
POSBEKASI.com | Oleh: H. Syharir, SE, M.I.Pol. (Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat).
MUSIM pancaroba ekstrem saat ini, Jawa Barat berada dalam status darurat lingkungan yang sangat mengkhawatirkan. Kombinasi cuaca panas yang terik dan kering, angin kencang yang berubah-ubah arah, serta curah hujan yang belum merata telah mengubah bentang alam kita menjadi ladang kering yang sangat rentan. Kondisi ini membuat setiap percikan api kecil berpotensi berubah menjadi lautan api yang meluas dalam hitungan menit.
Sebagai wakil rakyat di DPRD Provinsi Jawa Barat, saya mengeluarkan peringatan keras sekaligus seruan siaga kepada seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan lagi sekadar potensi, melainkan krisis nyata yang sedang melanda bumi Pasundan.
Berdasarkan data komprehensif penanggulangan bencana hingga September 2026, situasinya sudah pada tingkat mengkhawatirkan: sebanyak 264 kejadian karhutla telah melanda Jawa Barat dengan total luas lahan terbakar mencapai 416,08 hektare yang tersebar di 21 kabupaten/kota, 137 kecamatan, serta 252 desa/kelurahan.
Gelombang karhutla ini didominasi oleh wilayah Kabupaten Sumedang dengan 64 kejadian (luas terdampak mencapai 96,69 hektare), disusul Kabupaten Ciamis (34 kejadian), Kabupaten Bandung (22 kejadian), Kabupaten Subang (20 kejadian), serta Kabupaten Majalengka (18 kejadian), ditambah wilayah terdampak lainnya seperti Sukabumi, Kuningan, Cirebon, hingga Pangandaran.
Belum cukup sampai di situ, krisis ini diperparah oleh insiden besar di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Blok Cileutik, Kabupaten Kuningan, yang membakar kurang lebih 40 hektare lahan pada awal September 2026. Meskipun tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, TNGC, dan masyarakat telah berjibaku melakukan pemadaman, penyekatan, dan pendinginan hingga titik api berhasil dikendalikan, ancaman susulan di musim pancaroba ini tetap mengintai.
Di sisi lain, dampak kekeringan akibat cuaca ekstrem juga telah meluas ke 205 kecamatan, memukul 215.424 kepala keluarga, yang direspon cepat melalui penyaluran 17,69 juta liter air bersih oleh BPBD Jabar bersama BNPB.
Keseriusan dalam menghadapi ancaman karhutla ini juga menjadi atensi penuh tingkat nasional. Presiden Prabowo Subianto turun tangan memantau langsung penanganan karhutla yang mengepung berbagai wilayah, seperti saat Presiden tiba di Pangkalan TNI AU Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, dan langsung memimpin rapat terbatas bersama jajaran menteri, pimpinan lembaga, serta pemerintah daerah pada Sabtu (22/8/2026).
Presiden menegaskan pentingnya melihat fakta lapangan secara presisi untuk menentukan langkah penanggulangan yang cepat dan terkoordinasi. “Saya datang untuk melihat keadaan setempat yang nyata. Sekarang saya minta siapa yang bisa kasih saya presentasi tentang situasi,” tegas Presiden Prabowo.
Ketegasan tingkat pusat ini harus kita terjemahkan pula di daerah melalui kesiapsiagaan total.
Pemerintah pusat melalui BNPB dan BPBD Provinsi Jawa Barat terus memperkuat koordinasi lintas sektor, meski di lapangan kita masih dihadapkan pada kebutuhan mendesak berupa tambahan personel penanganan, peralatan pemadaman karhutla yang memadai, serta dukungan logistik yang berkelanjutan. Namun, perlu saya garis bawahi: sehebat apa pun kesiapan aparat dan pemerintah, penanggulangan ini tidak akan efektif tanpa disiplin total dari masyarakat.
Oleh karena itu, di tengah hantaman cuaca pancaroba yang ekstrem ini, saya instruksikan kepada seluruh masyarakat Jawa Barat untuk memegang teguh tiga hal mutlak:
1. JANGAN SEKALI-KALI membuka lahan pertanian, perkebunan, atau membersihkan pekarangan dengan cara membakar.
2. HENTIKAN KEBIASAAN BURUK membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan sisa pembakaran sekecil apa pun di area terbuka yang kering.
3. TINGKATKAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN dengan mengawasi aktivitas mencurigakan dan segera laporkan kepada aparat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau BPBD terdekat jika melihat tanda-tanda api.
Satu api kecil di musim pancaroba ini adalah awal dari bencana besar yang bisa merenggut ruang hidup, sumber air, dan keselamatan kita bersama. Mari jaga hutan dan lahan Jawa Barat sebagai titipan anak cucu kita. Keselamatan alam adalah keselamatan kita semua.**

