Bekasi Online

Art Galery: Wadah Terhormat Para Seniman

Seni lukis.[CDL]
POSBEKASI.COM – Makanan enak dan barang bagus, tatkala di kemas seadanya di jual sembarangan, tempatnya akankah dihargai dengan layak? Bandingkan pada barang yang sama dengan pengemasan berbeda akankah dihargai seadanya bila dijual di mall atau tempat-tempat bergengsi lainnya?

Tentu khalayak akan mahfum dengan harga yang lebih mahal. Prestasi juga membutuhkan prestise. Suasana sasaran pasar untuk pembelinya juga menjadi pertimbangan.

Menjual karya seni berbeda dengan menjual barang kebutuhan sehari-hari. Karya seni dapat menjadi aset yang akan terus bertambah tinggi nilainya. Pasar bagi penjualan barang-barang seni akan ada stratifikasinya. Tatkala seni dipasarkan serampangan, maka apresiasipun juga serampangan. Tempat memang bisa saja mempengaruhi namun bisa juga justru menambah keyakinan akan keaslianya.

Apakah tabu atau menjadi rendah tatkala seniman menjual karyanya di rumahnya. Tentu tidak salah dan belum tentu buruk. Sisi poaitif dan negatifnya yang mesti didekatkan sisi jurang yang tidak terlalu dalam atau terlalu jauh.

Seniman idealnya mampu memaknai mengemas sekaligus memarketingkan karyanya.

Tak banyak seniman yang ketiban pulung keberkahan, banyak rejeki berkelimpahan materi dan dipuja-puji dimana-mana. Ada pula yang bangkrut dan merana diusia tuanya. Ada yang jaya lalu hilang ditelan masa. Tak sedikit yang menjadi top markotop pasca kematiannya.

Art galeri bisa menjadi penolong sekaligus pembunuh seniman. Tatkala galeri sadar dan tidak berjiwa tengkulak maka akan memperjuangkan sang seniman hidup tumbuh dan berkembang.

Sebaliknya, yang pikiran hati dan niatnya menjadi pemeras maka akan mematikan senimannya dengan melabel buruk dan mematikan pasaranya dengan standar harga suka-suka yang dibuatnya.

Galeri lebih dipercaya daripada sang senimannya? Bisa saja iya, karena galeri memiliki jaringan dan mitra berduit bahkan berkuasa.

Seniman tak bisa hidup sendiri ia harus membangun komunitas untuk salung menjaga dan salung menguatkan. Ini juga agar tidak disia-siakan kaum berduit dan art galery yang sontoloyo.

Seniman butuh prestasi dan prestise untuk dapat hidup layak yang tahan dalam segala kondisi. Menjadi seniman piluhan hidup dan panggilan hati antara hidup atau mati.

Pilihan jelas, namun serba penuh dengan ketidak jelasan. Disinilah para pahlawan kebudayaan termasuk art galery, para kurator untuk terus menghembuskan nafas para seniman untuk hidup layak sebagaimana semestinya bagi orang yang memiliki prestasi dengan berbagai prestisenya.[Penulis- Cryshnanda Dwilaksana]

BEKASI TOP