baju lain masih numpuk di tempat cucian kotor pasca mudik lebaran lalu. Saya yang kebetulan dari rumah sudah menggunakan kaos tersebut, begitu tiba di lokasi acara lantas ditanya oleh salah satu tim sukses yaitu bro Har Hary, “Bang Tata, bawa baju salin gak? Itu kaos gak boleh masuk!” Kemudian saya jawab, “Saya bawa kaos salin satu lagi”

“yaudah bang, ganti kaos salin aja”

“tapi bang,..”

“kenapa…??”

“kaos salinnya, ada tulisannya juga #2018GantiWalikotaBekasi…”

“Waaduuh,, ga boleh masuk nanti bang, yaudah nanti saya cariin jaket aja punya anak PKS Muda!”

Saya pun akhirnya menggunakan jaket untuk menutupi kaos yang saya kenakan. Jujur saya gerah, bukan karena pakai jaketnya tapi gerah melihat tingkah polah pengadil kompetisi yang telah mencederai demokrasi. Keputusan pihak penyelanggara -diwakili KPUD- meminta pendukung paslon nomor dua untuk tidak menggunakan kaos #2018GantiWalikotaBekasi dengan alasan mengandung unsur provokatif adalah sebuah alasan yang mengada-ada. Kenapa kata-kata #2018GantiWalikotaBekasi dibilang provokatif? Kenyataannya memang itu suara hati nurani kami untuk mengganti kepemimpinan yang sah melalui mekanisme demokrasi lewat saluran pilkada. Kami pun tidak marah kalau ada pendukung paslon lain yang memakai kaos #2018TidakGantiWalikota kalau memang itu maunya, sah-sah saja di alam demokrasi ini. Justru dengan adalanya pemilihan umum inilah Ganti atau tidak ganti walikota kita tentukan bersama. Jika seandainya kita gak boleh ganti walikota ya tidak usah ada pilkada saja, kembali saja ke jaman kerajaan. Saya cuma bisa ngedumel dalam hati saja sambil bengong menatap langit untuk mencari-cari apakah ada alasan di ujung sana untuk memberikan pembenaran terhadap persoalan ini.

“Bang, bang ayo buruan masuk itu antriannya udah dibuka!!” salah seorang pendukung berseragam putih-putih menepuk pundak saya, ternyata beliau dari pemuda-pemuda Laskar FPI..lamunan saya buyar dan sayapun masuk ke acara debat yang sebentar lagi akan dimulai.

Jujur, saya kurang menikmati acara ini karena mood saya sudah dirusak di awal tadi. Tapi emang dasar ini pendukung paslon nomor dua saking kreatifnya, meski kaos #2018GantiWalikotaBekasi sudah gak bisa masuk ruangan, eh setiap jeda iklan malah nyanyi-nyanyi “ganti,ganti walikota, ganti walikota sekarang juga!! ” Petugas KPUD yang sebelumnya sudah membriefing kami untuk tidak pakai kaos #2018GantiWalikotaBekasi di dalam area debat, langsung tepok jidat dan cuma bisa bilang “astaghfirullahal adzhiim” sambil bergumam dalam hati “🎵🎵kita sudah kerja lembur bagai quda, sampai lupa orangtua oh hati terasa durhaka..maksud hati bahagiakan orangtua ……pusying syudah ini kepala…🎵🎵.”

Dari jauh saya cuma bisa tertawa sambil membayangkan iklan Ramayana. Ah pasti anda juga ikutan nyanyi Ramayana kan? Minimal bisa menjadi obat pelipur lara.

