Pelatihan Seni dan Bela Diri Bagi Petugas Polisi

Satuan Lalulintas latihan seni bela diri.[Google]

POSBEKASI.COM – Pada umumnya orang melihat tugas polisi adalah tugas menangkap penjahat, mengatasi masalah criminal, dan berbagai tugas pengamanan yang cenderung menggunakan fisik, bahkan adakalanya menggunakan senjata dalam melaksanakan tugasnya.

Belum lagi sebagai penegak hukum yang melakukan pengejaran, penangkapan, tembak menembak, seperti banyak dibayanngkan dalam film-film. Hal tersebut telah menjadi brand tugas kepolisian.

Pada hakekatnya, tugas kepolisian adalah untuk kemanusiaan. Polisi bekerja untuk meindungi harkat dan martabat manusia serta meningkatkan kualitas hidup mereka.

Dalam pekerjaannya, polisi memang harus berani melawan kejahatan dan berbagai hal yang kontra produktif bagi hidup dan kehidupan masyararakat. Polisi sebagi hukum yang hidup, yang menjadi ikon peradaban, penyelenggaraan tugasnya memberikan jaminan keamanan dan adanya rasa aman warga masyarakat. Mewujudkan dan memelihara keamanan dan rasa aman masyarakat adalah juga menata keteraturan sosial.

Dalam menata keteraturan sosial inilah pekerjaan polisi menjadi kompleks, membutuhkan otak, otot, dan hati nuraninya. Ketegasan dan nyali untuk menghadapi penjahat dalam berbagai bentuk kejahatan diperlukan rasa percaya diri. Rasa percaya diri yang menjadi nyalinya sebagai pengayom, pelindung, pelayan masyarakat dan penegak hukum.

Di sinilah perlunya pelatihan bela diri. Filosofi beladiri adalah kejujuran ketangguhan dan penghormatan akan kemanusiaan. Bela diri yang diajarkan dalam Kepolisian Jepang adalah judo dan kendo. Selain melestarikan budaya dan tradisi juga ada seninya. Di dalam bela diri ada seni untk melemahkan melumpuhkan dan pertahanan atau bela diri.

Polisi sebagai ikon peradaban dalam mewujudkan dan menjaga keteraturan sosial diperlukan adanya seni yang mengasah hati nuraninya. Sehingga dalam menyelenggarakan tugas bukan sebatas doktrin atau atas perintah-perintah, bukan pula hasil hafalan juga bukan fotocopi.

Dalam proses menata, seni menjadikan peka, peduli, dan ada empati serta bela rasa bagi manusia dan kemanusiaan. Pelajaran seni seperti ikebana atau merangkai bunga menjadi bagian pendidikan Kepolisian Jepang.

Pekerjaan polisi merupakan kemanusiaan yang ada harmoni antara otot, otak, dan hati nurani.  Seni juga merupakan dasar dalam mewujudkan organisasi yang pembelajar, humanis, dan profesional.

Dalam konteks melindungi mengayomi, melayani, dan menegakkan hukum, polisi diwajibkan pula untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Budaya tertib dengan membangun kesadaran warga masyarakat untuk bisa disiplin dan taat aturan. Dengan penegakkan hukum dan keadilan menjadikan tugas polisi juga membangun peradaban.

KLIK : Pelayanan Prima dan Spirit Tingkatkan Kualitas Hidup Masyarakat

Di sinilah ketrampilan bela diri dan seni menjadi bagian kompetensi petugas polisi untuk dapat melakukan penyadaran masyarakat untk disiplin dan taat aturan. Ketaatan terhadap aturan yang karena sadar ini menjadi suatu tantangan bagi petugas polisi untuk menjadi ikon sebagai orang-orang yang beradab.

Polisi adalah kumpulan orang baik yang tugasnya membuat semakin manusiawinya manusiawi, tugas polisi bukan untuk menakut nakuti atau sekedar memaksa melainkan mencerdaskan dan membangun kesadaran. Polisi sebagai ikon peradaban dan ikon hukum yang hidup sebagai penegak hukum dan keadilan, tentu saja polisi tidak boleh memeras atau menerima suap dan bermain-main dengan hal-hal yang ilegal.

Seni budaya dan bela diri dalam pemolisian dapat spirit kepolisian untuk:

  1. Memegang teguh kejujurann,
  2. Meningkatkan kualitas kinerja dengan disiplin dan bekerja keras bagi meningkatnya kualitas hidup masyarakat,
  3. Peka peduli empati dan berbela rasa akan kemanusiaan sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan mqsyarakat,
  4. Mendorong untuk inovatif dan kreatif dalam organisasi pembelajar.

Seni dan beladiri juga dapat sebagai sarana kontak untuk mendekatkan antara polisi dan masyarakat yang dilayaninyq, bukan semata-semata hubungan formal, normatif, tetapi hubungan yang saling mendukung, saling terkait, dan saling mempengaruhi.

Seni dan bela diri dalam pemolisian juga menjadi gaya hidup yang sehat, teratur sehingga para petugas polisi selain humanis juga menjaga menata dan peduli terhadap lingkungan dan sumber daya alam.

Pelestarian lingkungan hidup merupakan bagian dari keteraturan sosial yang juga wajib dipahami oleh petugas polisi untuk cinta dan bangga terhadap tanah air dan lingkungannya yang dapat dikembangkan dalam program sadar wisata.

Polisi sebagai penjaga kehidupan, di dalam berbagai pelayanannya, dapat dirasakan adanya suasana yang aman, nyaman, asri, dan humanis. Semua itu mencerminkan upaya untuk semakin manusiawinya manusia. Selain itu juga untuk pembangunan peradaban.

Penyelenggaraan pemolisian dapat disandingkan dengan seni dan budaya yang disesuaikan dengan corak masyarakat dan kebudayaanya. Yang berupa karya seni baik, lisan,suara, gerak,tulisan,lukis, pahat, dan tata ruang.

Pemahaman dan pendidikan tentang seni dan beladiri bagi petugas polisi merupakan frame work dalam menggunakan otak, otot, dan hati nuraninya. Dengan demikian, tugas-tugas polisi akan menjd inspiratif, informatif, dan menghibur.

Contoh, berbagai novel, cerita komik, cerita anak, film layar lebar, film keluarga, dan sebagainya banyak menggambarkan kehebatan dan keberhasilan tugas polisi sebagai penjaga kehidupan, pembangun peradaban, dan pejuang kemanusiaan.

Seni dan bela diri akan membantu polisi mengangkat citra, membangun kepercayaan, membangun jejaring, membangun kemitraan, dan menjadikan ikon kecepatan, kedekatan, dan persahabatan.[POB]

 

Penulis: Chryshnanda DL

Pin It

Comments are closed.