
“Peristiwa itu sangat menyedihkan bagi saya dan teman-teman yang ada di lokasi saat itu. Terjadi seminggu sebelum kami Ujian Akhir Nasional. Bahkan saat ikut ujian, perban masih basah dan muka saya digips hanya menyisakan lubang mata, hidung dan mulut dengan gerak yang serba terbatas. Alhamdulilah saya bisa lulus meski dengan keterbatasan tentunya”, begitu penuturan Wahyu kumis saat launching pertama Kepengurusan Boedoet 89 di Serabi NHI Cempaka Putih pada Kamis (27/7/2019).
Saat itu, lanjut Wahyu, tidak jelas apa yang menjadi awal dari keributan, yang jelas sekelompok anak STM Negeri 1 Jakarta yang letaknya bersebelahan dengan SMA Negeri 1 Jakarta datang menyerbu dan kontan saja serangan itu disambut oleh anak-anak ‘SMA Boedoet’ dengan kembali menyerang balik.
Namun ketika kembali menyerang, jumlah anak SMA Boedoet yang tadinya banyak pun menyusut hanya menyisakan 10 orang, hanya tersisa Wahyu dan kawan-kawannya, otomatis mereka jadi bulan-bulanan anak STM itu. Akibat dari peristiwa itu, tulang hidung Wahyu pun terpaksa ‘diambil’ oleh dokter-dokter di RSPAD dan kawan-kawannya pun juga dilarikan ke RSPAD.
Ekses dari peristiwa itu bukan hanya korban luka namun Lab Kimia legendaris karena letaknya memang di depan dekat pintu masuk porak-poranda. Beruntung tidak terbakar, bisa dibayangkan jika zat-zat kimia yang berbahaya ikut terbakar akan memantik kebakaran hebat gedung sekolah yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemda DKI.
Namun, kerusakan justru terjadi di bangunan bagian samping yang berbatasan dengan STMN 1 itu, beberapa sekretariat kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Palasi, Lab Elektronik rusak parah. Selain itu, mobil seorang guru yang baru dari hasil kreditan dan belum lunas, kaca mobilnya hancur berantakan sementara beberapa bagian mobilnya penyok.
Peristiwa itu memang diluar tradisi ‘berantem’ ala anak Boedoet. Jarang terjadi ekses antar sesama penghuni komplek jalan Budi Utomo sejak dulu. Kalau pun mereka punya musuh, lokasinya pun di luar jangkauan sekolah bahkan seteru abadinya adalah SMAN 10 atau lebih dikenal sebagai ‘anak captoen’.
Tradisi kekerasan itu pun dialami oleh Komunitas Boedoet 89, mereka pun harus melalui masa-masa SMA-nya dengan cukup keras dimana tradisi sarapan pagi (sebagian siswa) dan makan siang disambi dengan menghadang bus angkutan umum yang diperkirakan diisi oleh siswa SMA seteru mereka. Belum lagi event Turnamen Basket SMA Se- Jakarta, yang kerap jadi ajang tawuran antara anak SMAN 1 Jakarta dan tim lawan.
Di era Boedoet 89 terjadi sebuah hal heboh dimana sekolah SMAN 1 Jakarta digeledah dan anak-anak Boedoet 89 ditangkap saat subuh oleh aparat lantaran tawuran usai turnamen basket itu , kelompok tim lawan memakai mobil aparat (mungkin karena orang tuanya dinas di instansi itu) dan mobil tersebut rusak akibat tawuran itu.
Sepanjang masa sekolah di SMA Negeri 1 Jakarta, Boedoet 89 harus waspada dan survival jaga diri apabila bertemu seteru mereka di daerah Poncol, Senen, Gunung Sahari dan Pasar Baru, tempat-tempat dimana keributan itu kerap terjadi.
