Tiga Hal yang Menyelamatkan dan Menghancurkan

Kajian Ahad pagi di Mushola Al-Farauq, Taman Juanda, Bekasi Timur.[ARS]

POSBEKASI.COM | KOTA BEKASI – Rasulullah saw bersabda, “Tiga hal menyelamatkan dan tiga hal lainnya menghancurkan.

Tiga hal yang menyelamatkan adalah: takwa kepada Allah dalam kondisi rahasia dan terang-terangan, perkataan kebenaran dalam keadaan ridha atau benci, sederhana dalam keadaan kaya dan miskin.

Adapun yang menghancurkan adalah mengikuti hawa nafsu, kekikiran yang dituruti, orang yang mengagumi dirinya sendiri dan itu paling berat, ” (HR Al-Baihaqi dihasankan oleh Nashiruddin al-Albani).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah di atas, Rasulullah saw menegaskan enam hal: tiga hal yang bisa menghancurkan dan tiga hal lainnya yang menyelamatkan. Pada tulisan ini, kita akan membahas tiga hal yang bisa menghancurkan. Yaitu:

Pertama, mengikuti hawa nafsu. Penyebab seseorang melakukan satu perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah adalah karena mengikuti hawa nafsunya. Karenanya dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. pernah mengatakan, “Tidak beriman seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa,” (RR Ibnu Baththah).

Mengikuti hawa nafsu ini dapat menjadikan seseorang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Ini kebalikan dari pesan yang tersurat dari hadits di atas. Karenanya, salah satu bentuk “menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram” adalah dengan membuang jauh-jauh hawa nafsu yang cenderung mengajak pada kemaksiatan pada Allah. Hal ini akan dapat menjadikan kita termasuk calon penghuni surga.

Kedua, kikir yang dituruti. Kikir dan bakhil adalah sifat yang dibenci Allah. Sifat ini muncul jika manusia telah terbius harta dunia yang selalu menggodanya, sehingga kecintaan terhadap harta melebihi kecintaannya terhadap Allah. Pada dasarnya, sifat kikir adalah watak umum manusia.

Allah berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,” (QS al-Ma’arij: 19-21).

Begitu pentingnya umat Islam menghindari sifat bakhil ini, karena ia bisa melahirkan karakter buruk lainnya. Sifat kikir akan melahirkan sikap egois, tidak peduli kepada orang lain dan bisa berujung pada sifat sombong. Bakhil merupakan buah dan akibat dari cinta dunia. Bagian dari sifat yang ternoda dan akhlak yang tercela. Ketercelaan sifat bakhil disebutkan dalam firman Allah, “(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka,” (QS An-Nisa’: 36).

Ketiga, bangga diri atau ‘ujub

Imam Al-Qurtubi mengatakan, ”’Ujub adalah jika seseorang merasa dirinya sempurna dan lupa itu sebagai nikmat Allah. Jika disertai dengan meremehkan orang lain atau karya orang lain, maka itu kesombongan.”

Karenanya, ada perbedaan antara sombong dan ‘ujub. Sombong dilakukan di hadapan manusia dan ‘ujub membanggakan ibadah dan kebaikan yang sudah dilakukan. Hal ini diharamkan karena tidak punya kesopanan terhadap Allah. Seorang hamba tidak layak membanggakan dan menganggap kebaikan yang dia lakukan lebih besar jika dibandingkan dengan kebesaran Allah. Karenanya, ‘ujub merupakan dosa besar. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyatakan, “‘Ujub bisa menimbulkan kesombongan.”

Hadits di atas menegaskan, bangga diri paling berbahaya untuk membinasakan manusia. Menghancurkan amalnya, menghancurkan nasib di dunia dan masa depannya di akhirat.

Iblis adalah makhluq yang sombong, yang tidak mau bersujud dengan manusia (Adam) atas perintah Allah, karena merasa lebih baik dari Adam yang terbuat dari tanah, Iblis merasa lebih baik karena tercipta dari api. Iblis tadinya adalah penghulu para malaikat. Akhirnya Allah melaknat Iblis dan mengusirnya dari surga karena sifat ujub.

Disarikan dari Kajian Ahad Pagi di Mushola Al-Farauq, Taman Juanda, oleh Ust Saman Badillah.

[Aris]

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published.