Bekasi Online

Gaya Kepemimpin Emosional Pepen Hilangkan Kepercayaan Publik

Dua pasang kandidat yang berlaga pada Pilkada Kota Bekasi 2018, paslon nomor urut 1 Rahmat Effendi – Tri Adhyanto, dan paslon  nomor urut 2 Nur Supriyanto – Adhy Firdaus, pada Debat Publik putaran ke 2, Kamis 3 Mei 2018.[IST]
BEKASI, POSBEKASI.COM – Kepercayaan warga Kota Bekasi akan hilang pada calon pemimpin bergaya emosional, masyarakat kecewa Debat Publik Kedua pasangan calon (paslon) Walikota dan Wakil Walikota Bekasi diwarnai kericuhan.

“Ingat, Debat Publik ini diselenggarakan KPU dibiaya dari uang rakyat, kami sangat kecewa atas sikap kubu pendukung paslon yang tidak menghargai penyelenggara itu.” kata Bahar salah seorang Presidium Gabungan Aktivis Bekasi (GAB) saat berbincang kepada Posbekasi.com, Jumat 4 Mei 2018.

Bahar menyayangkan aksi ricuh di ruang debat tersebut “dipicu” dari calon Walikota Bekasi Rahmat Effendi (Pepen) yang memotong pembicaraan penantangnya calon Walikota Bekasi Nur Spriyanto.

“Berita-berita dari berbagai media massa terkesan kericuhan itu justru karena aksi Pepen yang memotong pembicaraan Nur Supriyanto saat memberikan tanggapan atas jawaban sebelumnya. Sangat disayangkan, Pepen tidak menunjukan sikap seorang pemimpin yang baik pada warganya,” katanya.

Selain itu lanjut Bahar, Pepen dapat dikatagorikan melanggar aturan yang ditetapkan penyelenggara karena gaya kepemimpin tidak simpatik yang diperlihatkan Pepen justru mengundang emosional pendukungnya sendiri.

“Sebelum debat, panitia sudah menyampaikan aturan mainnya, salah satunya tidak dibenarkan memotong paslon saat bicara. Parahnya, apa yang diperlihatkan Pepen di atas panggung justru memancing emosi pendukungnya. Ini dilanggar, harusnya KPU dan Panwas memberikan sanksi pada Pepen,” tambahnya.

KLIK : “Gegara” Nur Supriyanto Bicara Kepemimpinan, Pepen Emosi Bikin Pendukungnya “Coreng” Debat Publik Kedua

Seharusnya lanjut Bahar, sebagai petahana Pepen lebih bijak dengan tampil percaya diri dan mampu mengendalikan emosinya serta dapat memperlihatkan kepemimpinan yang dicintai warga.

“Kenapa harus emosi? Kan Pepen calon petahana, harusnya mampu mengendalikan panggung dan menguasai materi. Tadinya kami berpikir, calon petahana lebih cerdas dan lebih mudah menyampaikan apa yang akan dilakukannya pada kepemimpinan selanjutnya. Lima tahun memimpin Kota Bekasi, pastilah Pepen banyak tahu dibandingkan lawannya. Tapi yan terjadi justru aksi tak simpatik ditampilkan Pepen. Ini dapat berakibat buruk, hilangnya kepercayaan publik dan warga akan berpikir dua kali untuk memilihnya. Pertama, soal gaya kepemimpinannya yang tidak mencerminkan mengayomi dan memberi kesejukan pada warganya, dan kedua soal kinerjanya diprediksi tidak akan maksimal pada kemimpinannya diperiode selanjutnya,” terangnya.

Soal “serangan” dari lawan kata Bahar, dinilainya hal itu biasa saja. Namanya juga debat, apalagi Nur Supriyanto bicara masalah kebijakan kepemimpinan bukan menyerang pribadi.

“Apa yang disampaikan Nur Supriyanto itu umum saja. Moderator dan panitia tidak memberi peringatan apapun ke Nur Supriyanto, bahkan moderator meminta Nur Supriyanto melanjutkannya walau suasana masih ricuh. Artinya, tidak ada aturan yang dilanggar Nur Supriyanto apalagi sampai menyerang pribadi seperti dikatakan Pepen. Namanya juga debat, ya harus siap dikritisi lawan donk,” ujarnya.

Debat Publik Kedua yang digelar KPU Kota Bekasi, di Hotel Santika Premiere, Kota Bekasi, Kamis 3 April 2018, patut disayangkan karena warga Kota Bekasi ingin mengetauhi secara pasti tidak saja visi misi tapi juga program paslon membangun Kota Bekasi.

“Kita menyayangkan, akibat ricuh kedua paslon jadi tidak maksimal menyampaikan program lima tahun ke depan membangun Kota Bekasi. Wajar saja warga kecewa dan menuntut KPU untuk mengambil langkah arif dan bijaksana terkait kericuhan itu,” tutupnya.[YAN/POB5]

BEKASI TOP