Bekasi Online

DERAJAT MULIA DENGAN ILMU IKHLAS

KH.Abdullah Gymnastiar

POSBEKASI.COM | BEKASI – Setiap saat kita mendapat limpahan karunia dari Allah SWT. Tanpa kita minta, karunia Allah datang setiap hari, setiap saat, setiap detik, setiap waktu yang tak mampu kita perhatikan detailnya karena kelemahan kita selaku manusia. Bahkan, seluruh makhluk tanpa terkecuali mendapatkan karunia-Nya.

Kita sedang maksiat atau sedang taat, karunia Allah tetap terlimpah kepada kita. Kita sedang tidur atau terjaga, karunia Allah tidak pernah berhenti mengalir kepada kita. Sungguh, Allah SWT. melimpahkan karunia-Nya yang tiada terhingga kepada kita dalam setiap keadaan

Allah SWT berfirman, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Hud [11]:6)

Saudaraku, Allah melimpahkan karunia kepada seluruh makhluk setiap saat. Pada setiap bilangan waktu terkecil pasti ada karunia Allah. Oleh karenanya, kita ini tidak pernah kekurangan karunia, tidak pernah kekurangan rezeki yang kurang dari kita adalah rasa syukur

Padahal syukur adalah kunci. Kita merasa kurang rezeki sebenarnya karena kurang syukur. Hawa nafsu terus-menerus menuntut pemuasan, padahal kepuasan tak pernah ada ujungnya Sedangkan syukur adalah kunci orang beriman dalam menyikapi hidup di dunia ini. Oleh sebab itu, orang beriman senantiasa merasa cukup dengan karunia yang Allah beri Syukur menjadi kunci hidup tenang dan tercukupi. Sedangkan kufur adalah gerbang menuju hidup yang nelangsa, selalu merasa tak cukup dan gelisah, bahkan dalam keadaan serba ada sekalipun. Manusia menderita bukan karena kurang karunia, tapi manusia menderita karena kurang syukur.

Mari kita bayangkan, karunia Allah yang sudah sebegini berlimpah akan terus bertambah kepada kita jika kita bersyukur. Namun sebaliknya, jika kita kufur maka segala karunia yang ada di sekeliling kita bisa menjadi sumber malapetaka dan kesengsaraan dalam hidup kita. Syukur adalah magnet, penarik karunia yang belum datang. Sedangkan kufur adalah perusak atas karunia yang sudah ada pada diri kita. Na’udzubillahi mindzalik.

Ada tiga syarat supaya kita menjadi ahli syukur. Pertama, hati benar-benar yakin bahwa hanya Allah Yang Kuasa melimpahkan segala nikmat dan karunia. Allah SWT. berfirman,

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl [16]: 53)

Allah SWT. adalah sumber rezeki. Sedangkan jalannya bisa dari banyak jalan, bisa dari teman, orang tua, kerabat, bahkan dari mana saja yang tak disangka-sangka.

Kedua, selalu memuji Allah dalam setiap keadaan. Saat sehat, Alhamdulillah. Saat sakit, Alhamdulillah. Kenapa? Karena apa yang menjadi ketentuan Allah itu tidak ada yang jelek. Pada penilaian manusia, sehat rasanya lebih baik dari sakit. Padahal jika kita tafakuri lagi, di balik sakit ada pengguguran dosa, di balik sakit ada pahala yang melimpah, di balik sakit ada doa mustajab yang boleh jadi tidak kita dapatkan ketika sehat.

Demikian juga saat untung, Alham dulilah. Saat rugi juga Alhamdulillah. Mengapa? Karena boleh jadi Allah uji kita dengan kerugian supaya kita tidak terbuai dan bergantung pada materi, supaya kita tetap berpegang kepada Allah SWT. Ar Razzaq.

Ketiga, punya kebiasaan berterima kasih kepada sesama manusia. Orang yang pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang pandai berterima kasih kepada sesamanya yang menjadi jalan bagi datangnya karunia Allah SWT. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak disebut bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Berterimakasihlah kepada orang tua yang sekian lama merawat dan mendidik kita. Berterimakasihlah kepada guru yang telah mengajarkan kita ilmu. Berterimakasihlah kepada siapa saja yang telah menjadi jalan kebaikan bagi kita sekecil apa pun. Tidak lupa, balaslah kebaikan mereka dengan hal yang setimpal atau lebih baik.

Rasulullah Saw. mengajarkan sebuah doa supaya kita menjadi hamba yang ahli zikir dan syukur. Doa tersebut berbunyi, “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibadatik. (Ya Allah, bimbinglah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada Mu).” (HR. An Nasa’i dan Ahmad)

Semoga kita termasuk orang orang yang pandai bersyukur sehingga memperoleh derajat mulia di sisi Allah Ta’ala.

Sumber: Buku 4 Ilmu Meraih Derajat Mulia Disisi Allah

KH. Abdullah Gymnastiar

BEKASI TOP