Posbekasi.com

Aplikasi MIA: Solusi Digital Percepat Pengiriman Tenaga Kerja Terampil ke Luar Negeri

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, SE, M.Pol (ketiga dari kama), bersama Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Jabar, Dr. Rina Parlina, SIP, MM, Sekjen APJATI, Kausar Nefi Tanjung, Direktur Utama MIA, Jackson dan Perwakilan perusahaan Investasi sektor pendidikan dan teknologi dari MIA, Ando, dalam acara sosialiasi Peluang Job ke Luar Negeri dengan kepala sekolah SMK swasta Kota dan Kabupaten Bekasi, se-Wilayah III Jawa Barat, di Aula Lantai 2 Gedung Cabang Dinas Pendidikan (CADISDIK) Wilayah III Jawa Barat, Jl. Raya Teuku Umar No. 1 Desa Gandasari Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Selasa (13/1/2026). PosBekasi.com / Riki

BEKASI KABUPATEN, POSBEKASI.com – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Gerindra, H. Syahrir, S.E., M.I.Pol, menyatakan dukungan penuh terhadap peluncuran aplikasi Migrant Indonesia Assistant (MIA). Platform berbasis Artificial Intelligence (AI) ini dinilai sebagai instrumen vital untuk mempercepat pengiriman tenaga kerja terampil (skill worker) asal Jawa Barat ke pasar internasional, sekaligus merealisasikan komitmen global Presiden Prabowo Subianto.

“Sebagai anggota dewan saya mendukung platform ini, yang secara langsung membantu program Pak Prabowo untuk mengirim pekerja terlatih ke luar negeri. Semoga dengan aplikasi ini bisa mempercepat implementasinya,” tegas H. Syahrir di hadapan ratusan siswa SMK saat melakukan sosialisasi di Bekasi, beberapa waktu lalu.

Dukungan ini didasari atas tingginya permintaan tenaga kerja dari Eropa dan negara-negara lain yang selama ini masih terkendala hambatan implementasi di lapangan. MIA atau Migrant Intelligent Architecture hadir untuk memangkas birokrasi, memberantas praktik percaloan, penipuan, hingga pencegahan penelantaran Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Dengan aplikasi ini tidak ada penipuan, misalnya dijanjikan kerja di restoran ternyata dibawa ke perkebunan. Tidak ada lagi. Juga tidak ada penahanan ijazah dan penelantaran,” ungkap penggagas MIA, Ando Jamal, yang juga pakar investasi regional.

Selain aspek keamanan, keunggulan utama MIA terletak pada integrasi layanan keuangan. Aplikasi ini menyediakan dana talangan bagi pekerja yang telah lulus seleksi untuk mengurus dokumen seperti paspor dan tiket keberangkatan. Hal ini memecahkan masalah klasik calon PMI yang seringkali terkendala modal awal sebelum berangkat.

“Pekerja Migran yang sudah lolos seleksi tak perlu mencari modal buat bikin paspor, tiket pesawat, bekal di jalan, dan lain-lain. Ada dana disiapkan, yang nantinya dipotong bulanan dari gajinya lewat aplikasi,” tambah Ando yang memiliki pengalaman 40 tahun sebagai praktisi pekerja migran.

Sistem digital ini juga mempermudah proses remitansi atau pengiriman uang ke keluarga di kampung halaman dengan biaya yang lebih murah dan transparan. Inisiatif ini bahkan mendapat sambutan positif dari politisi Malaysia, Mohd Fakhrulrazi (PKR), sebagai solusi mengatasi masalah pekerja migran terlantar di negara tujuan.

“Misalnya pekerja dapat gaji Rp10 juta, dipotong cicilan dokumen dan tiket Rp1 juta, lalu transfer buat keluarga Rp2,5 juta, sisanya dia pegang. Itu semua bisa diatur di platform MIA,” pungkas Ando mengenai efisiensi sistem tata kelola keuangan pekerja.

Dengan hadirnya MIA di Google Play dan App Store, para pemberi kerja (employer) di luar negeri kini dapat melihat kualifikasi pekerja secara langsung. Langkah ini diharapkan menjadikan Jawa Barat sebagai kantong PMI terbesar yang lebih profesional, legal, dan terlindungi secara hukum. [amh]

BEKASI TOP