Setelah era Boedoet 89, tradisi tawuran itu pun mulai mengendur tidak segarang yang dialami oleh anak-anak Boedoet 89. Namun, justru setelah mereka lulus di Oktober 1989 justru peristiwa pembakaran beberapa bangunan di SMAN 1 Jakarta terjadi. Bahkan akibat peristiwa itu, Kepala Sekolah di kawasan itu diganti dan dibuat kesepakatan yang ditaati hingga kini bahwa sesama penghuni Kawasan Boedoet tidak boleh saling serang.
Tapi itu dulu, kini Boedoet 89 sudah bermetamorfosis menjadi orang-orang yang punya kesadaran dan tanggung jawab. Banyak diantara mereka sudah menjadi tokoh hebat dan punya andil besar di masyarakat. Sebut saja:
1.Fritz Simatupang, merupakan arsitek handal yang masuk dalam nominasi Earns and Young Award.
2.Angelica Tengker, merupakan penggiat dan pakar bidang pendidikan serta komunikasi di Indonesia.
3.Profesor Nandi Setiadi, merupakan Guru Besar termuda Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
4.Dr. Irfan Wahyudi, merupakan ahli Urologi dan sekaligus salah satu pimpinan di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo.
5.Sigit Purnomo, merupakan penggiat dan Ahli Ekonomi Syariah di Indonesia.
6.Eko R. Gindo, merupakan banker yang piawai dan saat ini menduduki jabatan sebagai Direktur Utama Bank Bukopin.
7.Luki Alamsyah, merupakan salah satu founder dan motivator ESQ.165.
8.Erwin Sukmawan, merupakan penggiat logistik perairan di Indonesia.
9.Ahmad Robby, merupakan penggiat usaha Tour and Travel di Indonesia.
10.Boy Hidayat Lubis, merupakan expert dalam bidang Informatika, dan sekaligus pendiri Ikatan Ahli Informatika Indonesia.
Setelah melewati waktu 30 tahun, mereka berkumpul kembali dan baru mengukuhkan Kepengurusan Boedoet 89 tentunya ada alasan khusus, apalagi kalau bukan kebersamaan dan persaudaraan yang pernah mereka lalui bersama semasa SMA.
“Boedoet 89 itu tidak mengenal gank, sebagaimana angkatan-angkatan di atas kami terdahulu. Kalau pun saat itu kami maju tawuran atau pun pada kegiatan positif lainnya, semua satu dalam wadah Boedoet 89. Itu terbawa hingga kami jadi alumni. Setiap kegiatan yang ada dilaksanakan secara kolektif dan kolegial. Jadi siapapun yang tampil dalam setiap kegiatan mewakili Boedoet 89 ditunjuk dan berdasarkan kebiasaan dan kesiapan personil Boedoet 89 semata pada saat itu”, ujar Wahyu Takwa Dhie, Ketua Umum Boedoet 89.
Angelica Tangker pun menambahkan,”Tradisi dan jiwa korsa ala Boedoet sewaktu SMA dulu setidaknya membentuk kami hingga seperti sekarang ini. Kami jadi terlatih berstrategi dan berfikir cepat serta berani mengambil keputusan terutama di saat-saat genting”.
Tapi Wahyu tak memungkiri, ekses perbedaan sudut pandang politik di tahun-tahun terakhir mampu sedikit mengurangi solidnya Boedoet 89. Namun, ketika memori ingatan dibalikkan ke masa SMA mereka terutama pada peristiwa Tragedi Kelabu itu mereka pun sadar pada dasarnya mereka tetap satu dan solid. Selain itu, dengan terbentuk Kepengurusan Boedoet 89, khalayak khususnya di lingkungan Alumni Boedoet tidak bingung tentang siapa yang mengurusi Boedoet 89.
Kepengurusan yang terbentuk, menyepakati Wahyu Taqwa Dhie sebagai Ketua Umum dibantu oleh Ketua I Ahmad Robby, Ketua II Angelica Tengker.
