“Gegara” Nur Supriyanto Bicara Kepemimpinan, Pepen Emosi Bikin Pendukungnya “Coreng” Debat Publik Kedua

Calon Walikota Bekasi Nomor Urut 1 Rahmat Effendi melambaikan tangan kirinya meminta moderator Rahma Sarita menghentikan Calon Walikota Nomor Urut 2 Nur Supryanto saat memberi tanggapan atas jawabannya.[YAN]

BEKASI, POSBEKASI.COM – Sesi debat publik putaran kedua pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bekasi pada sesi tanya jawab tercoreng akibat ulah ricuh pendukung paslon Rahmat Effendi – Tri Adhyanto.

Hal itu terjadi ketika moderator Rahma Sarita memberi kesempatan pada Nur Supriyanto menanggapi jawaban Rahmat Effendi (Pepen) pada acara Debat Publik Kedua paslon Walikota Bekasi yang digelar KPU Kota Bekasi, di Ballroom Hotel Santika Premiere, Kota Bekasi, Kamis 3 April 2018.

Awalnya, pada sesi tanya jawab dimana calon Walikota Bekasi Nur Supriyanto diminta bertanya kepada calon Walikota Rahmat Effendi. Nur Supriyanto menanyakan dua dari tiga tema debat publik yakni transportasi dan lingkungan. Sedangkan satu tema lagi sesuai yang diberikan KPU Kota Bekasi yakni tentang kependudukan.

Terkait mangkraknya TransPatriot yang disebut Nur Supriyanto ada persoalan dan seharusnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) melihat hal tersebut.

“TransPatriot kita harus sama-sama bangga, anggaran yang tahun kemaren ada bus tapi mangkrak. Tahun 2018 tidak mungkin dilakukan, memungkinkan 2019 tapi anggaran akan diputus pada Nopember 2019, kemungkinan tidak terlaksana berarti ini ada persoalan apa dari sisi perencanaan? Tiga tahun harusnya KPK dan BPK melihat ini ada apa? karena tidak punya rencana induk. Sudah belanja tapi tidak terlaksana, tiga tahun mangkrak tidak ada perencanaan,” ungkap Nur Supriyanto.

KLIK : Ini Gagasan Cemerlang Nur Supriyanto Atasi Kesalahan Pembangunan Terpusat yang Mengakibatkan Masalah Kependudukan di Kota Bekasi

Nur Supriyanto menyambung masalah kedua yakni lingkungan, dimana masih ada industri di Bekasi Timur, Rawalumbu dan di Bekasi Barat, masayarakat tahu setiap malam terjadi penceraman. “Mana penegakkan hukum, saya tahu ada industri yang mencemarkan lingkungan,” tambahnya.

Mendapat dua pertanyaan tersebut, Pepen menjawab hal pertama terkait transportasi, “Saya jelaskan, APBD itu adalah kesepakatan bersama dengan DPRD. Kita sama-sama banggar anggota DPRD, kita tahu. Jadi kalau ada sekarang kita bangun TransPatriot itu, Palembang dan Jogya itu lebih dari dua-tiga tahun belum selesai. Kota Bekasi baru dibeli 2017, karena sudah habis jabatan, saya dengan Pak Syaikhu,” kata Pepen menjawab soal TransPatriot yang mangkrak.

“Kalau besok Pj Walikota buat keputusan walikota melimpahkan kepada badan usaha milik daerah, asetnya dipisahkan menjadi aset badan saham milik daerah dilaporkan ke DPRD dan badan usaha itu bekerja sama dengan siapapun juga, selesai sudah, selesai. Jadi gak perlu ke KPK, ngapai barangnya dibeli, kalau ada mark-up boleh ke KPK, silahkan. Saya bukan pengguna anggaran, saya adalah pejabat politik pada saat itu, tidak pengguana anggaran dan tidak juga pengguna barang, perlu dicatat,” terang Pepen bersemangat.

Berkenan dengan limbah yang ada sambung Pepen, tadi sudah saya sampikan ada PPNS kita penyidik di lapangan  bergerak 24 jam.

“Mohon maaf, ini kita luruskan juga. Kalau ternyata ada yang disampaikan oleh paslon 1 ada temuan-temuan limbah bukan saja persoalan pabrik, pabriknya bisa kita tutup melalui peran penyidik PPNS. Peran penyidik, dari PPNS kepada penyidik di Republik ini siapa?. Kita serahkan, bukan kita. Ya kan, itulah kalau orang cerdas berpikir seperti itu,” tutup Pepen sambil berbalik menuju kursinya dan menegak minuman mineral langsung disambut celetukan, “Uhhh….emosi yee.., emosi yee.., cerdas darimana.., cerdas ngaku dewe….” dari pendukung paslon nomor 2 namun tetap menjaga ketertiban dalam ruangan debat.

Selanjutnya, moderator Rahma Sarita kembali mengambil alih dan memberi kesempatan pada Nur Supriyanto untuk menanggapi jawaban Pepen yang oleh Nur Supriyanto jawaban Pepen terkesan melepas tanggung jawabnya sebagai pemimpin.

