Posbekasi.com

Indonesia Tidak Sedang Runtuh, Indonesia Sedang Diuji

Tokoh Bangsa dan Tokoh Reformasi 1998. Dok. Istimewa

POSBEKASI.com, JAKARTA – Dolar boleh naik. Dunia boleh bergejolak. Tetapi Indonesia tidak sedang berdiri di titik rapuh seperti 1998.

Kita harus jujur melihat keadaan secara utuh. Benar, rupiah melemah. Benar, tekanan global sedang berat. Suku bunga The Fed tinggi, perang geopolitik belum selesai, ekonomi dunia melambat, dan hampir semua negara berkembang mengalami tekanan yang sama. Namun menyamakan situasi hari ini dengan 1998 jelas berlebihan.

Fondasi Ekonomi yang Berbeda

Indonesia hari ini memiliki bantalan yang jauh lebih kokoh dibanding hampir tiga dekade lalu. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa per April 2026 mencapai USD 146,2 miliar, setara 5,8 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan IMF. Inflasi juga terkendali di kisaran 2,42 persen, jauh dari lonjakan harga yang biasanya menjadi pemicu krisis sosial.

Pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen menunjukkan konsumsi domestik masih bergerak, UMKM tetap hidup, dan aktivitas ekonomi nasional tidak mengalami kontraksi besar. Ini berbeda dengan 1998, ketika PDB Indonesia anjlok hingga -13,7 persen, perbankan runtuh, dan daya beli masyarakat hancur.

Pelajaran dari 1998

Saya mengalami langsung krisis 1998. Saat itu, perbankan runtuh, lebih dari 50 bank ditutup, kredit macet melonjak, dan sistem keuangan kehilangan kepercayaan publik. Inflasi meledak hingga lebih dari 70 persen, cadangan devisa hanya sekitar USD 20 miliar, dan negara kehilangan kontrol atas arah kebijakan.

Krisis politik memperburuk keadaan: demonstrasi besar-besaran, kerusuhan sosial, dan kejatuhan Presiden Soeharto. Negara tidak hanya menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga krisis legitimasi.

Hari ini, meski tekanan global nyata, Indonesia tidak berada dalam pusaran kehancuran sistemik seperti kala itu.

Optimisme sebagai Modal Politik

Presiden Prabowo menekankan bahwa negara tidak boleh terlihat takut menghadapi tekanan global. Optimisme bukan berarti menutup mata terhadap masalah, melainkan keberanian menjaga kepercayaan di tengah ketidakpastian.

Dalam ekonomi modern, psikologi publik menentukan stabilitas negara. Kepanikan berlebihan terhadap pelemahan rupiah justru bisa memperburuk keadaan. Karena itu, menjaga kepercayaan publik adalah bagian dari strategi ekonomi.

Jalan Menuju Kemandirian

Tantangan Indonesia kini bukan sekadar menghadapi dolar, tetapi memperkuat kemandirian ekonomi:

– Mengurangi ketergantungan impor

– Memperkuat industri nasional

– Mendorong hilirisasi

– Mengembangkan transaksi mata uang lokal

– Memastikan kekayaan Indonesia memberi nilai tambah bagi rakyatnya sendiri

Kesimpulan

Bangsa besar tidak diukur dari seberapa sering panik terhadap gejolak global, tetapi dari seberapa kuat ia bertahan dan bangkit menghadapi tekanan dunia.

Indonesia tidak sedang runtuh.

Indonesia sedang diuji untuk naik kelas.

Jakarta, 20 Mei 2026

Oleh: Abdullah Rasyid - Mahasiswa  Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN

BEKASI TOP