
posBEKASI.com : SAAT terjadi peristiwa bom Bali l tanggal 12 Oktober 2002 aparat keamanan di Indonesia seperti terhenyak. Sebab peristiwa itu sangat mendunia karena ratusan korban adalah turis mancanegara.
Setelah peristiwa memilukan dan menghebohkan tersebut, Polri segera menerjunkan tim investigasi gabungan bersama polisi Australia. Karena dari 203 korban meninggal sebagian besar warganegara Australia.
Berkat kecepatan bertindak kelompok teroris pengebom 2 kafe di Bali itu berturut-turut berhasil ditangkap. Sebagian di antaranya, Amrozi dan lmam Samudra akhirnya dihukum mati.
Berkaca dari peristiwa Bom Bali l, Polri pada 20 Juni 2003 segera membentuk Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Tim yang terdiri dari anggota-anggota pilihan kemudian berjibaku melawan kelompok-kelompok teroris.
Salah satu perwira yang ikut dalam tim Densus 88 Antiteror Polri yaitu Brigjen Pol Dr Urip Widodo MM. MSi. Belasan tahun berkiprah melawan kelompok-kelompok teroris, Urip sepertinya bisa disebut pakar di bidang penanggulangan teroris.
Mantan Kasatgaswil Jakarta-Banten Densus 88 Antiteror Polri ini sangat paham akan semua pergerakan termasuk sel-sel teroris di ibukota terutama di sekitar Tangerang Selatan dan Serang yang sering jadi basis mereka.
Pengalaman panjang ini menjadikan Urip dipercaya menjadi Direktur Penindakan Densus 88 Antiteror Polri tahun 2017. Saat menjabat ini sejumlah kasus bom di tanah air berhasil diungkap perwira lulusan Akpol 1990 ini.
Belakangan Urip didapuk menjadi Direktur Deteksi Dini Pada Deputi Bidang Intelijen tahun 2021.
Segudang pengalaman mengikuti berbagai kursus antiteror di Korea Selatan dan Amerika Serikat, Urip kemudian menyusun sebuah roadmap tentang upaya pemberantasan teroris berdasarkan pengalaman yang terjadi di Indonesia.
Ia menawarkan teori kebijakan “Forecasting Pencegahan Terorisme Berbasis Pemolisian Demokratis Dalam Perspektif Keamanan Negara”. Tema yang ditawarkan Urip menjadi judul disertasi program doktor di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Selasa (11/2/2025).
Apa yang ditawarkan Urip Widodo, di depan sidang guru besar yang diketuai Prof Dadang Hartanto, disambut antusias tim promotor dan penguji. Urip dinyatakan lulus dengan angka memuaskan.
Urip mengemukakan ketidaksetujuannya atas kebijakan deradikalisasi oleh pemerintah yang memberikan bantuan bagi napi teroris. Ia cenderung sebaiknya dana itu diperuntukkan bagi anggota-anggota Densus dan keluarga.
Di antara tim penguji terdapat Kabaharkam Polri Komjen Pol Dr Fadil lmran dan Dr Bagus Sudarmanto, dari Universitas Indonesia dan Profesor Kiky dari Universitas Bhayangkara Jakarta serta Direktur Pasca Sarjana STIK Brigjen Pol. Endra Zulfan.
Urip Widodo, merasa bersyukur usai berhasil meraih gelar doktor.
“Saya bersyukur dapat memberikan sumbangsih, pemikiran bagi nusa dan bangsa terutama dalam pemberantasan teroris, ” tutur Urip. (nico karundeng)

