Bekasi Online

Tragedi Supir Tembak, Salah Siapa?

Bus Sindoro Satriamas H 1732 FG terguling di Jalan Tol Sragen-Solo KM 525.200 Jalur B mengkibatkan korban pada Sabtu 1 Juni 2019 pukul 10.00 WIB.[NET]
POSBEKASI.COM – Kejadian kecelakaan angkutan umum barang ataupun orang seringkali akibat pengemudi yang menyerahkan kemudinya kepada kernet atau orang lain yang tanpa kompetensi mengemudi. Faktor sebagai alasan pembenar dilepas tangan oleh pengusaha seolah-olah masalah pengemudi semata.

Kejadian kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada Sabtu 1 Juni 2019 pukul 10.00 WIB, Bus Sindoro Satriamas Nopol H 1732 FG di Jalan Tol Sragen-Solo KM 525.200 Jalur B, tujuan Semarang, Jawa Tengah dari Magetan, Jawa Timur.

Kronologi kejadian, semula Bus Sindoro Satriamas melaju dari timur ke barat. Setelah mendekati tempat kejadian perkara, pengemudi mengantuk lalu bus berjalan ke kiri keluar lajur dan akhirnya terguling.

Dari hasil investigasi penyidik kepolisian, diketahui bahwa kernet bus Sindoro Satriamas yang mengemudikan menggantikan pengemudi yang sebenarnya.

Kejadian di atas, satu contoh kejadian supir tembak yang membahayakan keselamatan dirinya maupun pengguna jalan lainnya karena dapat tanpa kompetensi yang memadai. Tentu bukan tanggung jawab pengemudi semata namun juga bagi pengusahanya.

Beberapa hal yang wajib diketahui dan ditaati bagi para pengusaha angkutan umum sebagai berikut :

  1. Memiliki sistem manajemen angkutan umum yang memenuhi standar-standar keselamatan yang memdukung program road safety.
  2. Merekrut, mentraining sumber daya manusianya yang baik sebagai petugas administrasi, pengawas lapangan, pemgemudi maupun mekanik atau bengkel yang memiliki standar untuk keselamatan
  3. Memiliki SOP dan mengimplementasikannya dengan baik dan benar
  4. Pihak korporasi sampai sejauh mana peduli terhadap keselamatan untuk melihat dan menetapkan pertanggungjawaban atas masalah-masalah yang ditimbulkan angkutan umum miliknya. Dari administrasi pemenuhan kewajiban pajak asuransi perawatan dan sistem operasionalnya
  5. Kualitas pengemudi agar menjadi perhatian utama dan tidak lagi terabaikan dengan berbagai pembenaran
  6. Kualitas kendaraan dari body transmisi ban mesin yang layak operasional.
  7. Daya muat kendaraan ada standar maksimal dan ada sanksi bila dilanggar.
  8. Sistem pengawasan dsn standar tindakan bila ada penyimpangan dari SOP.
  9. Penerapan etika bisnis agar usaha yang dilakukan tetap memgutamakan keselamatan kemanusiaan ikut merawat fasilitas umum dan infra struktur pendukung lainya.

Setidaknya, hal di atas dipahami dan diimplementasikan dalam operasional angkutan umumnya. Tidak ada anak buah yang salah.

Tatkala kesempatan melanggar peluang-peluang menyimpang begitu besar maka secara adminstrasi, hukum, fungsional dan secara moral pengusaha ikut bertanggung jawab.

Masalah ini bukan masalah benar dan salah, bukan sebagai wahana debat kusir melainkan sebagai bagian dari kita semua, peka, peduli dan bertanggung jawab atas road safety dan implementasinya.

Stop pelanggaran!

Stop kecelakaan!

Keselamatan untuk kemanusiaan!

 

[Brigjen Pol Chrysnanda Dwilaksana – Dirkamsel Korlantas Polri]

BEKASI TOP