
BEKASI KOTA, POSBEKASI.com – Perayaan Hari Raya Idulfitri di Istanbul tahun ini jatuh pada 20 Maret 2026, Lebaran berlangsung di penghujung musim dingin, suasana udara yang masih terasa dingin serta cuaca yang kerap disertai hujan dan angin membingkai hari kemenangan dalam nuansa yang tenang dan khusyuk.
Berbeda dengan Indonesia yang identik dengan gema takbir yang menggema di berbagai penjuru serta tradisi silaturahmi dari rumah ke rumah, suasana Lebaran di Istanbul cenderung lebih tenang dan berlangsung seperti hari libur biasa. Meskipun sebagian warga memanfaatkan momen ini untuk berkumpul bersama keluarga, aktivitas kota tidak sepenuhnya berhenti. Banyak toko, kafe, dan pusat perbelanjaan tetap beroperasi, sementara perkantoran pemerintahan serta sebagian institusi formal diliburkan.
Dalam keseharian masyarakat Turki, Idulfitri yang dikenal sebagai Şeker Bayramı lebih dimaknai sebagai perayaan keluarga. Tradisi yang umum dilakukan adalah sholat Idulfitri di pagi hari, dilanjutkan dengan kunjungan ke keluarga atau kerabat terdekat, serta berbagi hidangan manis seperti permen dan Turkish delight. Perayaan ini berlangsung sederhana dan tidak banyak menampilkan aktivitas publik berskala besar seperti yang lazim dijumpai di Indonesia.
Di tengah ritme kota yang tetap berjalan itu, diaspora Indonesia di Istanbul berupaya menjaga semangat Lebaran. Sejak pagi, mahasiswa dan masyarakat Indonesia melaksanakan sholat Idulfitri di masjid terdekat dari tempat tinggal masing-masing. Sebagian lainnya memilih menuju Hagia Sophia, yang menjadi salah satu tujuan utama pelaksanaan sholat Ied yang menarik jamaah dari berbagai kalangan. Tidak sedikit yang datang lebih awal untuk mendapatkan tempat di dalam masjid.
Usai sholat, kawasan pelataran Hagia Sophia menjadi titik temu yang hidup. Para diaspora saling menyapa dan mengabadikan momen kebersamaan. Silaturahmi berlanjut dalam open house yang diselenggarakan oleh KJRI Istanbul. Kegiatan ini menjadi ruang temu bagi diaspora Indonesia dari berbagai latar belakang. Sejak pagi, tamu datang silih berganti, menciptakan suasana yang hangat dan akrab. Tradisi bersalaman, bermaaf-maafan, serta menikmati hidangan khas seperti lontong sayur menghadirkan nuansa Lebaran Indonesia di tengah Istanbul.
Selain kegiatan resmi, kehangatan juga terjalin melalui inisiatif antarindividu. Undangan makan bersama, berbagi hidangan, hingga sekadar berkumpul menjadi bagian dari cara diaspora merawat rasa kebersamaan. Dalam keterbatasan jarak dari keluarga di tanah air, momen-momen sederhana ini justru memiliki makna yang mendalam.
Haritsah Mujahid, mahasiswa Indonesia di Istanbul, menuturkan bahwa Lebaran di perantauan selalu menghadirkan pengalaman yang berbeda. “Rasa rindu kepada keluarga tentu ada. Namun di sini, kami belajar untuk saling menguatkan. Lebaran bukan tentang keramaian, melainkan tentang kebersamaan yang tetap terjaga,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua PPI Istanbul, Abdullah Azzam Rahman, menekankan pentingnya peran perhimpunan. “Kami berupaya memastikan mahasiswa Indonesia tetap memiliki ruang untuk merasakan kebersamaan, khususnya di momen Lebaran. Ini menjadi bagian penting dari kehidupan diaspora di luar negeri,” katanya.
Lebaran di Istanbul mungkin tidak menghadirkan kemeriahan seperti di Indonesia, tetapi budaya untuk merawat kebersamaan, mempererat hubungan, dan menumbuhkan rasa Syukur tidak akan pernah hilang. Di antara pertemuan singkat dan percakapan hangat, Lebaran di perantauan memiliki caranya sendiri. Bukan tentang di mana ia dirayakan, melainkan tentang bagaimana kebersamaan itu tetap dihidupkan.
Kiriman: Haritsah Mujahid (Mahasiswa S1 Istanbul University)?

