GRUNDELAN GURU

Ilustrasi

POSBEKASI.COM – Oleh : Chryshnanda Dwilaksana

GURU sebagai pengajar pemberi ilmu pengantar untuk menjalani hidup dalam peradaban. Guru memiliki banyak kewajiban selain itu juga dituntut untuk jadi panutan. Tatkala guru terlantar atau merasa di terlantarkan atau di anak tirikan maka akan ada gerundelan.

Gerundelan ini sebenarnya perlawanan bagi yang tidak memiliki kekuatan namun penuh rasa ketakutan. Nggerundel itu bagian dari nguro roso membuka ruang menumpahkan segala unek unek dan ketidakpuasan namun tetap dalam koridor kesopanan. Karena guru memang menjadi panutan.

Guru di sini tidak sebatas pada pendidikan SD, SMP, SMA, namun di perguruan tinggi pun  peran dan fungsi guru tetap sama walau dalam nama yang berbeda. Guru tetaplah guru walau para murad sudah terbang mengangkasa ke mana mana. Namun ajaran dan pilar pilarnya tetap tertancap dalam hati sanubari yang dibawa ke mana mana oleh para murid muridnya.

Guru dituntut menjadi motivator namun faktanya gurunya sering demotivasi lalu apa yang disampaikan malah menjadi semacam curhat atau ngudo roso. Memang guru juga manusia punya hati. Namun tatkala birokrasi punya kebijakkan semua harus patuh walau tidak dilakukan aba aba; “para guru siap gerak, patuh aturan gerak”.

Variasi menjadi guru memang beraneka ragam menghadapi murid menghadapi rumitnya birokrasi menghadapi tuntutan hidup dan banyak lagi. Guru seringkali hanya menjadi pelengkap penderita. Jam ngajar ngajar lah dan setelah itu memberi tugas selesailah. Memandaikan itu mentransformasi, membuat beradab, membuat sadar bertanggung jawab dan disiplin.

Menjadi guru juga ada sumber daya yang diperebutkan ada murid ada bimbingan ada jam pelajaran ada materi pembelajaran ada honor dan banyak lainnya. Ketika ada sesuatu yang buntu dalam komunikasi akan menjadi konflik saling intimidasi saling mendiskriminasi. Bahkan yang mampu dekat dengan kekuasaan akan menjadi panglimanya yang termarjinalkan minder dan masa bodoh. Para guru bukan mudah dalam menjalani kehidupannya, mengajar bukan asal menyampaikan namun dituntut ada sesuatu yang diajarkan atau di sampaikan.

Tatkala guru masih dibebani banyak hal maka sadar atau tidak akan berdampak pada pengajarannya. Guru yang baik akan tetap pada relnya ia mungkin tergerus namun spiritnya sama. Tetap pada pendirian dan passionnya bagi mencerdaskan anak didiknya.

Passion guru seringkali antara yang ideal dengan yang aktual berbeda bahkan bertentangan. Ada oknum yang justru mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mentarget sesuatu sebagai imbalan atas jasa nilai yang diberikan. Kepura-puraan dalam pembelajaran pun menjadikan lembaga pendidikan sebagai pasar jual beli nilai ranking bahkan gelar.

Yang menyedihkan lagi, bagi yang tidak mampu mengikuti pasar gelap tadi maka akan disingkirkan dianggap slilit naik sang guru maupun muridnya. Yang ingin benar membangun malah dikatakan munafik atau sok sokan. Dicibir dihina hina. Yang melakukan penghianatan atas passion pendidikan malah dihormati dipuji puji bahkan selalu terhormat dan dijadikan rujukan.

Melawan memang bukan satu pilihan. Karena kaum kebanyakkan sudah mengamini menjadikan sesuatu mahfum adanya. Seakan sekat norma etika moral dan nilai menjadi sama. Apa yang dilakukan benar bisa salah dan yang salah diamini sebagai kebenaran. Pendidikan dan lembaga pendidikan bukanlah karena jalan bukan ajang jualan gelar nilai apalagi ranking. Kebanggaan pendidikan baik guru murid dan lembaganya adalah adanya transformasi. Tatkala transformasi tiada maka semua akan sia sia belaka.

Manusia kembali ke khitahnya untuk mampu memanusiakan sesamanya bukan malah sebaliknya. Hanya pendidikanlah yang mampu membalikannya karena transformasi nilai nila akan menjadi passionnya. Homo homini salus manusia menjadi penyelamat sesamanya bukan homo homini lupus manusia menjadi pemangsa sesamanya.**

Pin It

Comments are closed.