
BEKASI KOTA, POSBEKASI.com – Mari kita jadikan baju oranye lengan pendek bukan sekadar pakaian, tetapi tanda keberanian sipil.
Oranye hari ini kita pakai sebagai simbol dukungan kepada dr.Tifa dan Mas Roy, dan siapapun yang berani berdiri di atas keyakinannya, menanggung risiko sosial, hukum, dan politik, karena ia percaya bahwa kebenaran harus dibela.
Dalam hidup berbangsa, orang yang memegang teguh kebenaran sering tidak berjalan di jalan yang nyaman. Ia bisa disalahpahami, difitnah, bahkan dikucilkan. Tetapi sejarah selalu mengajarkan: perubahan besar tidak lahir dari orang yang diam, melainkan dari mereka yang tetap tegak ketika tekanan datang.
Karena itu, mari memakai baju oranye lengan pendek sebagai pesan sederhana namun kuat: kami menghormati keberanian, kami mendukung kejujuran, dan kami berdiri bersama orang-orang yang tidak menjual keyakinannya demi rasa aman palsu.
Pakailah dengan tenang, bukan dengan kebencian. Pakailah dengan kepala tegak, bukan untuk menyerang siapa pun, tetapi untuk mengingatkan bahwa bangsa ini masih membutuhkan manusia-manusia yang berani berkata benar, meskipun tidak mudah.
Oranye bukan warna kekalahan. Oranye adalah warna kesaksian: bahwa kebenaran layak diperjuangkan.
Baju Oranye Itu Tidak Selalu Tentang Kekalahan
Saya membaca berita itu dari jauh. Dari sebuah kafe jalan seberang hotel Şorat Berlin. Kopi ditemani sepotong kroisang.
Ribuan kilometer dari Indonesia, saya menyaksikan layar demi layar menampilkan foto yang sama. Kerumunan manusia. Sorotan kamera. Wajah-wajah yang tegang. Dan di tengah semuanya, seorang perempuan dengan baju oranye yang menjadi pusat perhatian. Itu kawan saya, Tifa (dr Tifauzia Tyassuma). Beberapa waktu lalu saya mengeditori bukunya “Jalan Samurai Akademik”)
Sebagian orang melihat foto itu dan langsung menarik kesimpulan.
Begitulah zaman kita bekerja.
Sebuah gambar lebih cepat membentuk vonis daripada seribu halaman penjelasan. Sebuah warna pakaian sering kali lebih kuat daripada argumen. Dan dalam hitungan menit, ruang publik berubah menjadi ruang penghakiman.
Tetapi saya, yang mengenal dengan baik jiwa Tifa sejak sama sama menjadi siswa lalu mahasiswa di Jogjakarta, memandang foto itu dengan cara yang berbeda.
Mungkin karena saya mengenal orangnya.
Mungkin karena saya tahu bahwa perjalanan hidup manusia tidak pernah dapat diringkas hanya oleh satu momen.
Atau mungkin karena saya percaya bahwa sejarah hampir selalu lebih rumit daripada headline berita.
Bagi banyak orang, baju oranye adalah simbol kehinaan. Begitulah baju tahanan polisi itu dipahami.
Seolah Simbol kekalahan.
Simbol berakhirnya sebuah perjuangan.
Tetapi saya teringat bahwa sepanjang sejarah peradaban, banyak simbol yang pada mulanya dianggap sebagai tanda kekalahan justru kemudian berubah menjadi lambang keberanian.
Penjara tidak selalu melahirkan penjahat.
Kadang ia melahirkan martir. Pejuang sejati.
Kadang ia melahirkan pemikir. Seorang cendekia aktivis.
Kadang ia melahirkan orang-orang yang tetap mempertahankan keyakinannya ketika seluruh dunia meminta mereka untuk menyerah.
****
Saya tidak sedang berbicara tentang benar atau salahnya suatu perkara. Itu wilayah yang harus dihormati sebagai proses hukum.
Saya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih tua dari hukum, yaitu keberanian manusia untuk memikul konsekuensi dari apa yang diyakininya.
Karena sesungguhnya setiap perjuangan memiliki harga.
Tidak ada sejarah perubahan yang lahir dari kenyamanan.
Tidak ada gagasan yang mengguncang kekuasaan tanpa risiko.
Tidak ada suara yang terus bertahan melawan arus tanpa kemungkinan untuk diserang, dicemooh, atau disingkirkan.
Dalam tradisi Islam, terdapat konsep jihad yang sering disalahpahami sebagai semata-mata peperangan fisik. Padahal para ulama sejak dahulu menjelaskan bahwa jihad yang paling berat adalah perjuangan mempertahankan keyakinan, integritas, dan kebenaran di tengah tekanan yang besar.
Jihad adalah ketika seseorang tetap berdiri saat lebih mudah untuk berlutut.
Jihad adalah ketika seseorang tetap berbicara saat diam lebih menguntungkan.
Jihad adalah ketika seseorang memilih risiko demi sesuatu yang menurut hati nuraninya benar.
Karena itu, bagi saya pribadi, jika seseorang sungguh-sungguh berjuang demi apa yang diyakininya sebagai kebenaran, lalu harus menanggung konsekuensi dari perjuangan tersebut, maka yang sedang kita saksikan bukan hanya sebuah peristiwa hukum.
Saya mendapati itu pada Tifa. Seorang perempuan yg sejak masa pendidikan dasar sudah jadi pejuang dan petarung.
Justru
Yang sedang kita saksikan adalah drama moral manusia.
Drama tentang keyakinan.
Drama tentang harga yang harus dibayar untuk sebuah pendirian.
Drama yang selalu berulang sepanjang sejarah.
Dalam konteks ini, baju oranye kehilangan makna simboliknya sebagai pakaian tahanan.
Ia berubah menjadi sesuatu yang lain.
Ia menjadi artefak.
Artefak sejarah.
Artefak yang menyimpan cerita tentang satu fase kehidupan seseorang pejuang.
Kelak, entah bagaimana sejarah menilainya, foto-foto itu akan tetap ada.
Generasi mendatang mungkin akan melihatnya dengan cara yang berbeda dari kita hari ini.
Mereka mungkin tidak lagi mengingat perdebatan media sosial.
Mereka mungkin tidak lagi mengingat tagar yang sempat viral.
Tetapi mereka akan melihat satu gambar dan bertanya:
Apa yang membuat seseorang bersedia menanggung semua itu?
Pertanyaan itulah yang sesungguhnya penting.
Karena pada akhirnya manusia tidak dikenang hanya karena kemenangan yang diraihnya.
Manusia sering dikenang karena penderitaan yang bersedia ia tanggung demi keyakinannya.
Saya tidak tahu bagaimana sejarah akan menulis bab ini.
Tidak seorang pun tahu.
Tetapi saya tahu bahwa ada perbedaan besar antara mereka yang mengikuti arus dan mereka yang bersedia menghadapi badai.
Dan ketika saya melihat foto itu dari negeri yang jauh, saya tidak pertama-tama melihat warna oranyenya.
Saya melihat keberanian seorang manusia yang sedang memasuki salah satu babak terberat dalam hidupnya.
Selebihnya, biarlah waktu yang bekerja.
Karena sejarah memiliki kebiasaan yang unik.
Ia sering terlambat memberi penilaian.
Tetapi ia hampir tidak pernah lupa.
(MF, Berlin 21 Juni 2026)
Oleh Mikael Faris

