
POSBEKASI.com, BEKASI KOTA – Polda Metro Jaya tengah mendalami adanya jeda waktu selama 30 menit antara insiden pertama (taksi listrik mogok) dengan tabrakan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Kecelakaan tragis yang terjadi pada Senin (27/4) malam tersebut merenggut 16 nyawa dan menyebabkan 90 orang luka-luka.
“Waktu 30 menit ini masih didalami oleh Puslabfor, termasuk dari perkeretaapian,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto di Mapolda Metro Jaya, Jumat (8/5/2026).
Penyidik saat ini fokus memeriksa runutan kejadian (kronologi) secara mendalam. Polisi telah meminta keterangan dari Kapusdal Daop 1 untuk memahami bagaimana operasional kereta api berjalan pada hari nahas tersebut, mulai dari kecelakaan awal hingga tabrakan susulan.
“Mulai dari awal kejadian sampai dengan terjadi temper antara kereta api listrik dengan taksi online. Setelah itu ada kereta listrik yang mengantre karena ada terjadi kecelakaan, yang ditemper kembali oleh kereta Argo Bromo Anggrek,” ucap Budi.
Fokus penyelidikan juga mengarah pada fungsi Early Warning System (EWS) dan voice logger. Polisi ingin memastikan apakah pusat kendali atau pengawas menara telah memberikan peringatan kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek mengenai adanya rangkaian KRL yang berhenti darurat di depannya.
“Ini masih didalami apakah terkait tentang early warning system ataupun voice logger ataupun informasi yang disampaikan dari pengawas dari menara kepada kereta api Argo Bromo sudah mendapat informasi belum apabila ada di depan kereta api yang sedang mengalami kecelakaan dan berhenti,” tutur Budi.
Selain sistem komunikasi, aspek persinyalan menjadi poin krusial dalam investigasi ini. Muncul dugaan dari keterangan saksi bahwa KA Argo Bromo Anggrek tetap mendapatkan sinyal hijau untuk melintas di wilayah Tambun, meskipun ada kendala di lintasan depan.
“Ini juga masih didalami tentang sinyal hijau. Saksi memberikan sinyal hijau kepada kereta api Argo Bromo Anggrek nomor 4B yang melintas di wilayah Tambun. Nah, ini juga masih dilakukan pendalaman oleh Puslabfor, penyidik, serta KNKT,” katanya.
Sebagai informasi, tragedi ini bermula saat sebuah taksi listrik Green SM mengalami gangguan sistem kelistrikan dan mogok di perlintasan sebidang. Mobil tersebut dihantam oleh KRL tujuan Cikarang yang kemudian harus berhenti darurat di Stasiun Bekasi Timur.
“Insiden itu dipicu oleh mogoknya taksi Green SM di tengah perlintasan sebidang akibat gangguan sistem kelistrikan. Mobil tersebut kemudian dihantam oleh KRL yang melintas,” jelas keterangan dalam laporan kepolisian.
Nahas, saat KRL sedang dalam posisi berhenti akibat kecelakaan pertama, rangkaian tersebut justru ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek. Benturan keras ini mengakibatkan gerbong belakang yang dikhususkan untuk penumpang wanita ringsek parah dan memakan banyak korban jiwa. [yan]

