Bekasi Online

Kapolri: Pasca Hancurnya Kekuatan ISIS Terjadi Pergeseran Modus dan Motif Terorisme

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada seminar internasional “Counter – terrorism: Contemporary Strategies and Future Architecture” yang diselenggarakan Puskamnas Ubahara Raya, di Kampus II Ubahara Raya, Kota Bekasi, Kamis 27 September 2018.[POB1]
KOTA BEKASI |POSBEKASI.COM – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan perkembangan dan dinamika terorisme kontemporer terutama pasca hancurnya kekuatan ISIS di Irak-Suriah terjadi pergeseran modus dan motif.

“Halnya rangkaian serangan terorisme di Surabaya pada 12-14 Mei lalu, dengan bom bunuh diri di pos penjagaan karena satu penjaga sudah mewakili thogut sebagai tiket surga. Sama halnya tidak perlu lagi membawa dan meledakn bom ke dalam Gereja, cukup digerbang masuk saja karena itupun sudah masuk surga, ” kata Tito Karnavian dalam seminar internasional” “Counter – terrorism: Contemporary Strategies and Future Architecture” yang diselenggarakan Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya di Kampus II, Kota Bekasi, Kamis 27 September 2018.

Dengan perubahan situasi tersebut lanjut Kapolri diperlukan strategi yang adaptif dalam menanggulangi kejahatan terorisme (kontra terorisme).

“Penanggulangan kejahatan terorisme dan strategi kontra terorisme harus dinamis mengikuti perkembangan terorisme itu sendiri, masa depan model penanganan terorisme itu ditentukan sejauhmana dinamika perkembangan terorisme, ” kata jenderal bintang empat itu.

Sejalan dengan perkembangan gerakan terorisme lanjut mamtan Kadensus 88 Anti Teror Mabes Polri, diperlukan partisipasi seluruh pemamgku kepentingan tidak terkecuali perguruan tinggi seperti yang dilakukan Puskamnas Universitas Bhayangkara.

” Yang terpenting lagi, memiliki komitmen untuk mengawal dan menangkis isu-isu terorisme dan melakukan kajian kontra terorisme, ” kata Tito.

Seminar yang dibuka langsung Kepala Puskamnas Ubahara Raya Prof Kiki Sulistyo dan Rektor Ubahara Raya Prof Bambang Karsono, diikuti para pakar dan ahku terorisme dari Australia, Philipina, Singapura, civitas akademik Ubahara Raya dan masyarakat.[POB1]

BEKASI TOP