Bekasi Online

“Hoegeng” Orang Baik dan Orang Penting [Sambungan-1]

Memang baik menjadi orang penting. Tapi lebih penting menjadi orang baik -Hoegeng Iman Santoso-

Hoegeng Iman Santoso

POSBEKASI.COM – Oleh: Chryshnanda DL

Sejalan dengan kebijakan Kapolri yaitu Profesional, Modern dan Terpercaya (Promoter). Makna profesional secara umum dapat dijabarkan dalam indikator-indikator sebagai berikut: 1. Para pekerja/petugasnya memiliki keahlian/ setidaknya memiliki kompetensi, 2. Pekerjaan yang dilakukan jelas dan terukur berdasar pada standardisasi input, proses maupun outputnya, 3. Produk-produk kinerjanya secara signifikan dapat dirasakan hasilnya oleh masyarakat dalam pelayanan publik yang memenuhi standar kecepatan, ketepatan, keakurasian, transparansi, akuntabilitas, informasi maupun kemudahan mengakses, 4. Etika kerja (do and dont serta sanksinya) berbasis pada SOP yang berisi job description, job analysis, standardisasi keberhasilan tugas, sistem penilaian kinerja, sistem reward and punishment.

Makna modern di era digital, tentu dilihat dari sistem-sistem yang dibangun ada back office, aplikasi, network, sehingga dapat memberikan pelayanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu secara proaktif dan problem solving, yang didukung dengan sistem-sistem komunikasi, koordinasi, komando pengendalian dan informasi. Sistem-sistem modern ini dapat ditunjukkan adanya efektifitas, efisiensi dan memenuhi standar-standar pelayanan prima dengan petugas-petugas yang profesional.

Makna terpercaya adalah dapat diunggulkan dan kinerjanya dirasakan membawa manfaat bagi masyarakat dengan adanya keamanan dan rasa aman.

Dan di dalam melakukan pelayanan kepada publik tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan orang tidak percaya antara lain :  1. Memeras, 2. Menerima suap, 3. Menjadi  backing yg ilegal, 4. Arogan, 5. Apatis/ masa bodoh/ tidak empati, 6. Anarkis/ melakukan kekerasan, 7. Berkata kasar, dan 8. Memprovokasi/ menabur kebencian/ menyulut konflik, dan lain sebagainya.

KLIK : “Hoegeng” Orang Baik dan Orang Penting

Figur seorang polisi yang ideal sebagai raw model memang harus di bangun. Model itu dapat kita ambil dari sosok Hoegeng Iman Santoso. Ia seorang polisi yang bersahaja, yang patut diteladani dari pemikirannya, sikapnya, gaya kepemimpinanya, keberaniannya, kecintaan dan kebanggaannya akan pekerjaannya sebagai petugas polisi.

Tidak mudah menjadi polisi dalam negara yang sedang menghadapi krisis. Sulit juga menjadi polisi yang ideal dalam ketidaknormalan. Idealisme Hoegeng sebagai polisi ia tunjukan kedekatannya kepada masyarakat. Ia menjadi penyiar radio elshinta, bermain musik di hawaian seniors, ia hadiri berbagai acara kemasyarakatan, bahkan saat ada konflik antara Taruna Akpol dengan mahasiswa ITB pun, Hoegeng sendiri turun tangan menyelesaikan.

Betapa ia menyadari apa arti polisi tanpa dukungan masyarakat. Polisi adalah produk masyarakatnya dan para poilisi berasal dari masyarakatnya dan akan kembali kepada masyarakat pula. Dadi polisi anane mung winates, dadi kawulo tanpo winates. “Dadi Polisi kudu ono lelabuhane, ora ono lelabuhane ora ono gunane”

Kedekatan saat ini bisa dibangun dengan sistem teknologi informasi seperti : email, website, blog, facebook, twiter, jaringan SMS, telp 110 juga sistem-sistem jejaring dan backup yang terpadu satu dengan yang lainnya. Namun ada yang dikedepankan sebagai hubungan komunikasi secara langsung dari hati ke hati yang memang masih diperlukan.

Melalui program Community Policing/ polmas setidaknya jaringan komunikasi akan terus dapat dibangun. Bisa juga melalui forum kemitraan polisi masyarakat. Polisi akan menjadi dekat apabila cepat merespon dan cepat bertindak bila ada laporan atau keluhan masyarakat. Dan polisi akan menjadi simbol persahabatan bila keberadaan polisi aman, menyenangkan dan bermanfaat bagi masyarakat.[bersambung]

BEKASI TOP