Bekasi Online

Waspada Bencana Hidrometeorologi & La Nina

Tim gabungan BPBD Kota Bekasi mengevakuasi warga Perumahan Pondok Gede Permai akibat banjir melanda Kota Bekasi sebanyak 126 titik di 12 kecamatan, Sabtu (20/2/2021). [Posbekasi.com /BPBD Kota Bekasi]
POSBEKASI.COM | JAKARTA – Hujan intensitas tinggi jelang akhir Maret masih mengakibatkan banjir di beberapa wilayah di Bandung, Sumedang, Nganjuk, Garut dan Banjar. Meskipun prediksi puncak musim hujan terjadi pada Februari, bencana hidrometeorologi masih mengancam.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan musim kemarau 2021 akan mulai terjadi pada April 2021, sebagian Jawa. Sedangkan, 27,5 persen wilayah akan memasuki musim kemarau pada Juni 2021, juga meliputi sebagian Jawa.

“April sampai Mei 2021 merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau (masa pancaroba) meski sejumlah daerah mulai memasuki musim kemarau namun tidak serentak,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati yang dikutip dari siaran pers, Senin (29/3/2021).

BMKG merilis bahwa hasil pemantauan terhadap anomali iklim global menunjukkan kondisi La Nina diprediksi masih akan terus berlangsung hingga Mei 2021 dengan intensitas terus melemah. Sementara itu, pemantauan kondisi Indian Ocean Dipole Mode (IOD) diprediksi netral hingga September 2021.

Lebih lanjut BMKG mengingatkan bahwa April hingga Mei merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Catatan imbauan menyikapi prakiraan tersebut yaitu waspada terhadap potensi hujan lebat dengan durasi singkat, angin kencang, puting beliung maupun potensi hujan es yang biasa terjadi pada periode tersebut.

KLIK : BPBD Edukasi Kebencanaan, Banjir Bekasi Jadikan Pembelajaran

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerima laporan kejadian banjir melanda wilayah Kabupaten Bandung, pada Kamis (25/3/2021). Banjir yang terjadi pada pukul 16.30 WIB menggenangi 9 desa di lima kecamatan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa curah hujan tinggi memicu aliran anak sungai yang mengairi Sungai Citarum tidak mampu menampung debit air yang tinggi, hal ini menjadikan air meluap dan menggenangi ribuan rumah warga.

Menurut laporan BPBD Kabupaten Bandung terdapat total korban 17.107 KK (60.539 jiwa) terdampak, yaitu di Kecamatan Dayeuhkolot 5.761 KK (19.950 Jiwa), Bojongsoang 2.482 KK (7.070 Jiwa), Baleendah 8.624 KK (32.799 Jiwa), Rancaekek 240 KK (720 Jiwa).

Di sisi lain, total korban yang mengungsi sebanyak 13 KK (39 Jiwa), meliputi di Dayeuhkolot 9 KK (24 Jiwa) dan Baleendah 4 KK (15 Jiwa).

Sedangkan dampak lain yaitu banjir yang menggenangi rumah warga sebanyak 10. 572 unit di Kecamatan Dayeuhkolot 4.165 unit, 4.439 unit di Baleendah dan 1.968 unit di Bojongsoang.

KLIK: Dinas Pertanian Bantu Pengadaan Bibit 19.433 Ha Sawah Terdampak Banjir

Total fasilitas umum terendam yaitu sarana ibadah dan sekolah umum, seperti di Kecamatan Dayeuhkolot 8 unit sarana Ibadah dan 2 unit sekolah, di Kecamatan Baleendah 26 unit sekolah dan 38 unit sarana ibadah serta 7 titik jalan raya tergenang banjir.

Di samping banjir di beberapa wilayah, hujan deras memicu terjadinya banjir dan tanah longsor. BNPB mendapatkan informasi tanah longsor terjadi di Kabupaten Ciamis. Insiden ini terjadi pada Kamis sore (25/3/2021)

Berdasarkan data terbaru BPBD Kabupaten Ciamis melaporkan wilayah yang terdampak banjir dan tanah longsor yaitu di Dusun Rancah, Desa Rancah, Kecamatan Rancah, Ciamis. Satu unit rumah rusak ringan dan satu lainnya rusak sedang. BPBD juga melaporkan bahwa dua unit rumah warga terancam longsoran. Pada insiden ini, satu warga dilaporkan mengalami luka ringan dan telah mendapatkan perawatan.[CHY]

BEKASI TOP