Bekasi Online

Parameter Iman Pemimpin, Tak Amanah Datangkan Kehancuran

POSBEKASI.COM – Parameter pemimpin dapat dilihat dari keimannnya. Perintah agama menjalankan amanah Allah merupakan parameter keimanan seseorang, dan paling berat adalah amanah yang diberikan pada pemimpin.

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat”. [QS. An-Nisa’: Ayat 58]

Orang-orang beriman menunaikan amanah Apa-apa Allah titipkan pada hambanya, Allah bebani titipan yang menjadi kewajiban itulah yang disebut amanah.

Sebagaimana harta, titipan untuk dijaga dan dipelihara. Karena itu, seseorang yang memiliki hak harta digunakan pada orang atau bermanfaat pada kemaslahatan orang lain.

Wadi’ah (titipan) harta yang kita miliki atau dapat bisa jadi untuk orang lain yang dapat bermanfaat. Setiap orang yang memberi atau menitipkan dapat kemaslahatan.

Bila orang yang merima tiitpan tidak menggunakan dengan baik maka I tidak menjalankan amanah bahkan bisa berakibat kecelakaan.

Begitu pula halnya, bila pemimpinnya tidak amanah, maka tunggulah datanganya kehancuran. Kekuasaan, jabatan, kedudukan jauh lebih besar pertanggungjawaban kelak disisi Allah. Baik kekuasaan yang sifatnya umum maupun khusus.

Amanah yang diembang Rois/Raja/Kepala Negara yang sifanya umum jauh lebih besar pertanggungjawabannya.

Sedangkan amanah paling kecil adalah diberikannya pada keluarga atau kepala keluarga. Dimana setiap “kalian” adalah pemimpin, yang ditanya akan kepemimpinannya.

Amanah pada manusia adalah amanah Allah untuk menjalankan jihad dan lain sebagainya, termasuk hak-hak manusia seperti jabatan, kekuasaan, dan lainnya.

Allah memerintahkan amanah pada orang (ahlinya), meski tidak menyatakan langsung, menyampaikan amanah pada yang berhak. Disitulah seseorang akan terlihat keimanannya, ada agama dan iman yang kuat pada dirinya. Begitu pula sebaliknya.

Pemimpin adalah penjaga amanah yang takut akan amanah yang tidak tersampaikan atau dijalankan. “Orang baik dan shaleh tapi lemah dalam amanah maka ia bukan shaleh. Orang yang lemah dalam menjalankan amanah maka saksikanlah ia ornag yang lemah imannya’.

Amanah titip salam pada seseorang saja bila tidak disampaikan merupakan hutang besar yang harus ditunaikan. Begitulah besarnya amanah dari sekecil titipan yang sehari-hari dilingkungan.

Allah tawarkan amanah pada langit dan bumi, yang ditolak oleh langit dan bumi, Tetapi manusia lah yang bersedia mengambil amanah.

Kenapa Allah menawarkan amanah kepada amanah pada langit dan bumi? Bagaimana mungkin langit bumi yang tidak punya akal dan perasaan? Bila langit dan bumi mau mengambil amanah, maka dengan keuasaan Allah bisa menghidupkan atau memberi langit dan bumi nyawa. Sesungguhnya di hadapan Allah langit dan bumi adalah memiliki kehidupan seperti halnya manusia.

Untuk itulah Allah memberikan manusia dua  hal yakni, akal dan Rasul. Akal yang membawa amanah dan Rasul sebagai pembimbing.

Amanah yang tidak dilandasi akal dan bimbingan maka manusia itu adalah zalim. Karena itu, amanah paramater keimanan. Yang tidak menjalankan amanah maka tunggu saja saat kehancuran akan tiba.

[Ustadz H Subchansyah,ST – Pemimpin Ponpes Al Marhamah]

4.

BEKASI TOP