Bekasi Online

Kapolsek Setu Hadiri Mediasi Muspika Bahas Batas Kali Kembang

Mediasi Muspika membahas batas Kali Kembang di Kecamatan Setu, Selasa 21 Februari 2017.[RIK]
Mediasi Muspika membahas batas Kali Kembang di Kecamatan Setu, Selasa 21 Februari 2017.[RIK]
POSBEKASI.COM – Kapolsek Setu AKP Agus Rohmat, hadiri pertemuan pra Muspikan Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi dan Muspika Mutika Jaya Kota Bekasi dengan pengembang terkait Kali Kembang yang semakin mengkhawatirkan menimbulkan bencana pada dua daera perbatasan tersebut.

“Musyawarah ini diharapkan dapat mengedepankan kepentingan umum atau sosial demi kemaslahatan masyarakat yang berada di pinggir Kali Kembang,” kata Kapolsek pada pertemuan Muspika untuk mediasi terkait batas wilayah di Aula Kecamatan Setu, Selasa 21 Februari 2017.

Kali Kembang merupakan batas wilayah Kabupaten dan Kota Bekasi itu telah berdiri berbagai perumahan seperti Grand Residence, Mustika Grande (wilayah Setu) dan Kota Baru dan Perum Mutiara Colombus (wilayah Cimuning Mustika Jaya).

Dihadiri Camat Setu M Nabrih B Saend, Danramil diwakili Peltu Sunarto, Lurah Cimuning Teguh Wicaksono, Kades Burangkeng Nemin bin H Sain, Heri Hendriawan PT. ISPI, Kasirin ISPI, para Ketua RW14 Patimura Burangkeng.

Dalam kesempatan tersebut Lurah Cimuning Teguh Wijaksono, meminta masing-masing pengembang membuat batas dan tanggul Kali Kembang.

“Untuk menyelesaikan persoalan ini masing-masing pengembang dipinggir Kali kembang diminta membuat tanggul dna batas,” katanya.

Sementara, Kades Nemin mengatakan, ada 5 saluran air yang sudah diuruk pengembang PT. ISPI sehingga Kali Cisalak yang mengalir ke Kali Kembang tersendat.

“Akibatnya, air menggenangi Grand Residence Cluster Patimura, Tirtayasa RW14 dan RW15, Desa Cijengkol, tuntutan paling berat adalah jadi Kades daripada Lurah kalau Lurah ganti atau pindah sudah beres,” kata Kades Nemin.

Sementara warga Grand Residence diwakili Ketu RW14, Edi, meminta pengembalian Kali Kembang hingga tidak membanjiri lokasi perumahan mereka.

Semnatara dari Mutiara Colombia, Hery mengatakan setplain sudah dibuat dan saluran air tidak ditutup.

“Saya membangun wilayah tidak mencari masalah dan tidak membuat dampak penghuni perumahan dengan warga yang baru. Kami akan dibuat saluran yang lebar dan tanggul, kalau jembatan Kali Kembang sempit tidak menampung atau battelnat air yang mengalir ke Danau Cibereum tersendat karena drainase aliran air Cisalak-Cinyosog kurang lancar. Untuk izin sudah ada amdal bahwa tanah tersebut asalnya Danau,” akunya.

Sementara Bernard dari Grand Residence mengaku sudah membuat kompas 300 liter perdetik tapi pihak pengembang Mustika Grande tidak peduli.

“Akhirnya yang membuat tanggul dari Grand Residence, seperti sekarang ini ISPI membangun perumahan baru sudah level 2 dan adi Mustika Grande jilid 2,” katanya.

Bernard meminta pihak Propinsi Jawa Barat turun tangan untuk memecah persoalan batas saluran air kedua wilayah Kota dan Kabupaten itu.

Sementara, rencana Pemprov Jabar segera membangun pelebaran dan meninggikan jembatan Kali Kembang dan dibuat pembatas wilayah antara Kota dn kabupaten.[RIK]

BEKASI TOP