“Kalau saya akan berpikir sebagai pemimpin. Saya katakan begini, oke saya pemimpin, saya akan tangung jawab semua, saya akan selesaikan apapun yang telah dilakukan. Begitu sebagai seorang pemimpin. Tidak melepaskan tangung jawabnya pada orang lain. Ilmu kempemimpinan yang saya pahami dan pelajari, bahwa saya tangung jawab apa yang saya lakukan dan tentu ini saya harus bertangungjawab, rasanya…..,” kata Nur Supriyanto yang belum menyelesaikan tanggapannya langsung dipotong Pepen, “Hentikan. Ini sudah menyerang pribadi,” pinta Pepen melambaikan tangan kirinya ke arah moderator.

Suasana ricuh oleh pendukung paslon nomor urut 1 pada acara Debat Publik Kedua paslon Walikota Bekasi, Kamis 3 Mei 2018.[YAN]

Sayangnya, ucapan Pepen tersebut justru disambut ricuh pendukungnya hingga suasana memanas membuat panitia kewalahan untuk menertibkannya. Tidak hanya panitia, tampak Nur Supriyanto dan calon Wakil Walikota Tri Adhyanto juga berupaya agar pendukung paslon nomor 1 itu untuk tetap tenang.

Kericuhan pendukung paslon nomor 1 itu mulai mereda setelah panitia menghampiri pendukung yang membuat ricuh meminta keluar ruangan. Bahkan Rahma Sarita meminta security mengeluarkan mereka yang berbuat rusuh. “Security, security keluarkan mereka yang rusuh,” kata wanita penyiar JakTv tersebut.

Sementara, permintaan Pepen untuk menghentikan tanggapan Nur Supriyanto tidak digubris moderator yang menilai apa yang disampaikan Nur Supriyanto merupakan kebijakan dari seorang pemimpin. “Ini kebijakan, lanjutkan pak,” pinta Rahma kepada Nur Supriyanto.

Meski masih dalam suasan ricuh, Nur Supriyanto dapat mengendalikan dirinya dan menguasai pangung debat serta dengan tenang ia melanjutkan, “Bukan pribadi sebagai seorang Pak Rahmat Effendi. Ini adalah pemimpin yang memahami memimpin…..” Nur Supriyanto kembali menghentikan tanggapannya karena kerciuhan dalam ruangan masih berlanjut.

Rahma Sarita kembali tampak sibuk menenangkan pendukung dengan berjalan menuju ujung panggung meminta para pendukung yang ricuh dapat tertib. Meski masih dalam suasana suara gaduh, Rahma Sarita kembali meminta Nur Supriyanto melanjutkannya. “Silahkan,” kata Rahma kepada Nur Supriyanto sambil mundur dan berdiri  ke belakang Nur Supriyanto tidak jauh dari posisi calon Wakil Walikota Adhy Firdaus yang begitu tenang dan santai mengamati suasana yang terjadi di dalam ruang debat.

“Jadi, saya berharap kemaren sebagai pemimpin Kota Bekasi bertangung jawab dengan apa yang telah diputuskan. Oke saya perbaiki, kalau saya jadi walikota lagi saya akan selesaikan dalam waktu cepat, mestinya begitu!,” seru Nur Supriyanto dengan nada semangat dan gaya orasi kepemimpinan yang santun langsung disambut Takbir para pendukung paslon nomor urut 2 “Allah Akbar”…..

Dilanjutkan Nur Supriyanto, “Dan Insyallah itulah kepemimpinan yang dibanggakan oleh orang Bekasi, dan saya akan selesaikan Insyallah ketika amanah itu ada pada saya. Saya akan bikin sistemnya karena itu baik untuk masyarakat, sistem rencana induk transposrtasi akan bagus,” ucap mantan Wakil Ketua DPRD Jawa Barat ini.

“Siapapun pengelolanya, sampai hari ini tidak jelas siapa yang akan mengelolanya. Artinya apa? planing, perencanaan tidak pernah ada. Memaksakan harus berada diakhir tahun. Repot kalau kita seperti itu. Pemimpin tentu ada proses-proses yang harus dilalui, DPRD mungkin ikut serta bersama ketika mengambil kebijakan, tentu harusnya bertanya rencana apa kedepannya,” pungkas Nur Supriyanto kembali disambut yel-yel pendukung paslon nomor 2 dengan tertib.

Disela-sela Nur Supriyanto menuntaskan tanggapannya, tampak Tri Adhyanto “gelisah” dengan gerak melangkah mundur, maju dan mundur. Sedangkan Pepen tampak menghampiri dan membisikan sesuatu kepada Rahma Sarita yang berdiri di belakang Nur Supriyanto.

Sesaat Tri Adhyanto kembali ke podiumnya meraih lembaran kertas dan Pepen kembali ke posisinya, justru Tri kembali melakukan aktivitas dengan berjalan diseputar podium sampai Nur Supriyanto mengakhiri tanggapannya.[POB1]

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *