Bekasi Online

Seniman Diantara Idealisme dan Kebutuhan Hidup

Penulis, Cryshnanda Dwilaksana

POSBEKASI.COM – “Ah ini jelek, ga berkelas, ga laku, barang pasaran….”, hinaan kaum berduit mmg menyakitkan. Menilai, mengkritik, menghakimi tanpa kompetensi.

Lihat saja kaum-kaum pengamat, pemilik uang (galeri, kolektor, balai lelang, pedagang seni, dan lainnya) boleh dikatakan ingin yang serba murah dengan kualitas bagus.

Mereka bukan menjembatani agar seniman hidup tetap memblock, bahkan mematikan kreatifitasnya. Apa yang laku dan disukai kaum beruang rame-rame dibuatnya. Tak jarang malah saling jiplak dan dikerjakan secara kolosal.

Makna dan cita rasa seninya menjadi hambar. Art diturunkan menjadi craft. Demi murah dan laku di pasaran. Tidak salah, karena seniman pun harus hidup dan menghidupi keluarganya. Apabila karyanya tidak laku bagaimana ia dapat bertahan untuk hidup.

Kalau boleh mengkritisi dari pemerintah, departemen-departemen yang menangani sangat minim peranya. Tak jarang malah menjadi benalu, malak, meminta bantuan, ngancam marah, membohongi dan banyak kelakuan-kelakuan kontra produktif lainnya.

Program-programnya sebatas seremonial dan menyenangkan ndoronya. Menyerap anggaran cukup sudah.

Idealisme dalam berkarya bagi seniman merupakan batu karang terjal tandus bahkan mungkin padang pasir panjang. Ia harus berani dan mampu memanjat tanpa alat dan alas kaki untuk mencapai puncaknya atau menemukan oasenya.

Tatkala tidak mampu mencapainya maka ia akan jatuh atau setidaknya terluka. Bahkan bisa saja mati mengering tanpa bekas. Tanpa tanda bahwa ia pernah hidup dan ada karyanya.

Idealisme bagi seorang seniman biasanya dihormati, dihargai setelah dirinya tiada. Baru sadar memcari dan berusaha memaknai. Gelo tibo mburi, sesal tiada arti.

Hidup sebagai seniman jika bukan panggilan hidup atau pilihan hidup yang menjadi kecintaanya tidak akan mampu dilalui. Bisa saja ia nyambi dengan pekerjaan-pekerjaan sampingan demi kelangsungan hidupnya.

Konteks seperti ini peran penguasa dan orang yang bekuasa atau yang dekat dengan penguasa memiliki kepekaan, kepedulian dan berbelarasa terhadap para seniman nya.

Tatkala idealisme seniman luntur, hanyut untuk memenuhi pasar, selera kaum berduit, selera para kolekdol (mengkoleksi dan juga dodolan/ berjualan) maka cepat atau lambat seni akan menguap.

Manusia tanpa seni tidak indah, tanpa makna, mungkin akan menjadi rutinitas menunggu saat mati saja. Seni itu memberi nyawa sesuatu untuk bisa hidup dan mencerahkan. Kecerdasan suatu bangsa salah stunya ditampilkan dari seni dan kesenian serta dari para seniman nya.

Karya mereka perlu dimaknai, dikemas dan dimarketingkan. Seniman dan karyanya akan terus abadi hidup tumbuh dan berkembang. Para seniman tetap mampu hidup dengan idealismenya tanpa harus hanyut dalam pasar atau mengemis kepada kaum beruang yang hanya menjadi tengkulak dan penipunya.[Penulis- Cryshnanda Dwilaksana]

BEKASI TOP