Bekasi Online

Membeli Nama atau Kualitas Karya?

Salah satu lukisan karya CDL.[DOK]
POSBEKASI.COM – Memang nasib yabg menentukan mujur atau tidaknya hidup seniman. Bagi seniman yang mujur dan terkenal, apapun yang dibuatnya akan dipuji dan diapresiasi tinggi. Termasuk para galery dan kurator pun ikut gelap mata. Apapun semua oke, top markotop dan tanpa ragu dilabel harga tinggi tanpa tahu di mana seninya.

Belum lagi orang-orang yang menjadi penguasa, tatkala ingun mendapat perhatian dan penghargaan tinggi harys tahu seni. Maka apa yang dipegangnya seakan karya Raja Midas yang langsung seketika menjadi emas.

Bagi seniman yang tidak ketiban pulung, hidup bagai dalam kerudungan sarung atau karung, menyesakkan, kembang kembis. Kadang makan, kadang tidak. Seumur hidup bisa saja tidak diakui dan tidak mendapat prestasi. Galeri dan kuratorpun dengan congkak bisa menolaknya.

Aneh bin ajaib, kurator bisa melukis menilai suatu karya lukisan. Tetapi juga bisa dipahami, bahwa pengamat tinju yang belum tentu pernah bertinju. Mengobral pendapat seakan menjual sesuatu yang baik dan benar, dan ajaib lagi menjadi acuan dan selalu dianggap sebagai kebenaran dan dibenarkan.

Kurator san art galery mungkin bisa menjadi pahlawan kebudayaan dan peradaban. Namun sebaliknya, justru sebaliknya malah mematikan dan merusak peradaban dengan seniman-senimannya. Menukar seni dengan uang atau materi.

Kritikus seni sangat penting dan harus dilakukan agar seniman memang strugle bukan karbitan. Menjadi seniman itu pilihan Tuhan, dari musibah sekaligus anugerah.

Namun dalam konteks ini perlu peremnungan panjang atas penjelasan kalimat tadi. Dalam konteks yang lebih hakiki adalah kecerdasan bangsa dalam melihat dan mengapresi suatu karya seni.

Dengan harapan yng baik tidak disingkirkan dan yang kelas jalanan bisa meningkat dari craft menjadi art. Seni memang unik, bahkan aneh dan sarat misteri seperti halnya dengan art unik dan misteri dari hidup ini.[Penulis- Cryshnanda Dwilaksana]

BEKASI TOP