Susunan lengkap kepengurusan Boedoet 89 adalah:
Ketua Umum : Wahyu Taqwa Dhie
Ketua I : Ahmad Robby
Ketua II : Angelica Tengker
Sekretariat Jenderal : Ade Mulyanti, Didiek Rahmadi, dan Ahmad Syarif
Bendahara : Kartika Wulansari, Nuryani Yunus, dan Luki Alamsyah
Bidang Keanggotaan : Noviana Rahatmi, dan Elfatah Karim
Bidang Kegiatan dan Dokumentasi : R Beni Sugiharto, dan KA Vivi Reyanti
Bidang Sosial dan Kemasyarakatan : Erwin Soekmawan, dan Grace Tanus
Bidang Komunikasi dan Informasi : Hariawan D, dan Ade Vidiyanto S
Bidang Kerohanian : Cynthia Fairryana, dan Puti Yuniati
Selain memiliki struktur kepengurusan, Chapter Link Boedoet ’89 di luarnegeri pun ada, untuk koneksi dan kontak dalam kemudahan Boedoet ’89 jika berada di negara tsb : Chapter Menchester – UK, Chapter Amsterdam – Belanda, Chapter Hongkong – RRC, Chapter Brusel – Belgia, Chapter Toronto – Canada, Chapter Sydney – Australia, Chapter Narita – Jepang, Chapter Tokyo – Jepang, Chapter Italia.
Ditunjuknya Wahyu Taqwa Die sebagai Ketua Boedoet 89 bukannya tanpa alasan, segudang prestasi telah dia toreh. Di tahun 2005, ditunjuk sebagai tim asistensi Menteri Perdagangan dalam membidani lahirnya Undang Undang Resi Gudang di Indonesia. Tahun 2008, General Manager Corporate Treasury pada PT.Pertamina Patra Niaga (anak usaha PT. Pertamina (Persero), dan setahun kemudian menjadi Vice President Corporate Treasury di tempat yang sama (salah satu Vice President termuda di lingkungan PT. Pertamina (Persero) dan membawa PT. Pertamina Patra Niaga meraih “Triple A Award” se Asia Pacific di Hong Kong di tahun 2013, dengan predikat : Best Logistic and Trading – Structured Trade Finance Solution.
Kegiatan pertama Kepengurusan Boedoet 89 yang akan dilakukan adalah pada 8 September 2019 nanti akan menyelenggarakan jalan santai bersama dengan rute nostalgia wilayah yang pernah mereka jelajahi semasa SMA: Lapangan Banteng, Gunung Sahari dan Pasar Baru. Ketika merilis kegiatan ini di Kamis (25/7) tadi, tergambar jelas kebersamaan dan kemesraan mereka seperti yang pernah mereka jalani semasa sma dulu. Pasca gelaran kegiatan pertama, mereka pun akan menyiapkan program-program lanjutan agar silaturahim antara sesama warga Boedoet 89 tetap terjalin.
Seperti yang kerap dilontarkan oleh Chairul Tanjung, Ketua Umum Ikaboedoet bahwa Boedoet melahirkan lulusannya yang unik dan sesuai dengan karakter pribadi mereka. Itu pula yang ada di Boedoet 89. Wahyu Taqwa Die mengilustrasikan tentang keunikan mereka itu dengan sebuah frasa,” Kami adalah pecahan-pecahan kaca yang beragam bentuk dan warna. Namun ketika disatukan dan ditata ala mozaik dalam bingkainya akan jadi lukisan dan gambar yang indah”.
Keunikan dan keberagaman keluarga besar Boedoet 89 merupakan asset dan khazanah yang perlu dijaga dan pelihara. Di tangan Wahyu dan kawan-kawan Pengurus Boedoet 89 yang perdana ini diharapkan kebersamaan dan kekeluargaan jadi energi dan lentera utama dalam mendukung dan memayungi kegiatan keluarga besar Boedoet 89 di masa yang akan datang.[REL/POB]

