Posbekasi.com

Nuklir sebagai Teknologi Energi High Class Global

By: Irwanuddin H.I. Kulla (Tenaga Ahli Menteri ESDM RI Bid. Pengembangan Potensi Pemanfaatan Tenaga Nuklir / Dekan FT UPDM (B) / Direktur PUSPINEBT ICMI).

JAKARTA, POSBEKASI.com : Teknologi nuklir merupakan salah satu penemuan mutakhir yang paling transformatif dalam peradaban manusia. Dalam lanskap teknologi energi modern, nuklir memegang peran sentral dalam transisi energi dan iklim global. Teknologi ini mampu mewujudkan tercapainya Net Zero Emission (NZE) karena merupakan sumber energi rendah karbon yang dapat beroperasi 24 jam penuh. Di sisi lain, nuklir berperan penting dalam efisiensi ekstrem energi karena sangat ekonomis dalam penggunaan bahan bakar.

Dalam inovasi teknologi, nuklir dikategorikan sebagai teknologi energi high class peradaban global. Hal ini karena nuklir menjadi teknologi energi masa depan dunia yang lebih fleksibel, lebih murah, serta dapat dipasang di wilayah terpencil atau kepulauan. Dalam pemanfaatan dan pengembangannya, teknologi nuklir berfokus pada keselamatan pasif (sistem mati dengan sendirinya jika terjadi anomali) dan memiliki variasi bahan bakar yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Selain itu, teknologi nuklir memainkan peran strategis dalam aplikasi non-energi yang mengubah peradaban. Di bidang kesehatan, nuklir digunakan untuk kebutuhan diagnosis dan terapi radiasi penyembuhan kanker. Di bidang pertanian dan pertambangan, aplikasinya mencakup penggunaan isotop untuk menciptakan varietas tanaman pangan tahan hama hingga teknik penanggalan karbon (carbon dating).

Saat ini, teknologi nuklir menyumbang sekitar 9% dari total pasokan listrik global, yang mewakili lebih dari 20% listrik rendah karbon di dunia. Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), kontribusi nuklir dalam ekonomi global mampu memproduksi sekitar 2.667 TWh listrik.

Berdasarkan data International Atomic Energy Agency (IAEA) tahun 2025, beberapa negara sangat bergantung pada nuklir untuk menggerakkan ekonominya, seperti Prancis (sekitar 70%), Slovakia (60,6%), Hungaria (sekitar 47,1%), Ukraina (52,0%), dan Belgia (41,5%).

Dalam hal volume produksi energi nuklir terbesar dunia untuk menopang ekonomi industri, beberapa negara mencatatkan angka signifikan:

Rusia: PLTN menyumbang sekitar 20% dari total produksi listrik nasional. Keberadaan industri nuklir Rusia mampu mendukung ekonomi domestik dengan memasok energi dasar untuk industri berat, sekaligus menjadi motor penggerak ekspor teknologi dan jasa nuklir global.

Amerika Serikat: Menyumbang sekitar 18,2% dari total pasokan listrik domestik USA.

China: Mencatatkan pertumbuhan PLTN tercepat sejak tahun 1986 dan menghasilkan sekitar 4,7% dari total listrik domestiknya guna mendukung manufaktur serta pertumbuhan PDB nasional secara pesat.

Teknologi industri nuklir memainkan peran makroekonomi yang vital melalui ketahanan energi domestik maupun ekspor teknologi dan layanan. Lebih lanjut, industri kelistrikan nuklir memiliki faktor kapasitas (capacity factor) yang paling efisien dan andal—sebuah indikator yang menunjukkan seberapa sering pembangkit beroperasi pada kapasitas maksimumnya sepanjang tahun.

Dari sudut pandang ketahanan ekonomi dan stabilitas jaringan (baseload), berikut adalah perbandingan PLTN dengan energi fosil maupun energi terbarukan:

1. PLTN: Dapat mencapai faktor kapasitas rata-rata di atas 90%, dan mampu menyuplai listrik secara stabil selama 1,5 hingga 2 tahun tanpa henti sebelum memasuki masa pengisian ulang bahan bakar.

2. Energi Fosil: Pembangkit listrik tenaga gas beroperasi dengan faktor kapasitas sekitar 60%, sementara batu bara berkisar antara 40% – 50% (karena sering digunakan sebagai penyeimbang beban/load follower).

3. Energi Terbarukan: Memiliki angka yang lebih rendah dan bersifat intermiten (tergantung cuaca). Faktor kapasitas energi angin rata-rata 30% – 40%, sedangkan energi surya berkisar antara 20% – 25%.

Dalam hal kepadatan energi (energy density), bahan bakar nuklir memiliki densitas yang sangat ekstrem dibandingkan sumber energi lainnya. Sebagai gambaran, penggunaan satu kilogram uranium dapat menghasilkan jutaan kali lebih banyak energi daripada satu kilogram batu bara atau minyak bumi. Karakteristik ini membuat rantai pasok bahan bakar nuklir sangat efisien dari sisi logistik.

Meskipun gas alam memiliki efisiensi tertinggi dalam hal konversi panas, namun jika berbicara mengenai reliabilitas, ketersediaan daya tanpa emisi, dan kapasitas maksimal (faktor kapasitas), energi nuklir jauh lebih unggul. Itulah mengapa nuklir layak disebut sebagai teknologi energi high class dalam peradaban teknologi global.

 

Jakarta, 16 Juni 2026

BEKASI TOP