
POSBEKASI.COM | BANDUNG – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi membuka akses bagi masyarakat luas untuk melihat langsung dapur produksi pesawat terbang nasional melalui program “Edutainment Dirgantara Indonesia”. Destinasi wisata edukasi unik yang berlokasi di kawasan pabrik PTDI, Bandung ini, memungkinkan wisatawan menyaksikan proses manufaktur pesawat hingga deretan koleksi alutsista udara kebanggaan bangsa dari balik hanggar produksi.
“Lewat program ini, kami ingin membuka akses masyarakat untuk mengenal lebih dekat proses produksi pesawat dan berbagai produk dirgantara buatan anak bangsa. Selama ini kawasan ini relatif tertutup untuk umum, sehingga Edutainment Dirgantara menjadi jembatan antara industri strategis dan masyarakat,” ujar Humas PTDI, Kerry Apriawan, dikutip dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).
Dalam tur berdurasi 45 menit ini, pengunjung akan diajak berkeliling area pabrik menggunakan bus ikonik Bandung, Bandros. Perjalanan didampingi oleh pemandu dari kalangan karyawan PTDI yang memberikan penjelasan mendalam mengenai produk-produk legendaris seperti pesawat N250, NC212i, CN235, hingga pesawat terbaru N219 Nurtanio.
Tak hanya pesawat berawak, pengunjung juga dapat melihat wahana tanpa awak (drone) seperti PTTA Wulung dan UAV Elang Hitam.
“Kami ingin menumbuhkan kebanggaan bahwa pesawat-pesawat ini bukan hanya dipakai di dalam negeri, tapi juga diekspor dan digunakan di berbagai negara,” ungkap Kerry menambahkan.
Selain melihat fisik pesawat, wisatawan diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam mock up pesawat di gedung khusus.
Di area tersebut, pengunjung bebas berswafoto sembari merasakan suasana kabin dan mempelajari komponen pesawat serta roket buatan anak perusahaan PTDI.
Pengalaman semakin lengkap dengan adanya DI Runway 29 Cafe, di mana pengunjung bisa bersantai sambil melihat langsung aktivitas lepas landas dan mendarat pesawat komersial di Bandara Husein Sastranegara.
“Aktivitas ini menjadi favorit pengunjung, terutama bagi pecinta dunia aviasi dan keluarga yang datang bersama anak-anak untuk menikmati suasana bandara sambil mendengarkan penjelasan pemandu,” jelas pihak pengelola dalam keterangannya.
Program ini juga menyasar sektor pendidikan, khususnya pelajar SMA dan SMK di Jawa Barat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Para siswa diberikan akses khusus setiap hari Jumat tanpa dipungut biaya untuk melihat tahapan produksi secara teknis, mulai dari pengolahan material hingga perakitan akhir.
Hal ini diharapkan mampu memicu minat generasi muda untuk berkarier di bidang sains, teknologi, dan industri strategis nasional.
“PTDI berharap kunjungan ini dapat memantik minat pelajar untuk menekuni dunia sains dan teknologi, sekaligus memperkenalkan peluang karier di industri strategis nasional,” tulis pernyataan resmi perusahaan.
Bagi masyarakat umum yang ingin berkunjung, eduwisata ini dibuka setiap Sabtu dan Minggu pukul 09.00–16.00 WIB dengan tarif tiket Rp30.000 per orang.
Mengingat tingginya minat masyarakat dan alasan keamanan area obyek vital nasional, jumlah pengunjung dibatasi maksimal 280 orang per hari.
Calon wisatawan sangat disarankan melakukan pembelian tiket secara daring untuk memastikan ketersediaan kuota.
“Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata berbasis pengetahuan, konsep edutainment seperti ini dinilai relevan sebagai sarana pembelajaran di luar kelas sekaligus bentuk diplomasi kebanggaan teknologi Indonesia,” tutup pernyataan tersebut. [raj]