KLIK : APK Dirusak, Nur Supriyanto: “Alhamdulillah Mereka Sadar dan Sudah Mencoblos No 2”

Mood saya pun bangkit lagi, terlebih dari bangku audiens saya melihat sorot mata Pak Nur Supriyanto, sorot mata yang tajam, bening dan tulus. Saya makin bersemangat, Pak Nur saja sudah banyak dizhalimi sedemikian rupa masih gagah tampil berdiri di depan. Beliau maju dengan kata-kata terstruktur, rapi dan straight to the point. Alur dan kerangka berpikirnya jelas, saat ditanya oleh lawan pun sanggup meladeni hingga bisa menyerang balik. Beda banget dengan petahana yang alur bicaranya lompat-lompat, belum selesai satu kata sudah lari ke topik lain sampai akhirnya waktu yang menghentikan ketidakjelasan bicaranya. Belum lagi melihat ulah calon wakil walikota nomor urut satu yang tidak bisa menjaga adabnya ketika Pak Nur berbicara malah mebentang-bentangkan poster bergambar entah apa. Sampai akhirnya moderator harus menyemprot dengan kata-kata peringatan. Niatnya paslon nomor satu mungkin untuk mengganggu konsentrasi Pak Nur namun di luar dugaan, Pak Nur bisa dengan tenang mengatur emosi, tidak terpancing dan masih bisa menata artikulasi bicara sedemikan rupa serta penekanan-penekanan pada diksi tertentu yang pada akhirnya mampu membuka jantung pertahanan lawan.

Betul saja, di penghujung segmen terakhir sebelum closing statement, petahana mengomentari soal tingginya tingkat perceraian di kota Bekasi yang dilontarkan oleh Pak Nur, beliau bilang soal perceraian itu adalah kodrat ilahi. Sontak ini memancing keriuhan di belakang kursi penonton. Maklum, banyak juga habib dan ulama yang datang menonton debat ini. Saya sempat mendengar dari belakang, ada yang bergumam, “wah ini pernyataan ngawur.. enak banget dengan enteng bilang perceraian itu kodrat ilahi, udah jelas-jelas Allah membenci perceraian bahkan setiap ada satu rumah tangga yang bercerai, kursi Arsy Allah ikut terguncang. Apa iya Allah begitu mudahnya memuluskan perceraian dengan stempel sudah kodrat ilahi?? ” Saya cuma menoleh singkat, kebetulan barisan belakang saya para ibu-ibu berjilbab, saya membayangkan mereka seandainya diceraikan oleh suaminya apakah mereka akan menyalahkan suaminya yang telah menceraikan atau menyalahkan Allah dengan alasan perceraian ini sudah kodrat dari-Nya ?? Saya yang awam saja sudah bisa menyimpulkan betapa blundernya pernyataan itu.

Belum selesai soal itu, petahana kembali bicara ngalor ngidul mengajak pemirsa memilih pasangan nomor satu, beliau lantas melontarkan kata Tauhid, yang disambut dengan Allahu Akbar. Ini jelas makin ngawur lagi, saya rasa beliau mau bilang pilih nomor satu -yang dalam bahasa arab disebut wahid- bukan malah bilang Tauhid yang artinya ke-esa-an Allah, yang harusnya disambut dengan pernyataan La ilaa ha ilallah yang artinya tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah sebagai pembenaran pernyataan tauhid tadi, bukan disambut dengan takbir…

Ini mungkin yang disebut politik yang bawa-bawa agama namun gak ngerti gimana bawanya serta tidak pada tempatnya jadi malah bikin malu sendiri. Bisa juga blunder itu lahir karena kepanikan menjelang detik pencoblosan sehingga membuatnya kelabakan dan gelagapan.

Selepas presenter menutup acara, dari kursi penonton langsung disambutnya dengan nyanyian “Ganti,,ganti, ganti walikota, ganti walikota sekarang juga!!!

Nyanyian itu makin keras tak terbendung, meski suaranya tak terdengar dari layar kaca oleh pemirsa di rumah, namun alam membawa suara lantunan “Ganti Walikota” tersebut lewat hembusan angin yang menyeruak ke relung-relung hati warga Bekasi di manapun mereka berada.

Dari kejauhan saya masih melihat petugas KPUD yang sedari tadi masih terus geleng-geleng kepala sambil tepok jidat lagi. [] By Tata Khan [Penggembira Pilkada]

BEKASI TOP