Posbekasi.com

Gelontorkan Rp2 M, Pemkot Bekasi Gratiskan BPJS Ketenagakerjaan Ojol sampai Pemulung

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama para ojol di Kota Bekasi. Posbekasi.com /Ist

BEKASI KOTA | posBEKASI.com – Pemerintah Kota Bekasi tahun 2026 akan gelontorkan anggaran Rp2 miliar untuk melindungi pekerja sektor informal yang selama ini bekerja tanpa kepastian untuk 10.000 pekerja informal ber-KTP Kota Bekasi seperti ojol, sopir, kuli sampai pemulung, akan didaftarkan ke dalam program BPJS Ketenagakerjaan, dengan premi sebesar Rp201 ribu per tahun.

‎“Ojol, sopir, kuli, pedagang sampai pemulung mereka semua pekerja rentan yang harus kita berikan jaminan sosial. Mulai 2026, saya pastikan mereka mendapat perlindungan,” kata Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, dikutip dalam keterangan resminya, Sabtu 6 September 2025.

‎Menurutnya, premi tersebut akan dibiayai Pemkot Bekasi melalui APBD, sehingga nantinya para pekerja akan mendapatkan jaminan kecelakaan kerja, santunan kematian, hingga perlindungan bagi keluarga.

‎Saat ini seluruh warga Kota Bekasi sudah tercakup kepesertaan BPJS Kesehatan yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah kota melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI). Dengan demikian, harapannya masyarakat tidak perlu khawatir terkait akses layanan kesehatan.

‎“BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan ini berbeda. Kalau BPJS Kesehatan sudah hampir semua warga Bekasi ter-cover lewat PBI yang dibiayai pemkot, maka BPJS Ketenagakerjaan adalah langkah tambahan kita untuk melindungi pekerja rentan dari risiko kecelakaan kerja hingga kematian,” jelasnya.

‎“Perlindungan ini adalah bentuk nyata keadilan sosial. Kota ini akan semakin nyaman dan sejahtera bila para pejuang kehidupan juga mendapat perlindungan,” tambahnya.

‎Dengan kebijakan ini, Pemkot Bekasi berharap para pekerja rentan bisa bekerja lebih tenang, sekaligus memahami bahwa perlindungan kesehatan dan ketenagakerjaan kini hadir secara menyeluruh untuk mereka.

‎Nantinya, calon penerima manfaat akan diseleksi berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang sebelumnya dikenal sebagai Data Terpadu kesejahteraan Sosial (DTKS).

‎“Bagi kami, kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil harus jadi prioritas, khususnya melindungi para pekerja rentan yang selama ini menggerakkan ekonomi Kota Bekasi. Kota ini akan semakin nyaman, aman, dan sejahtera bila para pejuang kehidupan juga mendapatkan rasa keadilan dan perlindungan,” ujarnya.

 

Pewarta/Editor: Riki/Ismail Hasibuan

BEKASI TOP