Seni Bebas Tanpa Aturan

Penulis dan pencinta seni lukis.[DOK]

POSBEKASI.COM – Seni universal siapa saja, di mana saja, apa saja, kapan saja bisa. Apakah berilmu, berpendidikan, formal, atau tidak semua ok, boleh berkesenian boleh menikmati seni bahkan boleh menjadi seniman.

Beda dengan ilmu-ilmu lainya yang sering kali ekslusif, misalanya pada kajian transportasi. Bagi kalangan cendekiawan transportasi sering terlontar diskriminasi “dia atau mereka bukan orang transport”.  Demikian halnya dengan ilmu hukum juga mungkin.

Suatu ketika saya diskusi dengan Mbah Noto yang memperkenalkan ke Ibu Astuti perupa yang bukan dari sekolah seni. Mbah Noto mengatakan, “Bu Astuti itu otididak”.

Spontan saya bertanya: “Mbah otodidak itu apa? Apa sama belajar masak tetapi jadi ahli hukum? Mbah Noto spontan teriak: “Wah ngenyek ki…”.

Dibidang seni semua bebas bahkan orang gilapun berkesenian dalam wadah brut art. Seni seringkali hanya diajarkan penghafalan nama-nama senimanya namun tidak pernah diajarkan apa hebatnya, apa seninya dari karya itu.

Mungkin guru-guru juga produk belajar menghafal sehingga tatkala menjadi guru ia mengajarkan demikian. Tanpa sadar kreatif kita juga dimatikan guru-guru SD.

Coba saja tatkala ada perintah atau inisiatif menggambar pemandangan, apa yang digambar? Gunung, jalan lurus, pohon kelapa, sawah, dan blekok terbang.

Seni memang bukan gelar ijasah atau apalah. Seni adalah kecintaan, kebanggaan, keiklasan, keberanian berkarya. Seni tidak harus indah, tidak harus mewah, apa saja yang mengena di hati dan menjadi ikon kemanusiaan lakukanlah.

Seni tatkala dibatasi dengan berbagai konsep teori malah akhirnya takut berkarya. Saya tidak tahu apa pendidikan seni Jean Michael Basquiat (JMB).  JMB luar biasa hebat berani berkarya dan menghasilkan banyak karya.

Nasib baik dibidang seni menghadirkan Andi  (baca pelopor pop art) yang memberi makna bahkan memarketingkan dengan cara-caranya. Seni sering terpuruk karena yang tidak berkesenian hanya mencibir, mencela, bahkan tidak berani atau mahal memuji.

Apalagi yang bergelar akademik seni, seniman terkenal, kolektor pemilik galeri top, sangat jarang mengapresiasi. Hampir semua yang dimajukan sebatas mendatangkan fulus atau tidak. Mungkin yang merasa saya kentuti marah besar. Ya itulah harapan saya, saudara tersengat dan mau merubah.

Ribuan seniman dan jutaan karya seni keleleran bahkan senimanya tak jarang antara hidup dan mati, terjepit sulitnya hidup sebagai seniman.

Jiwa tanpa raga apalah gunanya, menangkap saja tidak mampu apalagi berkarya. Wadah bagi hidup tumbuh dan berkembangnya seni dan para seniman ada penampungannya. Kualitas bagus, buruk, ini nomer sekian yang penting berani dan mampu menunjukkan karyanya.

Tak jarang seniman mengatakan tak punya waktu untuk berkarya. Sedih memang karena menghasilkan karya seni yang memerlukan energi besar, kadang tidak sebanding dengan apa yang diharapkan. Namun itulah seni.

Para pejuang, para pahlawanya punya masa dan orangnya. Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Seni ini refleksi hati dan jiwa manusia dalam memenuhi kebutuhab adab.

Maka tatkala membangun peradaban tanpa seni sebenarnya bulshit ngobos dan dapat dipastikan seremonialan. Seni bukan semata-mata demi indah laku dipasaran atau ada pembeli yang gila-gilaan, namun seni ada yang membahas sehingga dikenal dan karyanya menjadi perbincangan.

Seni itu universal, bebas tanpa aturan? Menurut saya ya. Seperti apa kata suhu Tino Sidin, selalu memberi pujian, “ya bagus”.

Entah berapa puluh ribu bahkan ratusan ribu anak-anak Indnesia mencintai seni, cukup dengan satu ungkapan “ya bagus”.

Seni bisa dilakukan siapa saja, mau yang berpendidikan seni di institut seni dunia sampai peracik jamu dan pengaduk semenpun punya hak dan kesempatan yang sama tanpa harus minder. Bagus jelek, laku atau tidak, yang harus ada ahli seni yang terhina taatkala tukang becak berseni.[Chryshnanda Dwilaksana]

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *