Posbekasi.com

HARI SANTRI: Jembatan Tradisi dan Pilar Bangsa

POSBEKASI.com | Oleh: H. Syahrir, SE, M.IPol. (Anggota Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Jawa Barat).

MOMENTUM Hari Santri 2025, sekaligus menjadi keprihatinan dan duka mendalam bagi kita semua atas tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, yang mengakibatkan 171 korban, di antaranya 104 selamat dan 67 santri meninggal dunia, yang terjadi pada 29 September 2025

Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Peringatan tahun ini mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.”

Dari pesantren lahir tokoh-tokoh bangsa yang bukan hanya ahli agama, tetapi juga pemikir dan estafet kelanjutan bangsa Indonesia yang lebih beradab dan mulia, karena santri mampu menempatkan agama dan nasionalisme dalam satu tarikan nafas, menunjukkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman, dan pengabdian kepada bangsa merupakan wujud dari ajaran agama.

Di tengah arus globalisasi, saat dunia dilanda krisis nilai, polarisasi sosial, dan disrupsi digital, peran santri justru semakin relevan. Santri masa kini tak hanya menjadi penjaga warisan keilmuan Islam, tetapi juga guardian of civilization, penuntun dunia menuju keseimbangan antara spiritualitas dan kemajuan modern.

Sejarah Hari Santri berakar dari Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan itu menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah kewajiban agama. Resolusi ini, membakar semangat perjuangan nasional yang memadukan nilai keagamaan dan kebangsaan.

Kini, semangat jihad telah bertransformasi, dari perjuangan fisik menjadi perjuangan kultural dan intelektual untuk membangun peradaban. Santri masa kini tidak lagi berjuang di medan perang dengan memegang senjata, namun bertarung dalam medan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jembatan Tradisi dan Pilar Bangsa

Dua hari lalu, tepatnya, 20 Oktober 2025, perjalanan Bangsa Indonesia, genap satu tahun Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sebagai Presiden RI ke-8, diakui banyak pihak atas keberhasilan kinerjanya memimpin kabinet Merah Putih.

Berbagai program strategis dalam perjalanan 365 hari telah dijalankan untuk meletakkan fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Dalam kepemimpinan Prabowo, penanganan persoalan hukum hingga kembalinya puluhan triliun rupiah uang negara berhasil diselamatkan dari koruptor, dan fokus pada kesejahteraan rakyat Indonesia, pendidikan disertai Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berjalan tahun 2025 ini, dan telah meluncurkan program prioritas Mbg dengan anggaran Rp335 triliun untuk tahun 2026.

Hubungan Presiden Prabowo Subianto dan kaum santri di Indonesia adalah narasi yang kaya akan kedekatan historis, komitmen politik, dan visi masa depan. Meskipun berlatar belakang militer yang kuat, Presiden Prabowo telah menunjukkan afinitas yang mendalam terhadap lingkungan pesantren dan peran sentral santri dalam pembangunan bangsa.

Kedekatan Presiden Prabowo dengan pesantren dan para kiai telah terjalin lama. Prabowo sering mengunjungi pesantren, tidak hanya untuk menjalin silaturahmi tetapi juga untuk menimba ilmu dan semangat perjuangan.

Prabowo memandang santri bukan sekadar bagian dari komunitas religius, melainkan sebagai pilar kekuatan dan fondasi kekokohan bangsa. Pengakuan ini tercermin dalam berbagai kesempatan, di mana ia menegaskan bahwa santri akan menjadi penentu arah masa depan Indonesia karena minat mereka yang luas terhadap berbagai keilmuan, baik agama maupun modern.

Pengakuan ini diperkuat dengan penobatannya sebagai Sahabat Santri Indonesia di beberapa wilayah, sebuah simbol nyata penerimaan dan rasa hormat dari komunitas pesantren.

Sejak menjadi Presiden, komitmen Prabowo terhadap pengembangan pesantren dan santri mulai diterjemahkan ke dalam kebijakan yang lebih terstruktur dengan peningkatan bantuan dan anggaran bagi pesantren serta memastikan program-program pemerintah seperti beasiswa, bantuan kesehatan (JKG), dan bantuan pangan (MPG) dapat diakses dan diterima oleh para santri.  memastikan bahwa negara

Prabowo memastikan negara benar benar hadir dengan visi untuk mencetak santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga kompetitif di bidang ilmu pengetahuan modern, sejalan dengan cita-cita santri global, akhlak lokal.

Presiden Prabowo melihat santri sebagai agen kunci dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, dan membangun kemitraan antara Presiden Prabowo dan Santri sebagai investasi strategis untuk masa depan Indonesia.

Dengan mengokohkan jembatan antara tradisi keagamaan yang kuat (akhlak mulia) dan penguasaan ilmu pengetahuan modern, santri diharapkan dapat menjadi motor penggerak peradaban dunia dan penjaga moral bangsa.

Melalui sinergi antara kepemimpinan nasional dan potensi besar yang dimiliki oleh komunitas santri, diharapkan tercipta sebuah ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang beriman, berilmu, mandiri, dan siap memimpin bangsa menuju kemajuan yang berkelanjutan.

Satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo, dalam Sidang Kabinet Paripurna menegaskan bahwa Indonesia berhasil menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang kuat, meski di tengah situasi ketidakpastian dunia. Presiden juga menyoroti keberhasilan pemerintah dalam menjaga defisit APBN di bawah 3 persen dari PDB, serta mengendalikan inflasi di kisaran 2 persen dan menjadi salah satu yang terendah di antara negara G20.

Dalam kesempatan ini, Presiden Prabowo Subianto juga memaparkan sejumlah capaian strategis selama satu tahun pemerintahan, dari bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga pemberantasan korupsi. Presiden Prabowo pun menegaskan bahwa seluruh kerja keras kabinet selama satu tahun terakhir telah membuahkan hasil yang nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 5 persen, tingkat inflasi yang terkendali pada 2 persen, hingga pelaksanaan berbagai program strategis seperti Makan Bergizi Gratis dan Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau puluhan juta penerima manfaat di seluruh pelosok tanah air.

Pemerintah berkomitmen untuk terus melanjutkan kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat, penguatan sumber daya manusia yang unggul dan cerdas, serta pengelolaan ekonomi nasional yang berkelanjutan demi masa depan anak cucu bangsa.

Peran dan Posisi Santri

Pesantren dikenal sebagai benteng toleransi dan moderasi beragama. Peran santri sangat penting dalam menjaga kerukunan antarumat beragama dan membumikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan publik.

Presiden Prabowo Subianto berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan santri bagian fundamental dari SDM Indonesia. Komitmen ini diwujudkan melalui kebijakan yang secara khusus meningkatkan kualitas ekosistem pendidikan di lingkungan pesantren.

Dalam Asta Cita Presiden Prabowo, poin ke-4 “Memperkuat Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pendidikan”, di mana poin ini secara langsung menaungi pengembangan pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan berbasis keagamaan (santri).

Pada Asta Cita poin ke-8 “Memperkuat Penyelarasan Kehidupan yang Harmonis dengan Lingkungan, Alam, dan Budaya, serta Peningkatan Toleransi Antarumat Beragama”, poin ini adalah ruang peran spiritual dan sosial santri.

Secara keseluruhan, santri dilihat dalam Asta Cita sebagai agen pembangunan SDM yang memiliki fondasi moral kuat dan pelopor etika yang diperlukan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan masyarakat yang adil dan makmur menuju Indonesia Emas 2045.**

BEKASI TOP